Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1435H, maafkan lahir batin jikalau ada kesalahan kata-kata yang kiranya menyinggung.
Tadi, sembari menunggu waktu berbuka, bapak 'curhat' kepada kami, betapa kesal hatinya saat semalam (29/6) beliau taraweh dan mengikuti tausiyah di mushola kami tercinta. Apa pasal? Ternyata sang ustad (demi menjaga nama baik tak perlu saya tulis namanya), memberikan ceramah yang agak kelewatan, perihal mati listrik.
Memang pada Minggu, 29 Juni 2014, didaerah rumah kami terjadi pemadaman bergilir sekitar pukul enam sore, atau kira-kira 40 menit sebelum berbuka puasa.
Hal tersebut yang rupanya menggangu sang ustad, beliau mengeluh kenapa PLN seperti seenak jidatnya mematikan listrik dikala hampir berbuka.
(Masalah pedaman bergilir, saya telah lama heran, kapan waktu yang paling pas untuk listrik padam, padam dipagi hari orang mengeluh tak bisa bersiap kerja, padam siang hari, orang mengeluh tak bisa masak, padam sore hari orang juga mengeluh karena tidak bisa menonton siaran tv, padam malam hari pun orang tetap mengeluh karena gelap, panas, baterai gadget melemah dan lain-lain)
Yang membuat bapak sangat marah adalah sang ustad dengan penuh semangat memaki-maki pekerja PLN, ya bapak memang pegawai PLN.
Sang ustad, berkata, bahwa orang-orang PLN kafir karena memadamkan listrik dikala mau berbuka.
Astaghfirullah ...
Saya sendiri sangat terkejut. Bagaimana tidak, seorang ustad bisa dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, dimana letak ilmunya, imannya, tauhidnya, sabarnya, pendeknya, dimana letak ustadnya??
Ilmu agama saya memang tak sedalam ustad, tapi saya tahu bahwa kita tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain dengan sembarangan, apalagi hanya dengan prasangka pribadi.
Bayangkan jika yang kita katakan kafir ternyata seorang muslim yang taat, bukankah ucapan kafir itu akan dikembalikan kepada kita? Astaghfirullah ...
Mungkin kesabaran kita sedang diuji, diuji melalui pemadaman bergilir. Sang ustad pun harusnya mengerti, baru listrik yang padam saja mengeluhnya sudah luar biasa, sudah berani mengkafir-kafirkan orang lain, bagaimana jika mata ini yang padam? Hendak mengeluh bagaimana lagi kita ...
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Semoga Allah SWT, menjadikan kita semua termasuk kedalam golongan manusia yang senantiasa bersabar dan bersyukur, aamiin ...