Tuesday, February 26, 2013

Ruang III

ulang tahunmu lewat sepuluh hari
sengaja aku abaikan agar ada jeda
karena kita seperti partikel dalam air
saling terkait tapi tak terlihat
senyum manismu berlalu sepuluh bulan
sengaja aku lupakan agar ada nafas
karena kita seperti mata
berdampingan tapi tak saling bertemu
janji renyahmu memudar dalam sepuluh tahun
tidak sengaja terbakar, apinya menjalar sampai ke ulu hatiku
ia membinasakan apa yang tidak ingin aku lupakan jadi abu dan puing puing kecil

pura-puralah lupa
saat kita menyilangkan hati
dan menyelipkan kata dalam ruang
seperti anak kecil berlari-lari di hutan

bayanganmu sepuluh menit lalu
sengaja aku simpan dalam bejana
karena kita seperti ruang yang dipisahkan antara

Sunday, February 24, 2013

Ruang IX

anak kecil yang kau lihat dulu
dengan satu lesung pipi dan rambut lurus berponi
itu aku
waktu itu aku empat belas dan kau entah berapa

anak kecil yang kau goda dengan sajak sajak
penuh teatrikal dan aku malu malu
mati matian menahan tawa
waktu itu aku baru lulus smp dan kau hampir lulus kuliah

aku anak kecil yang punya satu lesung pipi itu,
sekarang aku sudah besar
dan kau sudah terbang entah kemana
benar, aku anak kecil yang waktu itu
dan mungkin kau sudah lupa
bukankah sebelas tahun ruang yang terlalu lama untuk berjarak?

(reni, 230213)

Lamaran yang terlambat

Ada seorang teman yang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah, kematiannya adalah berita dukacita paling dalam bagi orang yang menyayanginya, karena teman tersebut adalah seorang gadis manis yang baik pekertinya. Rahma namanya. Gadis manis berjilbab ini sangat disayang keluarga dan teman-temannya. Rahma tak hanya pandai, ia juga rajin dan cekatan serta ramah pada siapa saja.

Suatu ketika datanglah sebuah lamaran padanya dari seorang manajer hotel ternama di kota kami. Sang manajer yang dulunya senior kami dikampus telah lama memendam rasa pada Rahma, kini saat merasa sudah mapan, dia berkenan melamar Rahma untuk dijadikan istri. Rahma menerima pinangan tersebut karna sang manajer datang dengan itikad dan cara yang baik. Maka tanggal pernikahan pun ditetapkan, karena masih terikat kontrak dengan hotel maka pernikahan baru bisa dilaksanakan setahun kemudian. Selama menunggu tersebut ternyata banyak terjadi ketidakcocokan antara mereka, sehingga empat bulan paska lamaran sang manajer secara sepihak membatalkan rencana pernikahan tersebut.

Satu bulan kemudian, sang manajer datang bersilaturahmi bersama sepupu dan seorang perempuan cantik yg dikenalkan sebagai pacar barunya. Rahma yang hatinya sangat terluka tetap menyambut baik kedatangan mantan calon suaminya itu. Dikenalkanlah ia dengan Haris, sepupu sang manajer yang bekerja sebagai penyiar radio swasta. Paska perkenalan terjalin hubungan baik antara Rahma dan Haris. Haris diam-diam menyukai Rahma, dia berempati pada gadis manis yang hampir dinikahi sepupunya itu.

Rahma sendiri, sejak pembatalan sepihak oleh sang manajer memendam trauma dalam hatinya, kesedihannya semakin mendekatkannya pada Allah Swt, sujud-sujud malamnya memberinya inspirasi untuk menguji laki-laki lain yang berniat melamarnya. Rahma memberi syarat pada siapapun yang hendak melamarnya harus hapal surat Ar-Rahman, baru Rahma bersedia dinikahi. Banyak laki-laki yang awalnya menyukainya perlahan mundur. Kecuali Haris, dengan memberanikan diri, Haris menyatakan keinginannya melamar Rahma.

Haris bukanlah pemuda kaya, tampan dan tidak pula alim. Solatnya saja masih bolong-bolong, jangankan surat Ar-Rahman, membaca Al-Qur'an saja ia jarang. Haris merasa seperti pungguk merindukan bulan. Pribadi Rahma yang membuatnya bertekad merubah diri, perlahan mulai ia tinggalkan kebiasan buruknya seperti merokok, dugem serta membiasakan diri solat sebisa mungkin diawal waktu. Dia juga mulai membaca Al-Qur'an, awalnya sangat berat bagi Haris untuk menjalaninya. Sang manajer yang tahu Haris berubah karena Rahma merasa cemburu, ada perasaan tak rela sepupunya menyukai Rahma. Karena perasaan itu sang manajer datang dan sekali lagi melamar Rahma. Rahma yang halus perasaannya tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Karena bimbang akhirnya ditetapkan siapa yang dalam tiga bulam lebih dulu bisa menghapal surat Ar-Rahman maka diterima lamarannya, selama tiga bulan mereka tidak diperkenankan bertemu atau menghubungi Rahma.

Selama proses menghapal Haris merasakan perubahan dalam hidupnya, sekarang ia benar-benar meninggalkan kebiasaan jeleknya. Dulu ia solat dengan terpaksa, namun kini Haris malah menemukan kenikmatan tersendiri dalam tiap ibadahnya. Maka bukan hanya yang wajib, kini yang sunnah pun mulai diamalkan Haris. Dia juga mulai berpuasa sunah dan rutin mengikuti pengajian. Ketika bisa menghapal surat Ar-Rahman ia tak langsung menemui Rahma, kini ketertarikannya bukan lagi sekedar soal lamaran atau cintanya pada Rahma, melainkan proses pencarian jati diri. Haris juga membaca arti dan mencoba memahami tafsir surat Ar-Rahman dari ulama. Baginya tak ada artinya kalau sekedar menghapal, dia ingin tahu apa makna surat tersebut. Kecintaannya mulai bergeser dari masalah dunia ke akhirat, kepada cinta hakiki yaitu Allah Swt.

Waktu tiga bulan berlalu, namun tak cukup bagi Haris untuk mempelajari semua. Haris kini serius mendalami Al-Qur'an, meskipun tidak menghapal seluruh isi Al-Qur'an tapi dia rutin membacanya setiap hari serta mempelajari tafsirnya.

Selang enam bulan Haris baru datang menemui Rahma, ia pasrah pabila Rahma telah memilih orang lain, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih sekaligus melihat Rahma yang telah membawa perubahan besar dalam hidupnya. Sampai dirumah Rahma yang menyambutnya seorang laki-laki paruh baya, ayah Rahma.
"Assalamualaikum, maaf pak, saya Haris teman Rahma, bisa saya bertemu Rahma"
Laki-laki itu memandang Haris lama kemudian menghela nafas "Waalaikumsalam, kamu nak Haris yang dulu juga berniat melamar Rahma?" Ia sekali lagi menghela nafas "Kemana saja kamu, Rahma sudah lama menunggu kamu"
Haris terkesiap, darahnya berdesir, dia mencintai wanita itu, tapi disuruh menjauh untuk mencari bekal agama dan Allah menetapkan hati wanita itu untuk menunggunya. Betapa indah rencana Tuhan.
"Maaf pak, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya" Haris bertutur tentang pencarian jati dirinya yang membuat ayah Rahma larut dalam kesedihan "Maaf pak, bisa saya bertemu Rahma?"
Laki-laki itu tersenyum, "Rahma telah lama menunggu kamu, belum ada yang bisa memenuhi syarat yang diajukan Rahma, termasuk sepupumu itu, tapi Rahma percaya nak Haris bisa" laki-laki itu diam sebentar "kamu ambilah wudu kemudian kita akan lihat apakah nak Haris telah memenuhi syarat yang Rahma ajukan"
Haris berwudu, kemudian duduk dihadapan laki-laki itu,  perlahan mulai melantunkan ayat-ayat indah dari surat Ar-Rahman lancar tanpa halangan sedikitpun. Takdir Allah berkehendak seperti itu.
Laki-laki itu menangis tanpa airmata, sesaat setelah Haris menyelesaikan hapalannya, ia berkata lirih
"Alhamdulillah, laki-laki seperti ini yang pantas mendampingi Rahma, seandainya kamu datang lebih cepat nak. Bapak minta maaf, bapak tidak tahu harus bilang apa, kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, Rahma yang selama ini menunggu kamu telah lebih dulu berpulang kepangkuan Illahi. Sebulan lalu ia jatuh dari tangga dan meninggal setelah dirawat dua hari di rumah sakit. Ba'da ashar lepas membaca surat Ar-Rahman, dia kembali dengan tenang ke pangkuan Sang Khalik, membawa serta kerinduannya padamu... "
Haris terpana
"Saat itu kami tidak tahu harus mencari nak Haris kemana, saat itu bapak berfikir kamu sudah menyerah dan tidak akan mungkin kembali lagi, bapak sangat marah, kecewa, sedih. Tapi saat ini melihat kamu datang bahkan dalam keadaan lebih baik dan mampu melampaui syarat yang diberikan putri bapak, rasanya bapak sangat bahagia"
Laki-laki itu menyerahkan Al-Quran yang dipegangnya, "Rahma sudah tidak ada, kamu harus tetap melanjutkan hidup, ambilah Al-Quran kepunyaan Rahma ini sebagai kenang-kenangan, tetaplah hidup dijalan ini, bapak bangga padamu"

Kita tidak tahu rahasia umur, hidup dan mati adalah rencana Tuhan. Karena hidup berbatas, lakukan lah yang terbaik sampai batas itu tiba. Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, maka carilah bekal yang banyak selagi kita hidup. Hidup adalah nikmat pemberian Tuhan, maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kau dustakan?

Saturday, February 23, 2013

Ruang II

aku senyum kecil diatas cup cake
berwarna ungu pucat dengan irisan melon
aku hantaran manis untuk ibu
dengan pita merah jambu dan secangkir teh
aku jerapah muda yang mencari alang alang
berambut keriting dan pipi bersemu coklat
aku semak perdu diatap rumah
menatap matahari dan menghitung bintang bintang
aku gorden usang diistana angan angan
ada renda kecil berlubang tertutup daun apel
aku sirup asam didalam pancake
melompat-lompat riang dalam rasa

aku ruang yang terbuka

Friday, February 22, 2013

Ruang I

kau bintang paling terang dijagad raya ini
berpendar-pendar dalam konspirasi alam raya
menggoda, memeluk, menghembuskan nafas kuning terang
kau bintang yang terus berputar di jagad raya ini

aku awan putih di sudut lingkaran bimasakti
menguntai bulir-bulir angan di kegamangan mendung
beriak, berpencar, mencurahkan warna biru kelam
aku awan kecil yang memutih di lingkaran bimasakti

bagaimana kita bertemu?
kau diam di langit ketujuh dan aku berarak di atap bumi

(reni, 200213)