Wednesday, May 15, 2013

Menikah, Ah Mahal Nian



berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Begitulah kira-kira kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepada saya ketika dia berniat melamar saya untuk jadi istrinya. Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak bisa dijawab dengan jawaban yang juga sederhana. Karena budaya pernikahan di Indonesia juga ternyata tidak sederhana.
Saya sering, berulang kali menjadi ‘pesuruh’ dalam sebuah pesta pernikahan. Mulai dari menjadi pengiring pengantin, pembawa bale bagi mempelai perempuan, penjaga buku tamu sampai yang paling melelahkan tentu saja, penjaga hidangan pesta.
Dan tidak ada yang sederhana dalam pesta pernikahan.

Saya berulang kali menekankan, tentang prinsip pernikahan yang saya anut, bahwa pernikahan itu sederhana, ada mempelai pria dan wanita –dan cinta, ada wali nikah, saksi dan mas kawin. Dan sebaik-baik perempuan adalah yang paling mudah mas kawinnya. Maka ketika saya menikah nanti, inshaAllah semua juga akan sesederhana itu, tidak perlu lah pesta bermegah-megah, cukup syukuran semata, dengan anak-anak yatim piatu, sanak saudara dan kaum kerabat.

Tampaknya tak sesederhana itu.


Ambil contoh, teman saya yang akan segera menikah menjadikan saya sparing patner-nya untuk mengurus tetek bengek proses menuju pernikahannya. Mulai dari lamaran sampai nanti pestanya. Dia cerewet sekali, minta ampun. Karena calon suaminya bekerja di luar kota, maka masalah hantaran diserahkan sepenuhnya kepada teman saya. Maka saya berbesar hati menemaninya berbelanja hantaran yang minta ampun capeknya. Mulai dari kain kebaya, perlengkapan solat, bed cover,  tas, sandal, perlengkapan mandi, make-up sampai linggerie. Itu belum terhitung saat dia mengajak saya melihat-lihat lemari pakaian, tempat tidur, meja rias bahkan kitchen set di Home Centra. Kemudian buah-buahan dan kue juga. Semakin kompleks karena semuanya tematic, serba ungu-emas (maklum, dia penggemar warna ungu), walau paket hantaran itu akhirnya berubah menjadi warna warni –hijau, ungu, pink, emas dan krem.
Saya bertanya, ‘apakah harus, ia memberikan barang-barang seperti ini kepadamu?’
Dan jawabannya ringan saja, ini sekedar tanda pengikat, buah tangan, tanda keseriusannya untuk melamar, lagipula sudah adatnya begitu, kata teman saya sambil membolak-balik katalog perhiasan merk terkenal.
Baiklah, calon suami teman saya memang orang berada, ringan saja ia mengucurkan dana untuk membeli semua hantaran itu yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.

Ketika lamaran berlangsung pihak pria juga akan menyerahkan sejumlah uang untuk pihak wanita, yang nominalnya bisa mencapai puluhan juta. Kemudian dibicarakan bagaimana pesta nanti akan berlangsung. Dengan adat apa, diselenggarakan dimana, berapa orang yang akan diundang, dan lain-lain yang mengikutinya.
Pesta itu sendiri, akan berlangsung sangat meriah, tenda warna-warni bergelombang meriah bukan main. Lalu ada pelaminan yang dihias rupa-rupa bunga –kadang ada air mancurnya, baru-baru ini malah ada air terjunnya, kemudian perias pengantin yang mukanya bertekuk-tekuk macam tisu makan itu akan memakaikan macam-macam pakaian, adat apa bilang saja, minang, jawa, batak, aceh, palembang, semua dia punya, make up, bereslah, yang jelas ketika melihat hasil dempulannya, saya haqqul yaqin air wudhu tak akan tembus kewajah.

Itu baru wardrobe. Belum undangan, cinderamata, seragam anggota keluarga, foto pra wedding, foto pernikahannya, kemudian katering, pengiring pengantin, kursi, meja, dan yang tak boleh ketinggalan, hiburan dari yang kekota-kotaan dengan home band plus saxofone nya sampai hiburan rakyat –organ tunggal, yang biduannya bisa meliuk-liuk lebih dahsyat dari ulat bulu.  Dan semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Uang ketika hantaran itulah yang kemudian digunakan untuk menutupi biaya pesta pernikahan, kalau orang tua mempelai berasal dari golongan priyai, atau pengusaha terkenal atau minimal bekerja di kantor pemerintah yang bonafit, maka pesta pernikahan anak adalah ajang untuk membuktikan eksistensi diri. Tapi tak apalah semua dilakukan demi buah hati yang kasmaran, demi menjadikan mereka raja dan ratu sehari.

Saya angkat tangan. Bergidik, kalau, kalau calon suami saya misalnya bekerja sebagai karyawan yang gajinya, anggaplah tiga juta rupiah sebulan, dan biaya pernikahan, anggaplah 50 juta rupiah, perlu berapa bulan dia menabung sampai bisa menyelenggarakan pesta berbudget puluhan juta itu. Bayangkan, puluhan juta rupiah habis dalam sehari, sementara dibalik tembok rumah kita yang kokoh mungkin ada tetangga kita yang kesulitan membayar uang sekolah anaknya. Di balik gegap gempita dentuman lagu mungkin  ada tetangga kita yang baru bisa makan setelah banting tulang berhari-hari –itupun cuma dengan tempe goreng.
Bayangkan, jika puluhan juta itu disumbangkan saja ke anak-anak yatim, mereka akan bersuka cita mendoakan sang pengantin agar langgeng dunia akhirat, karena jujur saja terkadang saya tidak sempat mendoakan pengantin yang menggelar hajat itu, salaman pun hanya sekilas, yah ucapan selamat yang basi, apalagi kalau saya tidak begitu kenal pengantinnya, malah terkadang tidak sempat bertemu pengantinnya karena terlalu lama dirias. Atau jika uang itu digunakan untuk syukuran sederhana dan sisanya disimpan saja sebagai modal usaha, untuk menyewa rumah, atau tabungan pendidikan bagi calon anak kelak.

Semua karena adat, kebiasaan, budaya yang mengakar di masyarakat bak ditempel dengan lem setan, susah dilepas dan dihilangkan. Adat upah-upah, melempar-lempar kembang, berputar-putar dan dinyanyi-nyanyikan sekelompok ibu-ibu nasyid itu tak kena dalam islam. Tak perlu berbantah-bantah, jelas dalam pelajaran munakahat apa-apa saja syarat sah pernikahan. Pengabaran pernikahan tak perlu dengan pesta pora berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu sifatnya setan. Tak perlu memaksakan diri demi sebuah pesta, demi menjadi raja dan ratu sehari. Saya kenal seorang kerabat yang demi menggelar pesta mewah sampai harus berhutang sana-sini, ada juga yang sampai menjual mobil, rumah bahkan tanah perkebunan.

Tak perlu hantaran, lemari kayu jati, tempat tidur berukir-ukir kalau nantinya tinggal pun masih menumpang di rumah mertua. Tak perlu pesta besar-besaran yang menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga, kalau bahkan keriuhannya hanya dinikmati sehari –bahkan kadang tak bisa dinikmati.
Ah budaya ...

Maka ketika ditanya, ‘berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Saya menjawab sekenanya ‘berilah sebanyak jumlah asma Allah, sanggup kah?’
‘Banyak sekali, bisa ditawar’
Saya tergelak, ini bukan jual beli. Saya bukan dagangan. Kita tidak sedang berbisnis.
Pesta pernikahan, menjadi raja dan ratu sehari, ah konyol sekali. Saya tidak mau sehari. Saya mau selamanya jadi ratu dalam rumah tangga saya, bersama raja yang saya pilih menjadi imam saya.

Anggaplah semua kata-kata saya sangatlah naif. Saya hanya memimpikan satu masa, dimana adat tidak lagi menghalangi keyakinan seseorang untuk berbuat yang benar.

No comments:

Post a Comment

monggo yang mau komen .. :)