Thursday, April 18, 2013

Manisnya kejujuran

Beberapa waktu lalu saya menemani bapak undangan ke daerah Kisaran, dalam perjalanan pulang ke Medan, tentu saja kami melewati rute Pasar Bengkel yang terkenal akan dodolnya.
Sekian banyak toko berjejer rapi menawarkan rupa-rupa makanan manis nan legit berwarna hitam pekat itu. Ditambah cemilan cemilan lain dan aneka minuman ringan. Semarak dan menggoda..
Banyak toko besar kami lewati, tapi mobil tak kunjung berhenti untuk membeli buah tangan. Sampai hampir akhir batas deretan toko, kami baru menepi, disebuah toko sederhana, sepi dan begitu tenang. Dodol Tekad, tertera di plang nama depan toko. Penjualnya seorang nenek tua yang terlihat bersahaja menanti pembeli datang.
Terlintas suudzon, sedikit kesal dan heran, kenapa tidak berhenti di toko lain saja yg lebih 'hidup', yg lebih bervariasi dagangannya, dan setengah berbisik saya bertanya pada bapak
'Pak, kok beli disini sih, dikit tuh jualan'a' ujar saya misuh misuh. Bapak cuek saja.
Tak dinyana, saat saya sedang mematung bingung hendak membeli apa, sang nenek berkata pelan
'Ini dodol lama, sudah dua hari, kalau mw beli kesebelah saja'
saya melongo, sumpah tak habis pikir. Di era persaingan yg ketat ini, dengan jumlah kompetitor bukan main banyaknya, sang nenek dengan legowo, tenang dan mantap, mengaku bahwa dodol yg ia jual sudah tidak fresh lagi, dan bahkan menyarankan agar kami pindah kesebelah dan membeli ditempat saingannya saja (yg belum tentu menyediakan dodol baru juga)
Saya terdiam, bapak jelas tidak mendengar titah sang nenek, saya pun tak mengadu, hanya menelan bulat bulat pengakuan jujur sang nenek, pun tak beranjak ke toko sebelah sesuai sarannya. Alih alih tangan saya malah memilih milih aneka penganan -dan dodol of course, begitu banyaknya (untuk ukuran keluarga kami yg hanya berempat) sambil tersenyum manis pada sang nenek.

Cerita berlanjut. Kilaf membeli aneka oleh oleh memang menyebalkan, karena sampai dirumah kami tak berniat untuk menghabiskannya. Selang berapa hari, saya teringat ada dodol yg belum dimakan, ada rasa was was, takut takut dodol sudah berjamur, namun setelah dilihat, ternyata dodol masih dalam keadaan toyib tidak kurang suatu apapun dan tidak bertambah satu viruspun. Bersih, tetap hitam mengkilat dan sama sekali tidak mengeras. Saya coba sedikit, hem maniis.
Jadilah kami sekeluarga ngemil dodol, saat itu saya baru berujar apa yang terjadi antara saya, si nenek dan dodol manis ini berapa waktu yg lalu, bapak tidak kaget, dy berkata
'Itulah penjual yg jujur, mengakui cacat dagangannya, tapi masih enak juga kan dodolnya'
Dari sanalah mengalir cerita, bahwa si nenek termasuk generasi awal yg berjualan di Pasar Bengkel, dahulu usahanya yg paling maju, dodolnya terkenal enak dan legit. Saat zaman semakin maju dan saingan semakin banyak perlahan usaha dodol harus berbagi pelanggan dengan toko lain, apalagi toko toko lain menawarkan rupa rupa makanan lain yg menggoda, tempat yg lebih luas, bersih dan menarik.
Sejak sang suami pergi menghadap Sang Khalik terlebih dahulu, usaha ini kehilangan gairahnya.
Sang nenek diusia senja, sudah tidak lagi ngoyo memikirkan materi, hanya kebiasaan mungkin yang membuatnya bertahan ditambah sekelumit kenangan manis saat masih berdua membuat dodol yang membuatnya tetap setia menunggu pembeli. Karena itu ia bisa legowo mengakui kualitas dodolnya dan ikhlas bila pembeli toh akhirnya tak jadi berbisnis dengannya,
Tapi saya tahu pasti, bahwa cinta dan kejujurannya yang membuat dodol itu terasa legit dan manisnya menempel sangat lekat dalam ingatan saya.

No comments:

Post a Comment

monggo yang mau komen .. :)