Sunday, February 12, 2017

Kaya, Sok Kaya, Baru Kaya

Beda memang, orang yang lahir sudah kaya raya dengan orang yang tiba-tiba jadi kaya. Beda kelasnya.
Memang tidak semua. Tapi kebanyakan seperti itu.

Efek tiba-tiba itu memang selalu mengagetkan. Ibaratnya dulu cuma makan tempe eh tiba-tiba bisa makan pizza. Dulu cuma jajan combro eh sekarang bisa posting-posting nongkrong di cafe yang harga kopinya bisa buat beli nasi padang berbungkus-bungkus.
Kaget,,ya pasti. Ada yang anteng mengantisipasi, ada yang norak setengah mati.

Orang yang dari lahir sudah kaya raya, sudah tidak butuh pengakuan lagi. Tidak butuh aktualisasi diri secara ekstrem. Karena yang katanya 'wah' itu memang sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi yang baru kaya, kebanyakan butuh ekspose sana-sini. Kalau makan di restoran jeprat - jepret dulu, kalau beli kopi yang gelasnya ditulis-tulis nama di aplod dulu. Kalau jalan-jalan naik mobil sama pacar, selfi sok candid dulu.
Kalau liburan bukan liburan, tapi ajang poto selfi sana-sini.

Karena yang beneran kaya, mau makan escargot atau pecel lele sudah sama saja. Kalau posting dimedia sosial pun biasanya menonjolkan kegiatan bersama teman atau keluarga, bukan barang yang dipakai. Kalau liburan sudah gak norak poto sana sini, soalnya sudah dari kecil.

Yang parah itu yang sok kaya. Orang Kaya Baru mendingan, norak pun memang kaya, lah yang sok kaya ini yang suka bikin geli kadang-kadang. Tidak punya tapi memaksa biar berkelas. Tidak bisa membedakan kenyataan dan angan-angan. Sampai segitunya ingin dibilang wah, demi terlihat kaya sampai rela hutang sana-sini. Bahkan yang lebih parah sampai mati-matian cari pacar kaya, kalau perlu suami orang juga tidak apa-apa.
Aduh jangan sampai begitu.

Kalau ngobrol yang suka bikin geli. Orang kaya beneran kalau ngobrol suka tahu diri. Bukan semua partner bisnisnya, jadi tidak perlulah ngomongin saham dan aset kesemua orang disemua tempat dan waktu. Ada masanya bersosialisasi dan masanya berbisnis. Orang kaya beneran biasanya tidak pelit, kalau kumpul diem-diem sudah bayarin semua.
Kalau baru kaya biasanya suka pamer, pamer baru beli tas mahal padahal masih kw juga, pamer perhiasan, pamer tiket pesawat. Kalau ketemu ngomongin tempat nongkrong yang katanya nge-hits, makanan yang lagi nge-hits, pokoknya semua yang hits-hits dia sudah nyobain, setiap waktu, setiap ada kesempatan, walau tidak ada yang bertanya, akan selalu berusaha show off, tapi sekali lagi, walaupun norak minta ampun, masih duit dia sendiri.
Yang sok kaya ini yang beneran tebel muka banget. Suka banget banggain harta orang lain. Pamer mobil pacarnya, pamer kerjaan pacarnya, pamer duit pacarnya. Yang tidak ada, di ada-adain dipaksa-paksain. Kasihan sih. Tapi merekanya aja tidak kasihan dengan diri mereka sendiri. Ya sudahlah

Saya sih punya temen, tajir melintir dari zaman baheula, orang belum punya mobil dianya udah bolak balik ganti. Jilbab belum sehappening sekarang dianya udah naik haji. Ya emang beda sih tabiatnya, dia nya sih biasa-biasa aja. Hidupnya biasa-biasa aja, padahal kaya nya banget-banget.
Saya juga punya kenalan yang baru ngerasain kaya. Noraknya minta ampun. Semua dipamerin, makan diresto dipamerin, beli baju ini itu dipamerin (duuh padahal dulu koleksi bajunya norak banget), sekali naik pesawat kudu buru-buru check-in place. Kalau cerita kayak dia doang yang punya duit, padahal begitu diajak cerita yang beneran high class dia nya tidak paham juga. Katanya kaya tapi pelitnya minta ampun. 😌😌 Ah sudahlah.

Bagaimanapun kondisi kita, ya hiduplah sewajarnya, sebatas kemampuan kita. Go have fun, tapi jangan sampai menyiksa diri juga. Bahagialah dengan apapun keadaan kita. Karena sebanyak apapun uang kita, kalau hanya mengejar pengakuan, tidak akan pernah ada habisnya.

Thursday, February 2, 2017

Pengusaha Sesungguhnya



Pernah lihat gambar diatas?

Saya lihat postingan gambar tersebut di Instagram seorang member mlm yang katanya halal. Saya benar-benar tergelitik. Karena caption yang ditulisnya,
"Ternyata perusahaan anda menerapkan sistem mlm juga"

Oh Dear ...
Di perusahaan, itu bukan sistem mlm, tapi struktur organisasi. Kamu pernah sekolah toh? Tahu kan sekolah itu ada Kepala Sekolah yang memimpin, ada wakil, bendahara, ada bagian kesiswaan, bagian administrasi, bagian tata usaha, bagian umum dan lain-lain, kemudian ada guru dan kita sebagai siswa-siswinya.
Atau dikeluarga, ada bapak sebagai kepala keluarga, ada ibu, ada anak-anak.
Atau di organisasi, ada ketua, ada sekretaris, bendahara, divisi ini itu, kemudian anggota.
Terus kalau begitu semuanya mlm dong.
Duuuh, makanya waktu sekolah belajar yang benar, biar gag keblinger.
Yang namanya struktur organisasi itu memang ada tingkatannya. Ada kewajiban dan tugasnya masing-masing. Dan satu orang tidak merekrut orang lain untuk bekerja seperti dia. Semua direkrut dari atas, dari bosnya. Dan gaji yang diterima pun sesuai dengan tugas dan kewajiban, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan sekali lagi, tidak ada kewajiban merekrut orang dibawahnya (mencari downline) seperti sistem mlm.

Di mlm itu, ada upline dan downline. Mau yang haram atau halal, ada atau tidak ada sertifikat MUI, jenjang mlm selalu sama. Ada satu upline yang mencari downline. Kemudian member mencari lagi anggota yang mau bergabung, kemudian anggota mencari anggota kemudian mencari anggota lagi dan lagi dan lagi dan lagi begitu terus sampai ladang gandum dibanjiri coklat.

Beda sekali, sistem mlm dengan struktur organisasi. 😰😰😰😰😰😰

Baiklah, lupakan postingan asal jeplak itu.

Satu dasawarsa ini gencar sekali kampanye untuk jadi pengusaha dikalangan anak muda, dan anak tua. Semua berlomba-lomba menjadi pengusaha. Berjualan kue, kerajinan, jilbab, property, design, apa saja, kondisi ini memperkenalkan kita pada sosok-sosok kreatif dengan ide-ide brilian dan berlian, tentu juga melahirkan generasi-generasi francise dan peniru, terakhir yang booming lagi adalah generasi mlm.
Semua mengaku-aku sebagai pengusaha.
Ya tidak apa-apa. Bagus malah.
Namun yang benar-benar berjiwa pengusaha bisa dihitung.

Orang boleh meniru konsep orang lain, tapi minimal ya jangan plek ketiplek lah, sampai titik koma dalam iklan pun di copy paste. Sampai gaya bicara, gaya pakaian, gaya jualan ditiru habis-habisan. Kecuali kita memang membuka cabang atau membeli francise produk tertentu yang tentu ada SOP yang harus dipatuhi.

Sifat dan sikap seperti ini bukanlah milik pengusaha sejati :
1. Mengambil gambar orang lain untuk promosi, termasuk ide, cara promosi, kata-kata, sikap, gesture, atau mengkopi produk orang lain kemudian mengakui sebagai milik sendiri, bahkan mengaku-aku sebagai pelopor produk tersebut.

2. Merendahkan produk orang lain atau orang yang memiliki produk untuk menaikkan mutu produk dagangannya.

3. Merendahkan pekerjaan orang lain dan menganggap pengusahalah orang paling mulia dimuka bumi ini.

Saya paling tidak suka yang ketiga. Banyak saya lihat, terutama di postingan agen agen mlm, mereka senang sekali menyebut diri pengusaha,
"kerja cuma modal handphone, duit mengalir terus", atau
"Kerja dari jam 8-17 tiap hari, itu kerja apa dikerjain", atau
"jangan mau jadi pegawai, gaji gak seberapa, bla bla bla"

Oh please, apakah pengusaha itu orang yang suka merendahkan pekerjaan orang lain? Tentu tidak. Pengusaha itu adalah pekerjaan penuh duri, bangunnya susah payah, pertahaninnya pakai perjuangan, nikmati hasilnya setelah berlelah-lelah jatuh bangun. Dan orang-orang kreatif yang ditempa sedemikian rupa pasti bukanlah mereka yang berjiwa songong yang baru bisa hasilin duit sejuta dua juta sudah sombongnya minta ampun. Duuuh gusti.
Kamu fikir kerja kantoran dosa? Kerja jadi pns itu aib? Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, lima hari seminggu itu hina dina???
Mereka itu kerja, jihad cari nafkah buat keluarga, halal. Langkahnya pahala, gajinya jadi sedekah buat keluarganya, eh kamu seenak enak ndasmu merendahkan pekerjaan orang lain. Emang yakin usaha kamu bener. Coba cek lagi, bener gak curangin pelanggan, bener gak nyalip usaha lain, bener gak niru-niru tanpa izin produk orang lain, bener itu produk original kamu ???

Jadi pengusaha yaa bagus. Dalam islam juga ditekankan agar kita berniaga. Tapi pakai adablah, pakai etika, pakai tatanan yang sudah diatur.
Cari duit juga gak gitu-gitu amat kaliii. Cari member juga gak segitunya sampai harus menghinakan pekerjaan orang lain.

Yaa mulailah dari bawah. Kembangin konsep kamu sendiri. Bikin iklan dan promosi yang menarik. Jual kelebihan produk kamu bukan kekurangan orang lain. Dan sopan santunlah kepada semua orang. Belajar dari semua orang, dari pengusaha (yang bener-bener pengusaha) sampai pegawai kantoran, dari orang kaya sampai orang biasa-biasa aja. Semua kasih inspirasi kok dan jangan sombong kalau udah bisa hasilin duit sendiri. Karena yang kaya beneran biasanya malah anteng-anteng aja.