Sunday, April 28, 2013

Sebenernya saya tidak mau cerita ...

Suatu hari saya menemani ibu saya belanja sayur di kedai dekat rumah. Tidak ramai, hanya ada seorang pembeli yang saya kenal tinggal didekat rumah saya, dan seorang pembeli lain yg sudah cukup sepuh dan cukup dihormati di kampung kami. Ketika ibu sedang sibuk memilih sayur dan saya sibuk memain2kan tauge didepan saya, datang seorang ibu muda, biasa saja. Tetangga saya itu, langsung menyapanya hangat, bertanya kenapa lama tidak kelihatan, benarkah dia pindah rumah, dengar2 suaminya.....  dan kemudian terjadilah curcol ditempat tersebut.

Sang ibu muda dengan wajah memelas bercerita bahwa ia merasa teraniaya, saya yang berada tepat disebelahnya tentu saja mendengar semua curhatannya. Bahwa ia 'diusir' dari rumah sebelumnya yang ia tempati, karena ia harus 'berbagi' dengan adiknya. Kemudian mengalirlah cerita cerita sedih lain, bahwa ia begini begitu dan lain lain, sebenarnya saya jengah, saya tak suka mendengar ibu ibu bergosip, karena semua kalimatnya biasanya bersifat subjektif.

Kamudian sampailah ia pada cerita bahwa adik iparnya begitu jahat, keluarlah kalimat seperti ini,

'Sebenarnya saya tidak mau bilang...., yah dia kan saudara saya juga, tapi..... '

dan kemudian kalimat demi kalimat meluncur mulus dari mulutnya menceritakan 'balada sang adik ipar' sambil sesekali diselingi kalimat
'Sebenarnya saya tidak mau bilang sih... '
Tetangga saya ikut membuat panas dengan memberi informasi bahwa si adik ipar (yg ternyata dia kenal juga) memang bertabiat buruk, sang sepuh hanya manggut2 dan membenarkan perbuatan jahat itu tidak baik, sementara sang ibu muda diatas angin dibelai memedi, tetap bercerita dengan raut sedih sambil berujar
'Ia kan sebenarnya saya tidak mau bilang, tidak mau cerita cerita.... '

Ibu siap berbelanja, tauge sudah tidak saya main mainkan lagi, saya menggandeng tangan ibu, sambil berjalan pulang saya berujar
'Kalau gag mau cerita, yah ngapain diceritain...'
kemudian kami tertawa, tentunya dalam hati.
Ah, sebenarnya saya tidak mau cerita....

Harga Diri, Menghargai, Penghargaan

Semalam saya belajar banyak tentang menghargai, atau belajar menghargai orang lain. Berawal dari permintaan kakak yg meminta saya mengambil berkas ke kantor pusat kerjaannya di Medan, saya menyanggupi dan membuat janji dg org yg bersangkutan di kantor tsb via kakak saya, akan datang pukul setengah sebelas.
Keesokan harinya, atau tepatnya semalam (27/04/13) saya datang bersama adik tepat waktu, puku .10:30 kami sampai di pelataran parkir kantor tsb, saya menelepon org yg bersangkutan, sebut saja koplak.
'Pagi bg koplak, (saya memperkenalkan diri) saya sudah sampai di parkiran'
'Oh sudah diparkiran ya, gimana yya, saya lagi ad urusan penting ini, tunggu sampai jam 12 ya, gag papa kan, nti jam 12 datang lg'
saya terdiam, terpana, terbata.
Kemudian percakapan selesai, tentu saja saya kesal kemudian menelepon kk saya dan protes
Dia menyarankan saya menunggu di restoran fastfood di dekat situ.
Saya dan adik saya kemudian menunggu sambil makan siang di restoran fastfood tsb. Pukul 11.30 saya mengirim sms kepada saudara koplak,
'Maaf bg koplak, saya masih ad urusan penting lg abis ini, saya tunggu jam 12 pas, tp direstoran fastfood saja, soalnya saya nunggu disini'
Taklama saya ditelepon oleh kk saya yang marah karna kami mengirim sms kepada saudara koplak, menurut kk saya, saudara koplak tersinggung dan menyuruh kami pulang saja.
Saya tentu tidak terima, kurang ajar betul saudara koplak itu, jadi buat apa dia membuat kami menunggu satu jam. Terus terang saya tidak suka org terlambat, menunggu lima menit saja saya enggan, apalagi sampai satu jam.
Kemudian adik saya iseng berkata, coba sms lagi, maka kami kembali mengirim sms
'begitu saja marah bg, kami menunggu satu jam saja tidak marah, baiklah kami pulang'
kemudian kk saya kembali menelepon dan marah, menurutnya sikap kami bisa membuat berkasnya ditahan dan tidak diberikan.
Kemudian kk saya mengirim saya sms,
'Aku tw dia gag tepat janji, tapi birokrasi itu beda reni, gag bisa idealis ky gitu. Lagipula kw kan gag kenaL sama dy,  kenapa ky gitu ngomongnya. Ak tw dy salah karna terlambat, tp kalian juga gag bisa berlaku ky gitu. Ini nasihat buat kalian, pikirkan akibatnya sebelum bicara, mungkin gag ad akibatnya buat kalian, tp ad buat ak, yawda mw diapain lg, ini bukan soal perlu atau gag perlu, bukan soal siapa dia, tapi soal etika'

1. Apabila saudara koplak memang tidak bisa datang pada hari sabtu dengan alasan libur (perlu diingat bahwa yang libur hari sabtu bukan dia saja) dia tidak perlu mengiyakan janji untuk pengambilan berkas pada hari sabtu.

2. Saya baru dapat nomor hp saudara koplak pada hari sabtu pukul 10.00 pagi, sejauh ini janji dibuat via kk saya, maka saya pikir semua sudah beres, kami datang tepat waktu dan saudara koplak dengan alasan urusan penting mengulur waktu sampai satu setengah jam kemudian dan kami menyanggupi.

3. Saya memang masih punya janji lain sehabis itu, dan saya takut saudara koplak akan datang terlambat lagi, karna itulah saya mengirim sms agar dia datang tepat waktu (tidak ada etika yg salah disini). Kenapa saya menyuruh datang ke restoran fastfood, karena restoran itu satusatunya tempat yang paling strategis untuk menunggu, letaknya tidak sampai 500 meter dr kantor tsb.

4. Saudara koplak benar benar tidak menghargai saya, karena dy bukannya menyampaikan kepada saya, tapi malah repot2 menghubungi kk saya hanya untuk menyuruh kami pulang. Jelas jelas yg menunggu dia itu saya bukan kk saya.

5. birokrasi bukan alasan untuk tidak menghargai orang lain, sekalipun anda presiden anda harus menepati janji yang sudah anda buat, apalagi ands bukan bukan presiden.

6. Terus terang saya sakit hati. Apakah salah ketika saya mengingatkan seseorang agar datang tepat waktu, kenapa org yg tidak tepat janji, bahkan sudah meremehkan janji tetap dibela dan dianggap benar dg alasan birokrasi. Birokrasi sampah!

7. Masalah berkas yang dikhawatirkan tidak diberikan. Berkas adalah hak mutlak kalian, dan kalian membayar. Hanya org bodoh yg tidak memperoleh berkas yg memang mutlak hak nya.

Saya tersenyum, ketika adik saya yg juga jadi korban dalam masalah ini, mengirim pesan singkat kepada kk saya, yg biasa dipanggilnya mbak

'Ini pelajaran untuk mbak, ini bukan masalah etika, tapi harga diri, harga diri mbak, harga diri kami, harga diri dia juga, mau sampai kapan dia bersikap ky gitu? Mau sampai kapan dia gag bisa dewasa? Ini bukan masalah berkas mbak, gag mungkin ditahannya berkas itu, paok x kalau berkasnya sampai gag dikasi. Ini masalah attitude dia, jgn mentang mentang yg dicari dy bisa kekanak kanakan ky gitu, harusnya mbak sadar, dunia ini keras, kalau 'enggih' aja sama orang kita yang dipijak pijak'

Kami memang tidak mengerti soal birokrasi, apalagi birokrasi macam sampah yang kalian anut itu.

Thursday, April 18, 2013

Manisnya kejujuran

Beberapa waktu lalu saya menemani bapak undangan ke daerah Kisaran, dalam perjalanan pulang ke Medan, tentu saja kami melewati rute Pasar Bengkel yang terkenal akan dodolnya.
Sekian banyak toko berjejer rapi menawarkan rupa-rupa makanan manis nan legit berwarna hitam pekat itu. Ditambah cemilan cemilan lain dan aneka minuman ringan. Semarak dan menggoda..
Banyak toko besar kami lewati, tapi mobil tak kunjung berhenti untuk membeli buah tangan. Sampai hampir akhir batas deretan toko, kami baru menepi, disebuah toko sederhana, sepi dan begitu tenang. Dodol Tekad, tertera di plang nama depan toko. Penjualnya seorang nenek tua yang terlihat bersahaja menanti pembeli datang.
Terlintas suudzon, sedikit kesal dan heran, kenapa tidak berhenti di toko lain saja yg lebih 'hidup', yg lebih bervariasi dagangannya, dan setengah berbisik saya bertanya pada bapak
'Pak, kok beli disini sih, dikit tuh jualan'a' ujar saya misuh misuh. Bapak cuek saja.
Tak dinyana, saat saya sedang mematung bingung hendak membeli apa, sang nenek berkata pelan
'Ini dodol lama, sudah dua hari, kalau mw beli kesebelah saja'
saya melongo, sumpah tak habis pikir. Di era persaingan yg ketat ini, dengan jumlah kompetitor bukan main banyaknya, sang nenek dengan legowo, tenang dan mantap, mengaku bahwa dodol yg ia jual sudah tidak fresh lagi, dan bahkan menyarankan agar kami pindah kesebelah dan membeli ditempat saingannya saja (yg belum tentu menyediakan dodol baru juga)
Saya terdiam, bapak jelas tidak mendengar titah sang nenek, saya pun tak mengadu, hanya menelan bulat bulat pengakuan jujur sang nenek, pun tak beranjak ke toko sebelah sesuai sarannya. Alih alih tangan saya malah memilih milih aneka penganan -dan dodol of course, begitu banyaknya (untuk ukuran keluarga kami yg hanya berempat) sambil tersenyum manis pada sang nenek.

Cerita berlanjut. Kilaf membeli aneka oleh oleh memang menyebalkan, karena sampai dirumah kami tak berniat untuk menghabiskannya. Selang berapa hari, saya teringat ada dodol yg belum dimakan, ada rasa was was, takut takut dodol sudah berjamur, namun setelah dilihat, ternyata dodol masih dalam keadaan toyib tidak kurang suatu apapun dan tidak bertambah satu viruspun. Bersih, tetap hitam mengkilat dan sama sekali tidak mengeras. Saya coba sedikit, hem maniis.
Jadilah kami sekeluarga ngemil dodol, saat itu saya baru berujar apa yang terjadi antara saya, si nenek dan dodol manis ini berapa waktu yg lalu, bapak tidak kaget, dy berkata
'Itulah penjual yg jujur, mengakui cacat dagangannya, tapi masih enak juga kan dodolnya'
Dari sanalah mengalir cerita, bahwa si nenek termasuk generasi awal yg berjualan di Pasar Bengkel, dahulu usahanya yg paling maju, dodolnya terkenal enak dan legit. Saat zaman semakin maju dan saingan semakin banyak perlahan usaha dodol harus berbagi pelanggan dengan toko lain, apalagi toko toko lain menawarkan rupa rupa makanan lain yg menggoda, tempat yg lebih luas, bersih dan menarik.
Sejak sang suami pergi menghadap Sang Khalik terlebih dahulu, usaha ini kehilangan gairahnya.
Sang nenek diusia senja, sudah tidak lagi ngoyo memikirkan materi, hanya kebiasaan mungkin yang membuatnya bertahan ditambah sekelumit kenangan manis saat masih berdua membuat dodol yang membuatnya tetap setia menunggu pembeli. Karena itu ia bisa legowo mengakui kualitas dodolnya dan ikhlas bila pembeli toh akhirnya tak jadi berbisnis dengannya,
Tapi saya tahu pasti, bahwa cinta dan kejujurannya yang membuat dodol itu terasa legit dan manisnya menempel sangat lekat dalam ingatan saya.