Dari sekedar kumpul temu kangen dengan teman teman lama, obrolan
menghangat, melebar ke berbagai topik. Sejak dahulu selalu seperti itu,
berdiskusi panjang lebar untuk mencari titik temu, silang pendapat untuk
saling berbagi ilmu.
Obrolan kali ini seputar pernikahan, maklum faktor umur yang tak lagi muda.
'Tanya berapa maharnya?'
Pungkas seorang teman, yang berniat mendekati adik salah seorang teman kami yang lain,
kami tertawa-tawa,
'Mungkin lebih tepatnya hantaran'
ujarku menimpali,
'Sepakat' , sambut teman yang lain, 'mahar dan hantaran dua hal yang berbeda'
Tapi si teman tersebut tak sepaham. Ia bersikeras bahwa mahar adalah
jumlah uang yang harus disiapkan ketika melamar seorang wanita.
Sementara kami berpendapat, mahar adalah hadiah yang diminta calon istri
kepada calon suaminya, tak harus uang, tapi ia bernilai, dan mahar
adalah mutlak milik sang istri.
Adapun uang uang yang disiapkan dan diberikan ketika melamar, yang
nantinya digunakan untuk keperluan pesta, adalah hantaran, yang juga
berupa hadiah hadiah seperti pakaian, sepatu, make up, kain kebaya,
sampai ke tempat tidur, lemari dan perlengkapan-perlengkapan lain sesuai
adat dan kesepakatan. Termasuk didalamnya uang, untuk keperluan
walimahan.
Lalu obrolan semakin seru, karena kami tak jua bertemu disatu paham.
'Lantas kenapa,,ketika ijab qabul toh yang sering disebut sebagai
mahar tetap seperangkat alat solat, padahal uang puluhan juta yang sudah
diserahkan sebelumnya katanya mahar?' ,aku bertanya lagi
Tampak si teman gelagapan menjawabnya, tapi tetap berusaha mempertahankan argumennya. Pembicaraan berputar-putar.
'Bukankah sebaik-baik wanita itu, ialah yang mudah maharnya?' ,teman yang lain menyambung,
Kami sepakat.
'Tapi ada juga laki-laki yang tidak berani melamar perempuan, padahal ia tak meminta mahar yang sulit' ,aku berkata datar
'Bukan tidak berani, tapi belum siap secara vertikal' , jawab teman yang sedari awal sepemikiran denganku tadi,
'Karena setelah menikah, seluruh keluarganya akan menjadi tanggung
jawabnya, bagaimana ia kelak menjawab pertanyaan Tuhan tentang istri dan
anak-anaknya .... karena Reni, kesiapan horizontal itu mudah dicari,
sekedar uang, adat, pesta, dan lainlain itu bisa mudah dicari, tapi
menikah tanpa persiapan vertikal dengan Tuhan itu akan membuat
pernikahan menjadi riskan'
Aku terpana, kata-kata begitu dalam itu keluar dari mulut seorang
teman yang biasanya tidak pernah serius, yang biasanya sombong setengah
mati, ahahha, mungkin efek kopi yang dipesannya, membuatnya bisa
berfikir 'wise' untuk beberapa saat.
Kembali ke mahar,
Karena terbagi menjadi dua kubu yang tidak imbang, teman yang tetap
berpendapat mahar adalah semua uang dan biaya biaya yang harus disiapkan
untuk pernikahan, ia sendiri, kokoh dan bertahan dengan pendapatnya,
Sementar kami tetap sepaham bahwa mahar adalah hal yang berbeda dengan
hantaran, 5:1 kalah jumlah, tapi kami berlima tetap kalah galak darinya
yang hanya sendiri :D
Bicara tentang mahar,
Ia sebenarnya bukanlah sesuatu yang mempersulit pernikahan. Tak ada
nominal minimal dalam mahar, sesuai keihklasan dan kemampuan calon suami
serta keridhoan calon istrinya.
Bisa saja ia hanya berupa selembar kain, atau sebuah Al-Qur'an, atau sejumlah uang dan emas, atau apa saja yang diminta nya ...
Lihat Fatimah AzZahra, wanita mulia yang terjamin akhlaknya,
nasabnya, kedudukannya dihadapan Allah, ketika menikah, apa yang menjadi
maharnya? Hanya sebuah baju besi, itupun yang awalnya pemberian sang
ayah pada calon menantunya tersebut.
Kenapa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam mengizinkan putri kesayangannya menikah dengan mahar yang 'hanya seperti itu'
Itu karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam tahu betul kualitas
calon menantunya, juga keadaannya. Beliau tak ingin mempersulit Ali ra,
untuk menikahi putrinya.
Lantas kita, dewasa ini, kenapa berani sekali menetapkan 'mahar' yang
begitu tinggi sebagai syarat pernikahan. Menetapkan nominal sampai
ratusan juta rupiah, hanya karena merasa sangat cantik, dari keturunan
ningrat, bergelar kesarjanaan dan bekerja ditempat bonafit. Lantas, kita
merasa mahal, tak sudi dipinang murah. Padahal tak ada istilah mahal
dan murah dalam pernikahan.
Siapalah kita ini, yang solatnya masih diundur-undur, jilbab enggan
terhulur, kelakuan masih ngalor ngidul, sudah merasa begitu 'mahal' nya
sampai menetapkan nominal mahar. Seandainya ukurannya nominal uang,
tentulah seluruh isi dunia tak akan cukup untuk meminang wanita sekelas
Fatimah AzZahra ...
Lagipula jangan membelok-belokkan syarat pernikahan, yang sebenarnya
sangat sederhana dan jelas hukumnya. Dan mahar, sekali lagi, mahar
berbeda dengan hantaran.
Hantaran adalah budaya, yang mengakar begitu dalam di masyarakat Indonesia, yang saking kuatnya, seakan-akan ia adalah syariat.
'Kalau punya anak perempuan, yang pertama akan kutanya pada laki-laki
yang meminangnya adalah, tahukah engkau syahadat, secara kaffah? Jika
ia beragama, maka pasti aku nikahkan, karena jika tidak aku pasti
berdosa sebagai bapaknya' ,teman tadi menambahkan
Malam menggantung, kopi-kopi telah tandas, kami beranjak pulang, saat
berdadah-dadah menyampaikan salam, teman yang sedari tadi tetap
bertahan pada pendirian, tiba-tiba berbalik,
'Jangan lupa, tanya berapa maharnya'
Kami berlalu dengan tawa yang masih berderai-derai.
No comments:
Post a Comment
monggo yang mau komen .. :)