Monday, June 30, 2014

Sabar Ustad, Sabar ......

Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1435H, maafkan lahir batin jikalau ada kesalahan kata-kata yang kiranya menyinggung.

Tadi, sembari menunggu waktu berbuka, bapak 'curhat' kepada kami, betapa kesal hatinya saat semalam (29/6) beliau taraweh dan mengikuti tausiyah di mushola kami tercinta. Apa pasal? Ternyata sang ustad (demi menjaga nama baik tak perlu saya tulis namanya), memberikan ceramah yang agak kelewatan, perihal mati listrik.
Memang pada Minggu, 29 Juni 2014, didaerah rumah kami terjadi pemadaman bergilir sekitar pukul enam sore, atau kira-kira 40 menit sebelum berbuka puasa.
Hal tersebut yang rupanya menggangu sang ustad, beliau mengeluh kenapa PLN seperti seenak jidatnya mematikan listrik dikala hampir berbuka.

(Masalah pedaman bergilir, saya telah lama heran, kapan waktu yang paling pas untuk listrik padam, padam dipagi hari orang mengeluh tak bisa bersiap kerja, padam siang hari, orang mengeluh tak bisa masak, padam sore hari orang juga mengeluh karena tidak bisa menonton siaran tv, padam malam hari pun orang tetap mengeluh karena gelap, panas, baterai gadget melemah dan lain-lain)

Yang membuat bapak sangat marah adalah sang ustad dengan penuh semangat memaki-maki pekerja PLN, ya bapak memang pegawai PLN.
Sang ustad, berkata, bahwa orang-orang PLN kafir karena memadamkan listrik dikala mau berbuka.
Astaghfirullah ...
Saya sendiri sangat terkejut. Bagaimana tidak, seorang ustad bisa dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, dimana letak ilmunya, imannya, tauhidnya, sabarnya, pendeknya, dimana letak ustadnya??
Ilmu agama saya memang tak sedalam ustad, tapi saya tahu bahwa kita tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain dengan sembarangan, apalagi hanya dengan prasangka pribadi.
Bayangkan jika yang kita katakan kafir ternyata seorang muslim yang taat, bukankah ucapan kafir itu akan dikembalikan kepada kita? Astaghfirullah ...
Mungkin kesabaran kita sedang diuji, diuji melalui pemadaman bergilir. Sang ustad pun harusnya mengerti, baru listrik yang padam saja mengeluhnya sudah luar biasa, sudah berani mengkafir-kafirkan orang lain, bagaimana jika mata ini yang padam? Hendak mengeluh bagaimana lagi kita ...
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Semoga Allah SWT, menjadikan kita semua termasuk kedalam golongan manusia yang senantiasa bersabar dan bersyukur, aamiin ...

Friday, November 29, 2013

Ada Apa Dengan Pintu Depan?

Seringkali saya tak habis fikir. Hampir sepuluh tahun tinggal dipemukiman padat penduduk ini, saya masih tidak bisa mengerti, kenapa orang-orang suka bertamu dari pintu belakang
Pintu depan rumah saya lebar, selain berhadapan langsung jaraknya juga tidak jauh dari pagar. Tapi kebanyakan tetangga, kerabat, sales bahkan pengemis lebih suka berjalan jauh menuju pintu dapur di belakang kurang, dengan alasan kami, sang empunya rumah pasti sedang ada dibelakang rumah. What the hell.
Padahal dari ruang keluarga kami bisa melihat jelas kalau-kalau ada yang bertamu lewat pintu depan. Justru tamu yang teriak-teriak dipintu belakang sering membuat blunder karena disangka anak-anak atau tetangga yang rumahnya terletak dibalik tembok belakang rumah kami.
Pak RT juga begitu, sejak belum jadi ketua Rukun Tetangga sampai sekarang, setiap berkunjung kerumah kami selalu dari pintu belakang, aaaaaaah dasar pimpinan yang tak bisa memberi contoh baik.
Ada juga seorang ibu yang berkunjung dikala magrib juga dari pintu belakng, orangtua teman adik saya yang juga diam-diam bertamu dari pintu belakang, padahal itu sudah malam! Ada lagi pengemis yang muncul selalu dari pintu belakang bahkan tak segan berusaha membuka pintu kalau kami tidak juga membuka pintu.
Pertanyaannya, saudara-saudara tidak bisakah kita bertamu dengan sopan, mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam, bukannya ngeloyor sok akrab kepintu belakang.
Tapi apa boleh buat, kebanyakan penduduk sini memang terbiasa bertamu dengan cara demikian, banyak yang bahkan memotong jalan melewati pekarangan rumah orang lain tanpa perlu izin apalagi merasa bersalah. Apalagi kalau sekadar bertamu dari pintu belakang, ah sudah biasa.

Thursday, June 6, 2013

Ayo, Jangan Ditunda



Seringkali ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu. dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
 
Dan beberapa hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang kampung.
Minggu malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan. Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking, terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih bingung dengan masalah pembayaran via atm).

Saya memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan langsung mengajak saya ke atm.
Kami berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar, ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran, kami beranjak pulang.

Hujan belum reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah, saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi waktu sujud dan duduk kaki saya perih.

Saya merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya, tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti. Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.

Saat tulisan ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara  kakek saya yang sakit sudah meninggal . Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.