Saya tinggal dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang masih tinggi, jarak antara tetangga hanya sebatas pagar. Dan kepedulian berseliweran disemua tempat, baik ataupun buruk. Termasuk kepedulian tetangga saya, tentang status saya.
Tadi pagi saya membeli mi instan, si empunya warung, yang baik hati bertanya pada saya,
'reni jadi gak kerja?'
saya tersenyum sambil menggeleng
'kenapa, gak boleh kerja ya?'
saya menggeleng 'gak bu, memang gag ngelamar kerja' kataku sambil berusaha mengingat-ingat dimana letak ijazahku
'jadi gimana masa depannya coba? sudah kuliah mahal-mahal tapi gak kerja'
saya terdiam, bingung harus menjawab apa, kalau hanya masalah kuliah tinggi-tinggi -sampai lantai 4, tapi sekarang tidak bekerja saya masih bisa berargumen, tapi kalau soal masa depan.
Masa depan milik Tuhan.
Ada orang yang menjadi pengangguran karena keadaan, namun saya dengan sengaja memilih menjadi indonesian idle dengan alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti kebanyakan orang.
Kuliah penting, bekerja penting, hidup juga penting. Tak perlulah saya berfalsafah panjang lebar tentang itu.
Kalau saya pribadi, terserahlah orang mau kuliah atau tidak, mau bekerja jadi apa yang penting halal, atau mau melakukan apa saja.
Tak perlulah kita risaukan masa depan kita apalagi masa depan orang, karena ia pasti datang. Jadi apapun itu, ia akan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi hidup kita. Maka, jadilah orang baik.
Saya teringat sebuah lagu lawas, yang saya lupa penciptanya, liriknya sangat bagus...
When i was just a little girl
I asked my mother what will i be
Will i be pretty, will i be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be
No comments:
Post a Comment
monggo yang mau komen .. :)