Pernah lihat gambar diatas?
Saya lihat postingan gambar tersebut di Instagram seorang member mlm yang katanya halal. Saya benar-benar tergelitik. Karena caption yang ditulisnya,
"Ternyata perusahaan anda menerapkan sistem mlm juga"
Oh Dear ...
Di perusahaan, itu bukan sistem mlm, tapi struktur organisasi. Kamu pernah sekolah toh? Tahu kan sekolah itu ada Kepala Sekolah yang memimpin, ada wakil, bendahara, ada bagian kesiswaan, bagian administrasi, bagian tata usaha, bagian umum dan lain-lain, kemudian ada guru dan kita sebagai siswa-siswinya.
Atau dikeluarga, ada bapak sebagai kepala keluarga, ada ibu, ada anak-anak.
Atau di organisasi, ada ketua, ada sekretaris, bendahara, divisi ini itu, kemudian anggota.
Terus kalau begitu semuanya mlm dong.
Duuuh, makanya waktu sekolah belajar yang benar, biar gag keblinger.
Yang namanya struktur organisasi itu memang ada tingkatannya. Ada kewajiban dan tugasnya masing-masing. Dan satu orang tidak merekrut orang lain untuk bekerja seperti dia. Semua direkrut dari atas, dari bosnya. Dan gaji yang diterima pun sesuai dengan tugas dan kewajiban, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan sekali lagi, tidak ada kewajiban merekrut orang dibawahnya (mencari downline) seperti sistem mlm.
Di mlm itu, ada upline dan downline. Mau yang haram atau halal, ada atau tidak ada sertifikat MUI, jenjang mlm selalu sama. Ada satu upline yang mencari downline. Kemudian member mencari lagi anggota yang mau bergabung, kemudian anggota mencari anggota kemudian mencari anggota lagi dan lagi dan lagi dan lagi begitu terus sampai ladang gandum dibanjiri coklat.
Beda sekali, sistem mlm dengan struktur organisasi. 😰😰😰😰😰😰
Baiklah, lupakan postingan asal jeplak itu.
Satu dasawarsa ini gencar sekali kampanye untuk jadi pengusaha dikalangan anak muda, dan anak tua. Semua berlomba-lomba menjadi pengusaha. Berjualan kue, kerajinan, jilbab, property, design, apa saja, kondisi ini memperkenalkan kita pada sosok-sosok kreatif dengan ide-ide brilian dan berlian, tentu juga melahirkan generasi-generasi francise dan peniru, terakhir yang booming lagi adalah generasi mlm.
Semua mengaku-aku sebagai pengusaha.
Ya tidak apa-apa. Bagus malah.
Namun yang benar-benar berjiwa pengusaha bisa dihitung.
Orang boleh meniru konsep orang lain, tapi minimal ya jangan plek ketiplek lah, sampai titik koma dalam iklan pun di copy paste. Sampai gaya bicara, gaya pakaian, gaya jualan ditiru habis-habisan. Kecuali kita memang membuka cabang atau membeli francise produk tertentu yang tentu ada SOP yang harus dipatuhi.
Sifat dan sikap seperti ini bukanlah milik pengusaha sejati :
1. Mengambil gambar orang lain untuk promosi, termasuk ide, cara promosi, kata-kata, sikap, gesture, atau mengkopi produk orang lain kemudian mengakui sebagai milik sendiri, bahkan mengaku-aku sebagai pelopor produk tersebut.
2. Merendahkan produk orang lain atau orang yang memiliki produk untuk menaikkan mutu produk dagangannya.
3. Merendahkan pekerjaan orang lain dan menganggap pengusahalah orang paling mulia dimuka bumi ini.
Saya paling tidak suka yang ketiga. Banyak saya lihat, terutama di postingan agen agen mlm, mereka senang sekali menyebut diri pengusaha,
"kerja cuma modal handphone, duit mengalir terus", atau
"Kerja dari jam 8-17 tiap hari, itu kerja apa dikerjain", atau
"jangan mau jadi pegawai, gaji gak seberapa, bla bla bla"
Oh please, apakah pengusaha itu orang yang suka merendahkan pekerjaan orang lain? Tentu tidak. Pengusaha itu adalah pekerjaan penuh duri, bangunnya susah payah, pertahaninnya pakai perjuangan, nikmati hasilnya setelah berlelah-lelah jatuh bangun. Dan orang-orang kreatif yang ditempa sedemikian rupa pasti bukanlah mereka yang berjiwa songong yang baru bisa hasilin duit sejuta dua juta sudah sombongnya minta ampun. Duuuh gusti.
Kamu fikir kerja kantoran dosa? Kerja jadi pns itu aib? Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, lima hari seminggu itu hina dina???
Mereka itu kerja, jihad cari nafkah buat keluarga, halal. Langkahnya pahala, gajinya jadi sedekah buat keluarganya, eh kamu seenak enak ndasmu merendahkan pekerjaan orang lain. Emang yakin usaha kamu bener. Coba cek lagi, bener gak curangin pelanggan, bener gak nyalip usaha lain, bener gak niru-niru tanpa izin produk orang lain, bener itu produk original kamu ???
Jadi pengusaha yaa bagus. Dalam islam juga ditekankan agar kita berniaga. Tapi pakai adablah, pakai etika, pakai tatanan yang sudah diatur.
Cari duit juga gak gitu-gitu amat kaliii. Cari member juga gak segitunya sampai harus menghinakan pekerjaan orang lain.
Yaa mulailah dari bawah. Kembangin konsep kamu sendiri. Bikin iklan dan promosi yang menarik. Jual kelebihan produk kamu bukan kekurangan orang lain. Dan sopan santunlah kepada semua orang. Belajar dari semua orang, dari pengusaha (yang bener-bener pengusaha) sampai pegawai kantoran, dari orang kaya sampai orang biasa-biasa aja. Semua kasih inspirasi kok dan jangan sombong kalau udah bisa hasilin duit sendiri. Karena yang kaya beneran biasanya malah anteng-anteng aja.

No comments:
Post a Comment
monggo yang mau komen .. :)