Tuesday, January 31, 2017

Baik-baik Sekolah, Besok Kita Tidak Tahu Bakal Jadi Apa

Saya barusan melihat caption instagram artis, yang isinya kurang lebih uneg-uneg soal IPK, intinya, IPK tinggi itu karena rajin kuliah, ngerjain tugas ini itu, nurut sama dosen, dan lain-lain dan lain-lain, ujung-ujungnya bakalnya jadi karyawan.

Naif sekali ya.

Seolah-olah yang IPK tinggi pasti jadi karyawan, dan yang IPK rendah pasti berbakat dibidang seni atau nantinya akan jadi pengusaha.

Saya sudah pernah sekolah, tinggi, sampai lantai 4. Empat tahun lamanya, di Perguruan Tinggi Swasta terkenal suka demo-demo, dulu. Saya bisa mengatakan ini, karena umur, pengalaman, dan sudah saya alami.
Saya merasa, (dan ini subjektif sekali) saya berbakat di bidang seni, saya adalah pribadi yang lebih dominan dengan kecerdasan otak kanan, tapi IPK saya Alhamdulillah tetap tinggi. Saya tidak suka jurusan kuliah saya. Saya terpaksa kuliah Komunikasi karena gagal di jurusan yang saya pilih. Namun apa saya lantas malas-malasan dan berkilah dengan pembelaan :

"Ngapain juga dapet IPK tinggi-tinggi, paling nanti jadi karyawan, mending ngembangin bakat usaha, bakat seni yang mengalir di jiwa raga ini"

Tidak.
Saya belajar. Saya tahu saya buta ilmu ini, jadi saya tidak boleh gagal. Saya membaca, mencari tahu, bertanya, berkomunikasi dengan dosen, senior yang pintar, dengan google, pokoknya bagaimana agar kuliah ini tidak sia-sia.
Dan IP semester 1 saya, 3,6. Yang paling tinggi di stambuk saya. Itu karena saya bersungguh-sungguh.

Karena, yang bersungguh-sungguh lah yang akan berhasil.

Dan tidak pernah terbersit dalam diri saya, saya akan jadi karyawan. Atau pengusaha, atau seniman, atau apa saja. Lagipula kalau jadi karyawan pun kenapa rupanya.
Sekolah itu mendidik kita, membentuk pola fikir, mengembangkan kecerdasan, minat, bakat, menambah pergaulan, dan memberi bekal untuk masa depan kita. Apapun kita dimasa depan, penting menyiapkan bekal yang baik sejak sekarang.
Sudah ada kesempatan sekolah baik-baik ya dimanfaatkan. Punya nilai tinggi juga tidak ada ruginya sama sekali. Itu artinya kita pintar, kita mudah bergaul, paling tidak dengan semua jenis dosen, kita akan lebih mudah dipromosikan ke perusahaan terkenal, atau dikenal oleh pemilik modal. Jadilah pintar yang kreatif. Atau cerdas kita menyebutnya.

Mungkin kita merasa, kita seniman, atau artis, jadi nilai tinggi tidak terlalu penting. Haloooo, banyak artis internasional yang bisa lulus dengan nilai cumlaude. Lagipula sampai kapan sih kita bertahan di dunia keartisan. Lagipula kamu pikir seniman bodoh apa, justru seniman itu cerdas, tidak punya pikiran picik semacam : IPK tinggi hanya untuk kerja jadi karyawan. Itu namanya MALAS.

Atau mungkin kita mau jadi pengusaha. Kamu pikir jadi pengusaha tidak pakai ilmu? Ilmu analisa, bagaimana melihat peluang, bagaimana menciptakan pasar, bagaimana mengantisipasi kegagalan, bagaimana mencari solusi untuk masalah yang timbul, bagaimana menghasilkan uang, dan bagaimana mewujudkan ide. Apa yang mau dijual. Kalau kita belajar saja malas, bagaimana mau bersaing didunia usaha. Kamu fikir jadi pengusaha langsung ongkang-ongkang kaki traveling kesana kemari?
Iya, kalau usahanya diwariskan dari nenek moyang.
Kalau mulai dari nol, tidak ada kata istirahat. Yang ada hanya usaha dan terus usaha. Gagal berkali-kali, merasakan semuanya dari bawah sampai bisa sukses. Dan tentu jika kita pernah belajar, kita punya referensi, punya ilmu, atau minimal punya koneksi jadi akan lebih mudah memulainya. Ada modalnya lah.

Dan kalau jadi karyawan. Kenapa rupanya jadi karyawan. Tidak dosa toh? Bukankah karier yang bagus adalah impian semua orang. Lagipula, jika pintar kita akan lebih mudah dapat promosi, naik jabatan, naik gaji, dan ketahuilah, pria dan wanita rupawan dengan pekerjaan mantap lebih cepat diterima jadi menantu. 😁

Saya bukan karyawan, belum pula jadi pengusaha sukses. Saya hanya pemikir dan penulis uneg-uneg.

Apapun itu, jika sudah ada kesempatan sekolah, belajar baik-baik. Banyak yang mau sekolah tapi terkendala biaya. Mungkin perasaan kita, kita ini pemikir otak kanan, tapi jika takdir menghantarkan kita jadi pegawai bank, mau bilang apa?
Paling tidak kita punya ilmu untuk diwariskan ke anak cucu. Bukankah kita tidak mau jadi oramgtua naif yang pamer ke anak dengan kalimat,

"Mama dulu nilainya jelek, tapi sukses, daripada temen mama, nilainya A terus tuh cuma kerja jadi pegawai"

Jangan, jangan ajarkan anak kita jadi orang bodoh yang sombong.

Kita tidak tahu masa depan akan jadi seperti apa, tapi kita tahu menyiapkan bekal terbaik adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Dan jadi apapun kita, penting sekali untuk tidak merendahkan pekerjaan orang lain, siapa sih kita?

No comments:

Post a Comment

monggo yang mau komen .. :)