Friday, July 17, 2015

Betapa Menyebalkan Janjian Dengan Orang Indonesia


Saya Indonesia. Saya bangga, untuk beberapa hal, namun sering kesal untuk beberapa hal lain. Mulai dari antri, main serobot, sampai masalah tidak tepat waktu.
Perkara janjian. Ampun deh, memang tidak semua orang Indonesia seperti itu, tapi kebanyakan.
Orang Indonesia cenderung meremehkan janji dan waktu.
Kalau janjian jam 4, datangnya baru jam 6, malah ada yang jam 8. Itu jamnya waktu Indonesia bagian Arab yaa ...
Sering pula memberi janji janji palsu,
'Iyaaa, pasti datang kok'
Tapi di menit menit terakhir dengan lempengnga bisa mengirim bbm tanpa rasa bersalah apalagi berdosa
'Aduh tiba tiba ada acara keluarga, tiba-tiba burung perkututnya mati, tiba-tiba encoknya kumat'
What the hell.
Saya benci. Benci setengah mati pada mereka yang tidak menghargai waktu dan janji. Padahal janji itu tergolong hutang. *with any term and conditions
Sementara waktu, waktu tak bisa diputar mundur. Bayangkan waktu yang terbuang sia sia hanya karena menunggu orang yang tidak tepat janji.
Tapi begitulah, seakan sudah menjadi budaya yang dimaklumi. Membenarkan yang biasa, bukannya membiasakan yang benar. Kalau ingkar janji tinggal bilang sorry, kalau telat tinggal senyum simpul, masalah beres. Iyaaa,,beres dengkulmu.
Kalau memang tidak bisa, jangan berjanji. Bahkan jika kira-kira tidak bisa pun jangan berjanji. Selalu gunakan In sha Allah dalam setiap perjanjian, namun bukan berarti menjadikan In sha Allah sebagai kalimat main-main untuk mengelak.
Kalau memang tidak bisa, katakan,
'Saya tidak bisa!'
Kalau memang terlambat, katakan
'Saya masih dirumah'
Halloo, biasakan menghargai orang lain, betapa tersiksanya jadi orang tepat waktu di Indonesia. Tidak semua, sekali lagi tidak semua. Tapi mayoritas.
Lihat janjian dengan orang asing. Mereka selalu on time. Tidak php, tidak menjanjikan sesuatu yang kira-kira tidak bisa dipenuhi. Janji kirim email jam 23.00, maka email akan terkirim diwaktu yang ditentukan.
Kapan kita bisa begini, apalagi kita sebagai muslim. Kita kok tidak malu yaa, jadi muslim yang tidak bisa dipercaya.
'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janjimu ....' (QS. Al Maidah : 1)

Thursday, July 16, 2015

Tanya, Berapa Maharnya?

Dari sekedar kumpul temu kangen dengan teman teman lama, obrolan menghangat, melebar ke berbagai topik. Sejak dahulu selalu seperti itu, berdiskusi panjang lebar untuk mencari titik temu, silang pendapat untuk saling berbagi ilmu.
Obrolan kali ini seputar pernikahan, maklum faktor umur yang tak lagi muda.

'Tanya berapa maharnya?'

Pungkas seorang teman, yang berniat mendekati adik salah seorang teman kami yang lain,
kami tertawa-tawa,

'Mungkin lebih tepatnya hantaran'
ujarku menimpali,

'Sepakat' , sambut teman yang lain, 'mahar dan hantaran dua hal yang berbeda'

Tapi si teman tersebut tak sepaham. Ia bersikeras bahwa mahar adalah jumlah uang yang harus disiapkan ketika melamar seorang wanita.
Sementara kami berpendapat, mahar adalah hadiah yang diminta calon istri kepada calon suaminya, tak harus uang, tapi ia bernilai, dan mahar adalah mutlak milik sang istri.
Adapun uang uang yang disiapkan dan diberikan ketika melamar, yang nantinya digunakan untuk keperluan pesta, adalah hantaran, yang  juga berupa hadiah hadiah seperti pakaian, sepatu, make up, kain kebaya, sampai ke tempat tidur, lemari dan perlengkapan-perlengkapan lain sesuai adat dan kesepakatan. Termasuk didalamnya uang, untuk keperluan walimahan.
Lalu obrolan semakin seru, karena kami tak jua bertemu disatu paham.

'Lantas kenapa,,ketika ijab qabul toh yang sering disebut sebagai mahar tetap seperangkat alat solat, padahal uang puluhan juta yang sudah diserahkan sebelumnya katanya mahar?' ,aku bertanya lagi

Tampak si teman gelagapan menjawabnya, tapi tetap berusaha mempertahankan argumennya. Pembicaraan berputar-putar.

'Bukankah sebaik-baik wanita itu, ialah yang mudah maharnya?' ,teman yang lain menyambung,

Kami sepakat.

'Tapi ada juga laki-laki yang tidak berani melamar perempuan, padahal ia tak meminta mahar yang sulit' ,aku berkata datar
'Bukan tidak berani, tapi belum siap secara vertikal' , jawab teman yang sedari awal sepemikiran denganku tadi,
'Karena setelah menikah, seluruh keluarganya akan menjadi tanggung jawabnya, bagaimana ia kelak menjawab pertanyaan Tuhan tentang istri dan anak-anaknya .... karena Reni, kesiapan horizontal itu mudah dicari, sekedar uang, adat, pesta, dan lainlain itu bisa mudah dicari, tapi menikah tanpa persiapan vertikal dengan Tuhan itu akan membuat pernikahan menjadi riskan'

Aku terpana, kata-kata begitu dalam itu keluar dari mulut seorang teman yang biasanya tidak pernah serius, yang biasanya sombong setengah mati, ahahha, mungkin efek kopi yang dipesannya, membuatnya bisa berfikir 'wise' untuk beberapa saat.


Kembali ke mahar,
Karena terbagi menjadi dua kubu yang tidak imbang, teman yang tetap berpendapat mahar adalah semua uang dan biaya biaya yang harus disiapkan untuk pernikahan, ia sendiri, kokoh dan bertahan dengan pendapatnya,
Sementar kami tetap sepaham bahwa mahar adalah hal yang berbeda dengan hantaran, 5:1 kalah jumlah, tapi kami berlima tetap kalah galak darinya yang hanya sendiri :D
Bicara tentang mahar,
Ia sebenarnya bukanlah sesuatu yang mempersulit pernikahan. Tak ada nominal minimal dalam mahar, sesuai keihklasan dan kemampuan calon suami serta keridhoan calon istrinya.
Bisa saja ia hanya berupa selembar kain, atau sebuah Al-Qur'an, atau sejumlah uang dan emas, atau apa saja yang diminta nya ...
Lihat Fatimah AzZahra, wanita mulia yang terjamin akhlaknya, nasabnya, kedudukannya dihadapan Allah, ketika menikah, apa yang menjadi maharnya? Hanya sebuah baju besi, itupun yang awalnya pemberian sang ayah pada calon menantunya tersebut.
Kenapa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam mengizinkan putri kesayangannya menikah dengan mahar yang 'hanya seperti itu'
Itu karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam tahu betul kualitas calon menantunya, juga keadaannya. Beliau tak ingin mempersulit Ali ra, untuk menikahi putrinya.
Lantas kita, dewasa ini, kenapa berani sekali menetapkan 'mahar' yang begitu tinggi sebagai syarat pernikahan. Menetapkan nominal sampai ratusan juta rupiah, hanya karena merasa sangat cantik, dari keturunan ningrat, bergelar kesarjanaan dan bekerja ditempat bonafit. Lantas, kita merasa mahal, tak sudi dipinang murah. Padahal tak ada istilah mahal dan murah dalam pernikahan.
Siapalah kita ini, yang solatnya masih diundur-undur, jilbab enggan terhulur, kelakuan masih ngalor ngidul, sudah merasa begitu 'mahal' nya sampai menetapkan nominal mahar. Seandainya ukurannya nominal uang, tentulah seluruh isi dunia tak akan cukup untuk meminang wanita sekelas Fatimah AzZahra ...
Lagipula jangan membelok-belokkan syarat pernikahan, yang sebenarnya sangat sederhana dan jelas hukumnya. Dan mahar, sekali lagi, mahar berbeda dengan hantaran.
Hantaran adalah budaya, yang mengakar begitu dalam di masyarakat Indonesia, yang saking kuatnya, seakan-akan ia adalah syariat.
'Kalau punya anak perempuan, yang pertama akan kutanya pada laki-laki yang meminangnya adalah, tahukah engkau syahadat, secara kaffah? Jika ia beragama, maka pasti aku nikahkan, karena jika tidak aku pasti berdosa sebagai bapaknya' ,teman tadi menambahkan
Malam menggantung, kopi-kopi telah tandas, kami beranjak pulang, saat berdadah-dadah menyampaikan salam, teman yang sedari tadi tetap bertahan pada pendirian, tiba-tiba berbalik,

'Jangan lupa, tanya berapa maharnya'
Kami berlalu dengan tawa yang masih berderai-derai.