‘berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Begitulah kira-kira
kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepada saya ketika dia berniat melamar
saya untuk jadi istrinya. Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak bisa dijawab
dengan jawaban yang juga sederhana. Karena budaya pernikahan di Indonesia juga
ternyata tidak sederhana.
Saya sering,
berulang kali menjadi ‘pesuruh’ dalam sebuah pesta pernikahan. Mulai dari
menjadi pengiring pengantin, pembawa bale bagi mempelai perempuan, penjaga buku
tamu sampai yang paling melelahkan tentu saja, penjaga hidangan pesta.
Dan tidak
ada yang sederhana dalam pesta pernikahan.
Saya berulang
kali menekankan, tentang prinsip pernikahan yang saya anut, bahwa pernikahan
itu sederhana, ada mempelai pria dan wanita –dan cinta, ada wali nikah, saksi
dan mas kawin. Dan sebaik-baik perempuan adalah yang paling mudah mas kawinnya.
Maka ketika saya menikah nanti, inshaAllah semua juga akan sesederhana itu,
tidak perlu lah pesta bermegah-megah, cukup syukuran semata, dengan anak-anak
yatim piatu, sanak saudara dan kaum kerabat.
Tampaknya
tak sesederhana itu.
Ambil contoh,
teman saya yang akan segera menikah menjadikan saya sparing patner-nya untuk mengurus tetek bengek proses menuju
pernikahannya. Mulai dari lamaran sampai nanti pestanya. Dia cerewet sekali,
minta ampun. Karena calon suaminya bekerja di luar kota, maka masalah hantaran
diserahkan sepenuhnya kepada teman saya. Maka saya berbesar hati menemaninya
berbelanja hantaran yang minta ampun capeknya. Mulai dari kain kebaya,
perlengkapan solat, bed cover, tas,
sandal, perlengkapan mandi, make-up sampai linggerie.
Itu belum terhitung saat dia mengajak saya melihat-lihat lemari pakaian,
tempat tidur, meja rias bahkan kitchen set di Home Centra. Kemudian buah-buahan
dan kue juga. Semakin kompleks karena semuanya tematic, serba ungu-emas
(maklum, dia penggemar warna ungu), walau paket hantaran itu akhirnya berubah
menjadi warna warni –hijau, ungu, pink, emas dan krem.
Saya bertanya,
‘apakah harus, ia memberikan barang-barang seperti ini kepadamu?’
Dan jawabannya
ringan saja, ini sekedar tanda pengikat, buah tangan, tanda keseriusannya untuk
melamar, lagipula sudah adatnya begitu, kata teman saya sambil membolak-balik
katalog perhiasan merk terkenal.
Baiklah, calon
suami teman saya memang orang berada, ringan saja ia mengucurkan dana untuk
membeli semua hantaran itu yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.
Ketika lamaran
berlangsung pihak pria juga akan menyerahkan sejumlah uang untuk pihak wanita,
yang nominalnya bisa mencapai puluhan juta. Kemudian dibicarakan bagaimana
pesta nanti akan berlangsung. Dengan adat apa, diselenggarakan dimana, berapa
orang yang akan diundang, dan lain-lain yang mengikutinya.
Pesta itu
sendiri, akan berlangsung sangat meriah, tenda warna-warni bergelombang meriah
bukan main. Lalu ada pelaminan yang dihias rupa-rupa bunga –kadang ada air
mancurnya, baru-baru ini malah ada air terjunnya, kemudian perias pengantin
yang mukanya bertekuk-tekuk macam tisu makan itu akan memakaikan macam-macam
pakaian, adat apa bilang saja, minang, jawa, batak, aceh, palembang, semua dia
punya, make up, bereslah, yang jelas ketika melihat hasil dempulannya, saya
haqqul yaqin air wudhu tak akan tembus kewajah.
Itu baru
wardrobe. Belum undangan, cinderamata, seragam anggota keluarga, foto pra
wedding, foto pernikahannya, kemudian katering, pengiring pengantin, kursi,
meja, dan yang tak boleh ketinggalan, hiburan dari yang kekota-kotaan dengan
home band plus saxofone nya sampai hiburan rakyat –organ tunggal, yang
biduannya bisa meliuk-liuk lebih dahsyat dari ulat bulu. Dan semuanya membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Uang ketika hantaran itulah yang kemudian digunakan untuk menutupi
biaya pesta pernikahan, kalau orang tua mempelai berasal dari golongan priyai,
atau pengusaha terkenal atau minimal bekerja di kantor pemerintah yang bonafit,
maka pesta pernikahan anak adalah ajang untuk membuktikan eksistensi diri. Tapi
tak apalah semua dilakukan demi buah hati yang kasmaran, demi menjadikan mereka
raja dan ratu sehari.
Saya angkat
tangan. Bergidik, kalau, kalau calon suami saya misalnya bekerja sebagai
karyawan yang gajinya, anggaplah tiga juta rupiah sebulan, dan biaya
pernikahan, anggaplah 50 juta rupiah, perlu berapa bulan dia menabung sampai
bisa menyelenggarakan pesta berbudget puluhan juta itu. Bayangkan, puluhan juta
rupiah habis dalam sehari, sementara dibalik tembok rumah kita yang kokoh mungkin
ada tetangga kita yang kesulitan membayar uang sekolah anaknya. Di balik gegap
gempita dentuman lagu mungkin ada
tetangga kita yang baru bisa makan setelah banting tulang berhari-hari –itupun cuma
dengan tempe goreng.
Bayangkan,
jika puluhan juta itu disumbangkan saja ke anak-anak yatim, mereka akan bersuka
cita mendoakan sang pengantin agar langgeng dunia akhirat, karena jujur saja
terkadang saya tidak sempat mendoakan pengantin yang menggelar hajat itu,
salaman pun hanya sekilas, yah ucapan selamat yang basi, apalagi kalau saya
tidak begitu kenal pengantinnya, malah terkadang tidak sempat bertemu pengantinnya
karena terlalu lama dirias. Atau jika uang itu digunakan untuk syukuran
sederhana dan sisanya disimpan saja sebagai modal usaha, untuk menyewa rumah,
atau tabungan pendidikan bagi calon anak kelak.
Semua karena
adat, kebiasaan, budaya yang mengakar di masyarakat bak ditempel dengan lem
setan, susah dilepas dan dihilangkan. Adat upah-upah, melempar-lempar kembang,
berputar-putar dan dinyanyi-nyanyikan sekelompok ibu-ibu nasyid itu tak kena
dalam islam. Tak perlu berbantah-bantah, jelas dalam pelajaran munakahat
apa-apa saja syarat sah pernikahan. Pengabaran pernikahan tak perlu dengan
pesta pora berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu sifatnya setan. Tak
perlu memaksakan diri demi sebuah pesta, demi menjadi raja dan ratu sehari. Saya
kenal seorang kerabat yang demi menggelar pesta mewah sampai harus berhutang
sana-sini, ada juga yang sampai menjual mobil, rumah bahkan tanah perkebunan.
Tak perlu
hantaran, lemari kayu jati, tempat tidur berukir-ukir kalau nantinya tinggal
pun masih menumpang di rumah mertua. Tak perlu pesta besar-besaran yang
menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga, kalau bahkan keriuhannya hanya
dinikmati sehari –bahkan kadang tak bisa dinikmati.
Ah budaya
...
Maka ketika
ditanya, ‘berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Saya
menjawab sekenanya ‘berilah sebanyak jumlah asma Allah, sanggup kah?’
‘Banyak
sekali, bisa ditawar’
Saya tergelak,
ini bukan jual beli. Saya bukan dagangan. Kita tidak sedang berbisnis.
Pesta pernikahan,
menjadi raja dan ratu sehari, ah konyol sekali. Saya tidak mau sehari. Saya mau
selamanya jadi ratu dalam rumah tangga saya, bersama raja yang saya pilih
menjadi imam saya.
Anggaplah semua
kata-kata saya sangatlah naif. Saya hanya memimpikan satu masa, dimana adat
tidak lagi menghalangi keyakinan seseorang untuk berbuat yang benar.
No comments:
Post a Comment
monggo yang mau komen .. :)