Thursday, June 6, 2013

Ayo, Jangan Ditunda



Seringkali ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu. dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
 
Dan beberapa hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang kampung.
Minggu malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan. Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking, terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih bingung dengan masalah pembayaran via atm).

Saya memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan langsung mengajak saya ke atm.
Kami berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar, ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran, kami beranjak pulang.

Hujan belum reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah, saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi waktu sujud dan duduk kaki saya perih.

Saya merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya, tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti. Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.

Saat tulisan ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara  kakek saya yang sakit sudah meninggal . Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.