Seringkali
ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan
saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu.
dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan
alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya
baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
Dan beberapa
hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa
kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah
sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di
suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang
kampung.
Minggu
malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak
menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan
pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan.
Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking,
terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak
pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih
bingung dengan masalah pembayaran via atm).
Saya
memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah
kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm
baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan
langsung mengajak saya ke atm.
Kami
berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam
perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar,
ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan
perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam
fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu
juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya
menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir
memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah
tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran,
kami beranjak pulang.
Hujan belum
reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru
mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah
sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam
perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh
karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan
jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah
menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh
berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya
meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah,
saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya
yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi
waktu sujud dan duduk kaki saya perih.
Saya
merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti
tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya,
tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti.
Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu
juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan
mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai
dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda
solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau
handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah
malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.
Saat tulisan
ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara kakek saya yang sakit sudah meninggal .
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.