Seringkali saya tak habis fikir. Hampir sepuluh tahun tinggal dipemukiman padat penduduk ini, saya masih tidak bisa mengerti, kenapa orang-orang suka bertamu dari pintu belakang
Pintu depan rumah saya lebar, selain berhadapan langsung jaraknya juga tidak jauh dari pagar. Tapi kebanyakan tetangga, kerabat, sales bahkan pengemis lebih suka berjalan jauh menuju pintu dapur di belakang kurang, dengan alasan kami, sang empunya rumah pasti sedang ada dibelakang rumah. What the hell.
Padahal dari ruang keluarga kami bisa melihat jelas kalau-kalau ada yang bertamu lewat pintu depan. Justru tamu yang teriak-teriak dipintu belakang sering membuat blunder karena disangka anak-anak atau tetangga yang rumahnya terletak dibalik tembok belakang rumah kami.
Pak RT juga begitu, sejak belum jadi ketua Rukun Tetangga sampai sekarang, setiap berkunjung kerumah kami selalu dari pintu belakang, aaaaaaah dasar pimpinan yang tak bisa memberi contoh baik.
Ada juga seorang ibu yang berkunjung dikala magrib juga dari pintu belakng, orangtua teman adik saya yang juga diam-diam bertamu dari pintu belakang, padahal itu sudah malam! Ada lagi pengemis yang muncul selalu dari pintu belakang bahkan tak segan berusaha membuka pintu kalau kami tidak juga membuka pintu.
Pertanyaannya, saudara-saudara tidak bisakah kita bertamu dengan sopan, mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam, bukannya ngeloyor sok akrab kepintu belakang.
Tapi apa boleh buat, kebanyakan penduduk sini memang terbiasa bertamu dengan cara demikian, banyak yang bahkan memotong jalan melewati pekarangan rumah orang lain tanpa perlu izin apalagi merasa bersalah. Apalagi kalau sekadar bertamu dari pintu belakang, ah sudah biasa.
Friday, November 29, 2013
Ada Apa Dengan Pintu Depan?
Thursday, June 6, 2013
Ayo, Jangan Ditunda
Wednesday, May 29, 2013
Masa Depan, Milik Siapa?
Saya tinggal dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang masih tinggi, jarak antara tetangga hanya sebatas pagar. Dan kepedulian berseliweran disemua tempat, baik ataupun buruk. Termasuk kepedulian tetangga saya, tentang status saya.
Tadi pagi saya membeli mi instan, si empunya warung, yang baik hati bertanya pada saya,
'reni jadi gak kerja?'
saya tersenyum sambil menggeleng
'kenapa, gak boleh kerja ya?'
saya menggeleng 'gak bu, memang gag ngelamar kerja' kataku sambil berusaha mengingat-ingat dimana letak ijazahku
'jadi gimana masa depannya coba? sudah kuliah mahal-mahal tapi gak kerja'
saya terdiam, bingung harus menjawab apa, kalau hanya masalah kuliah tinggi-tinggi -sampai lantai 4, tapi sekarang tidak bekerja saya masih bisa berargumen, tapi kalau soal masa depan.
Masa depan milik Tuhan.
Ada orang yang menjadi pengangguran karena keadaan, namun saya dengan sengaja memilih menjadi indonesian idle dengan alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti kebanyakan orang.
Kuliah penting, bekerja penting, hidup juga penting. Tak perlulah saya berfalsafah panjang lebar tentang itu.
Kalau saya pribadi, terserahlah orang mau kuliah atau tidak, mau bekerja jadi apa yang penting halal, atau mau melakukan apa saja.
Tak perlulah kita risaukan masa depan kita apalagi masa depan orang, karena ia pasti datang. Jadi apapun itu, ia akan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi hidup kita. Maka, jadilah orang baik.
Saya teringat sebuah lagu lawas, yang saya lupa penciptanya, liriknya sangat bagus...
When i was just a little girl
I asked my mother what will i be
Will i be pretty, will i be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be