Seperti biasa, saya menemani ibu saya berbelanja sayur mayur. Kali ini saya cukup arif untuk tidak main-main dengan tauge ataupun sayur jenis apapun lainnya.
Tapi tampaknya kali ini saya sudah memicu perdebatan antara ibu-ibu yang suka sekali berdiskusi ini. Ceritanya saya minta dibelikan celengan ayam untuk menggantikan celengan beruang saya yg sudah penuh (selain di bank, saya juga masih menabung di celengan tradisional, ah epic sekali).
Ibu membelikan saya sebuah celengan ayam warna kuning, yang kemudian saya peluk erat.
Tahayul dimulai.
'Jangan nabung dicelengan kayak gini, nanti bisa kosong' kata seorang ibu yang memang terkenal nyinyir.
Saya tersenyum.
'Ia, nanti uangnya diambil'
Saya tetap tersenyum sambil memeluk sicelengan.
Ibu lain menimpali, 'ia memang celengan ky gitu gag aman'
yang lain menambahkan 'uangnya diiket dulu sebelum ditabung'
Ibu nyinyir itu setuju,
'Ia, nanti uangnya diiket karet dulu baru ditabung, biar gag ilang'
Saya tetap tersenyum manis, tak menanggapi, tidak membantah tapi tak pula menyetujui.
Kelihatannya sikap saya membuat ibu nyinyir itu kesal, karena saya bandel seperti tak percaya, padahal memang tidak.
Ibu sudah selesai belanja, saya menggandeng tangannya, sebelah tangan saya memegang celengan ayam warna kuning. Saya terkikik.
Tentu saja celengannya akan kosong, kalau tidak pernah diisi.
Kalau uang tak dikareti bisa hilang padahal ia ada dalam celengan, apa bedanya dengan uang yang diberi karet. Kalau hantu blau bisa mengambil uang dalam celengan, apa susahnya buat ia sekalian melepas karet pengikat uangnya?
Saya tak percaya tahayul, tapi saya percaya setan ada dimuka bumi ini, dan memberantasnya bukan dengan karet gelang atau tahayul-tahayul semacamnya yang berkembang dimasyarakat.
Sungguh, saya tak meremehkan setan. Saya hanya percaya, Tuhan ada untuk melindungi kita dari godaan setan dan tahayul yang terkutuk.
No comments:
Post a Comment
monggo yang mau komen .. :)