Friday, November 29, 2013

Ada Apa Dengan Pintu Depan?

Seringkali saya tak habis fikir. Hampir sepuluh tahun tinggal dipemukiman padat penduduk ini, saya masih tidak bisa mengerti, kenapa orang-orang suka bertamu dari pintu belakang
Pintu depan rumah saya lebar, selain berhadapan langsung jaraknya juga tidak jauh dari pagar. Tapi kebanyakan tetangga, kerabat, sales bahkan pengemis lebih suka berjalan jauh menuju pintu dapur di belakang kurang, dengan alasan kami, sang empunya rumah pasti sedang ada dibelakang rumah. What the hell.
Padahal dari ruang keluarga kami bisa melihat jelas kalau-kalau ada yang bertamu lewat pintu depan. Justru tamu yang teriak-teriak dipintu belakang sering membuat blunder karena disangka anak-anak atau tetangga yang rumahnya terletak dibalik tembok belakang rumah kami.
Pak RT juga begitu, sejak belum jadi ketua Rukun Tetangga sampai sekarang, setiap berkunjung kerumah kami selalu dari pintu belakang, aaaaaaah dasar pimpinan yang tak bisa memberi contoh baik.
Ada juga seorang ibu yang berkunjung dikala magrib juga dari pintu belakng, orangtua teman adik saya yang juga diam-diam bertamu dari pintu belakang, padahal itu sudah malam! Ada lagi pengemis yang muncul selalu dari pintu belakang bahkan tak segan berusaha membuka pintu kalau kami tidak juga membuka pintu.
Pertanyaannya, saudara-saudara tidak bisakah kita bertamu dengan sopan, mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam, bukannya ngeloyor sok akrab kepintu belakang.
Tapi apa boleh buat, kebanyakan penduduk sini memang terbiasa bertamu dengan cara demikian, banyak yang bahkan memotong jalan melewati pekarangan rumah orang lain tanpa perlu izin apalagi merasa bersalah. Apalagi kalau sekadar bertamu dari pintu belakang, ah sudah biasa.

Thursday, June 6, 2013

Ayo, Jangan Ditunda



Seringkali ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu. dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
 
Dan beberapa hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang kampung.
Minggu malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan. Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking, terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih bingung dengan masalah pembayaran via atm).

Saya memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan langsung mengajak saya ke atm.
Kami berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar, ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran, kami beranjak pulang.

Hujan belum reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah, saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi waktu sujud dan duduk kaki saya perih.

Saya merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya, tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti. Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.

Saat tulisan ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara  kakek saya yang sakit sudah meninggal . Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.

Wednesday, May 29, 2013

Masa Depan, Milik Siapa?

Saya tinggal dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang masih tinggi, jarak antara tetangga hanya sebatas pagar. Dan kepedulian berseliweran disemua tempat, baik ataupun buruk. Termasuk kepedulian tetangga saya, tentang status saya.
Tadi pagi saya membeli mi instan, si empunya warung, yang baik hati bertanya pada saya,
'reni jadi gak kerja?'
saya tersenyum sambil menggeleng
'kenapa, gak boleh kerja ya?'
saya menggeleng 'gak bu, memang gag ngelamar kerja' kataku sambil berusaha mengingat-ingat dimana letak ijazahku
'jadi gimana masa depannya coba? sudah kuliah mahal-mahal tapi gak kerja'

saya terdiam, bingung harus menjawab apa, kalau hanya masalah kuliah tinggi-tinggi -sampai lantai 4, tapi sekarang tidak bekerja saya masih bisa berargumen, tapi kalau soal masa depan.
Masa depan milik Tuhan.

Ada orang yang menjadi pengangguran karena keadaan, namun saya dengan sengaja memilih menjadi indonesian idle dengan alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti kebanyakan orang.
Kuliah penting, bekerja penting, hidup juga penting. Tak perlulah saya berfalsafah panjang lebar tentang itu.
Kalau saya pribadi, terserahlah orang mau kuliah atau tidak, mau bekerja jadi apa yang penting halal, atau mau melakukan apa saja.
Tak perlulah kita risaukan masa depan kita apalagi masa depan orang, karena ia pasti datang. Jadi apapun itu, ia akan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi hidup kita. Maka, jadilah orang baik.

Saya teringat sebuah lagu lawas, yang saya lupa penciptanya, liriknya sangat bagus...

When i was just a little girl
I asked my mother what will i be
Will i be pretty, will i be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be