Friday, July 4, 2014

Malu

Sebutlah saja ia Ikhwan, pemuda baik nan arif berwajah pas pasan yang saya kenal bertahun silam. Tingkah lakunya sopan, tutur katanya halus, prilakunya menawan, otaknya cemerlang dan saat ini bekerja di perusahaan bonafit di Indonesia. Lama sudah saya tak bersua, komunikasi hanya lewat media teks, entah itu sms, whatssap, line, we chat, bbm, email, facebook, dan path.
Setiap berbincang, timbullah satu kekaguman dalam diri saya, ah anak muda ini benar benar mengagumkan. Lama kelamaan perasaan kagum berubah menjadi simpati, semakin lama semakin menjurus kepada perasaan yang lebih. Apalagi ia juga memberi respon sangat positif, ia memberi pertanda 'he much very available', walau berulang kali ia tekankan, ia tak ingin pacaran, ia tak ingin menghabiskan waktu sia-sia hanya untuk cinta yang tak halal, dan saya sepakat.
Ada yang tidak beres dengan hati saya, berhari-hari saya tahan, untuk tidak memikirkannya. Setiap solat, tak lupa saya cantumkan doa, semoga Allah membina perasaan ini dan menjauhkannya dari nafsu. Saya bahkan tak berani menyebut namanya dalam doa (meskipun Allah pasti tahu siapa orangnya), karena saya merasa begitu tak pantas mengucapkannya, siapalah saya ini. Baik, pun tak baik amat. Solat juga kadang masih diulur-ulur. Masih banyak penyakit hati hinggap dalam diri ini, sementara ia, aduh tampilannya saja sudah menyejukkan hati, apalagi kata-katanya selalu baik, postingan-postingannya di media sosial juga selalu yang baik-baik saja, singkatnya, dia ini jenis teman yang selalu berusaha 'bring you closer to Allah',
Saya tak menampik, saya menyukainya. Tak sedikitpun saya ceritakan pada orang lain, bahkan pada ibu saya sendiri. Tak ada yang tahu, hanya Allah lah yang tahu. Meskipun tak disebut, selalu terbersit dalam hati, semoga Allah berkenan menjodohkan kami.
Tapi, hanya pada Allah kah saya bersandar? Saya kira begitu, tak pernah saya sadari, bahwa saya selalu ingin terlihat baik didepannya, terlihat soleha, terlihat 'pantas' disebut muslimah, itu bukan lagi karena Allah. Ah, hati pandai sekali ia berkelit. Yang terucap selalu karena Allah, padahal tidak selalu.
Sampai suatu hari, ketika sedang membaca trending topic di twitter, saya menemukan sebuah akun yang saya kenal betul wajah itu, saya telurusuri halaman akun sang ikhwan pujaan hati, dan alangkah kagetnya saya mendapati ribuan tweet terumbar disana.
Saya hanya terdiam, terpana, terbata, tak sanggup berkata-kata. Berseliweran disana, kata-kata manis, rayuan gombal, kata-kata cinta diobral bebas pada banyak gadis berbeda, teman kerja, artis sampai orang yang tidak dikenal, semakin jauh menelusuri, semakin riuh hati ini.
Ada sepotong kekecewaan, setangkup penyesalan dan sebuncah perasaan malu, sungguh saya malu. Bukan karena sang ikhwan pujaan ternyata pecinta wanita, namun karena hati telah keliru merasa. Beginilah rasanya, karena tak benar-benar berharap hanya pada Allah. Seperti tertampar bolak-balik, seperti Allah sedang menegur 'itu liat, yang kamu demenin saban hari, yang kamu tunggu-tunggu bbm nya sampai lalai ibadah, begitu itu kelakuannya'
Maluuuuuu sekali, kenapa hati berharap pada manusia, begini jadinya, ternyata ia tak seperti yang diharapkan.
Seandainya, ia tak mengumbar tak ingin pacaran, tak ingin khalwat, tak begini tak begitu, tentu tak akan sekecewa ini ...
Tapi siapalah kita ini, manusia yang selalu alpa. Mungkin sang ikhwan sedang khilaf. Semoga Allah meluruskan jalannya.
Seketika itu, hilanglah perasaan didalam hati. Perasaan yang baru sekian bulan terbina, tersusun rapi dalam doa yang tersirat, semuanya hilang, tak berbekas.
Seketika itu saya memohon ampun, karena telah berharap selain kepadaNya, sungguh saya malu, malu sekali pada Allah, karena perasaan yang keliru ini, karena hati yang tak sabar menanti ketetapan Allah, karena sudah berharap pada yang lain ...
Ah, Allah Maha Penyayang, biarlah setelah ini, saya tundukkan pandangan, dan berharap hanya pada Allah, tak perlu ada nama siapapun disebut .., biarlah hati ini, Engkau simpan ya Allah, sampai nanti ketika datang lelaki yang namanya telah Engkau tulis di Lauhul Mahfudz sebagai jodoh pilahanMu membawakannya lagi untuk saya ...
Atas izinmu, ya Rabb ...
Aamiin ya Rabbal Alamiin ...

Wednesday, July 2, 2014

Untuk Pemilu 2014

Salam 5 Jari !! (Rukun Islam bro)

Pemilu tahun ini adalah pemilu kedua saya memilih presiden. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, euforia massa kali ini terasa lebih semarak, bahkan dua even yang datang bersamaan dengan pemilu, yaitu Piala Dunia dan Bulan Ramadhan, tak jua memudarkan hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan ini. Ada dua calon pada pemilu 2014, Bapak Prabowo Subianto berpasangan dengan Bapak Hatta Rajasa, kemudian Bapak Joko Widodo berpasangan dengan Bapak Jusuf Kalla. Keempatnya bukan nama baru diranah politik, tiga dari nama tersebut bahkan sudah wara wiri di bidang pemerintahan.
Saya yang sudah menyadari betapa pentingnya suara saya, memutuskan tidak lagi golput. Untuk memutuskan calon yang akan saya pilih, tentulah saya harus berusaha mencari tahu latar belakang dan track record kedua calon.
Dahsyatnya pemberitaan kedua calon memang harus diakui, baik buruknya kedua calon diumbar-umbar dengan bebas. Barisan pendukung keduanya pun bisa dibilang 'gila-gilaan' dalam menyampaikan dukungan, saya harap fans-fans fanatik itu tidak anarkis apalagi gila jika calonnya tidak terpilih.
Makin semaraknya euforia kali ini karena ramainya para musisi yang ikut memberi dukungan, dan bukan cuma musisi yang terbelah, bahkan media pun ikut-ikut terbelah. Sangat disayangkan, media sekelas Metro TV dan TV One jadi harus jor-joran membela calonnya, keduanya sama saja, sudah tidak netral, jadi agar imbang jika saya menonton Metro TV selama 20 menit maka saya akan menonton TV One selama 20 menit juga, sisanya saya tetap menonton kartun.
Biarlah mereka berkampanye, karena kampanye juga bagian dari politik. Saya sendiri sudah memutuskan akan memilih salah satu calon, tak perlu saya tulis mengingat asas pemilu yang 'luber jurdil' dan karena memang tak wajib. Kepada bapak Prabowo saya menaruh simpati, kepada Bapak Jokowi pun saya menaruh simpati. Yang saya tidak simpati itu pada fans fanatik keduanya yang kalau berkomentar tak pernah mutu, hanya memancing perdebatan dan anti kritik. Sebenarnya jumlahnya sedikit tapi sangat vokal. Saya berfikir, jangan-jangan fans seperti itu akan meminta suaka untuk pindah ke Antartika jika calonnya tidak terpilih.
Kepada keduanya saya juga menaruh harapan, siapapun yang terpilih nanti, kiranya dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju, bermartabat, serta bebas hutang dan intimidasi negara lain. Prabowo yang terkenal karena kata-kata lantangnya jika berorasi dan Jokowi yang terenal karena blusukannya, ketahuilah bapak-bapak, jika sekedar teriak-teriak menyatukan massa, tukang obat pun bisa melakukannya, dan jika sekedar blusukan, tukang sampah pun setiap hari blusukan.
Saya yakin, bukan hanya itu yang dibutuhkan Indonesia. Rakyat butuh pemimpin yang tidak enak makan karena tahu 250juta lebih rakyatnya yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di akhirat mungkin belum semua makan enak seperti dia. Yang tak enak tidur di istana karena tahu jutaan rakyatnya masih terlantar dijalanan.
Yang tahu bahwa gajinya, fasilitas hidup yang diterimanya adalah buah kerja keras rakyatnya dalam bentuk pajak. Rakyat butuh Presiden yang selalu mengingat Allah dalam setiap tindakannya hingga ia tak berani menodai hak rakyat.
Bapak-bapak yang terhormat, jika nanti terpilih, ingatlah, ingatlah, ingatlah, bahwa setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban. Siapkah bapak mempertanggung jawabkan kepemimpinan bapak atas 33 provinsi di Indonesia yang penduduknya ada lebih dari 250 juta jiwa, siapkah bapak kelak ditanya jika ada satu saja rakyat yang merasa haknya tidak terpenuhi? Siapkah bapak jika kelak ditanya mengapa masih ada pejabat yang bisa wara wiri pakai mobil mewah sementara banyak rakyat yang cuma bisa makan nasi aking?
Bapak-bapak, sungguh kepemimpinan dan jabatan adalah ujian, berhati-hatilah atasnya.
Bapak-bapak mungkin bisa meniru Gajah Mada yang bersumpah tak akan hidup enak sebelum bisa menyatukan nusantara, atau mencontoh Al Fatih yang istiqomah dalam hubungannya kepada Allah hingga akhirnya bisa menaklukkan Konstantinopel, dan tentu saja bapak-bapak harus meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW, hingga tiap langkah yang bapak ambil benar-benar demi kepentingan rakyat.
Saya juga berharap, kelak jika bapak terpilih, bapak presiden dapat memilih menteri berdasarkan kualitas bukan sekedar kekerabatan.
Nah, saya Insha Allah akan mencoblos pada pemilu 9Juli nanti, semoga calon yang saya pilih menang, namun jika kalah pun tak mengapa. Karena keduanya pasti berniat memajukan Indonesia. Saya berdoa semoga bapak ketika terpilih, amanah dalam jabatan, dan semoga Allah merahmati bapak juga seluruh rakyat Indonesia.

Yang lebih penting, jangan lupa jika presiden kita saat ini masih bapak Susilo Bambang Yudhoyono, kepada beliau pun kita ucapkan terima kasih, karena telah bekerja keras selama 10 tahun memimpin Indonesia. Terakhir, terima kasih kepada KPU yang telah berbulan-bulan bekerja keras untuk penyelenggaraan pemilu  serta para bapak-bapak polisi yang turut membantu menciptakan pemilu damai. Semoga Allah merahmati seluruh pemimpin kita, calon pemimpin kita, ulama-ulama kita dan kita, seluruh rakyat Indonesia. Aamiin.
Ya Allah karuniakanlah kepada kami, pemimpin yang mencintai Engkau dan Engkau pun mencintainya, aamiin.
Jangan lupa 9 Juli, datang ke tps, jangan lupa baca Bismillah sebelum mencoblos, semoga pilihan kita adalah pilihan yang benar.

Salam 5 Jari!!! (Rukun Islam bro)