Sunday, February 12, 2017

Kaya, Sok Kaya, Baru Kaya

Beda memang, orang yang lahir sudah kaya raya dengan orang yang tiba-tiba jadi kaya. Beda kelasnya.
Memang tidak semua. Tapi kebanyakan seperti itu.

Efek tiba-tiba itu memang selalu mengagetkan. Ibaratnya dulu cuma makan tempe eh tiba-tiba bisa makan pizza. Dulu cuma jajan combro eh sekarang bisa posting-posting nongkrong di cafe yang harga kopinya bisa buat beli nasi padang berbungkus-bungkus.
Kaget,,ya pasti. Ada yang anteng mengantisipasi, ada yang norak setengah mati.

Orang yang dari lahir sudah kaya raya, sudah tidak butuh pengakuan lagi. Tidak butuh aktualisasi diri secara ekstrem. Karena yang katanya 'wah' itu memang sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi yang baru kaya, kebanyakan butuh ekspose sana-sini. Kalau makan di restoran jeprat - jepret dulu, kalau beli kopi yang gelasnya ditulis-tulis nama di aplod dulu. Kalau jalan-jalan naik mobil sama pacar, selfi sok candid dulu.
Kalau liburan bukan liburan, tapi ajang poto selfi sana-sini.

Karena yang beneran kaya, mau makan escargot atau pecel lele sudah sama saja. Kalau posting dimedia sosial pun biasanya menonjolkan kegiatan bersama teman atau keluarga, bukan barang yang dipakai. Kalau liburan sudah gak norak poto sana sini, soalnya sudah dari kecil.

Yang parah itu yang sok kaya. Orang Kaya Baru mendingan, norak pun memang kaya, lah yang sok kaya ini yang suka bikin geli kadang-kadang. Tidak punya tapi memaksa biar berkelas. Tidak bisa membedakan kenyataan dan angan-angan. Sampai segitunya ingin dibilang wah, demi terlihat kaya sampai rela hutang sana-sini. Bahkan yang lebih parah sampai mati-matian cari pacar kaya, kalau perlu suami orang juga tidak apa-apa.
Aduh jangan sampai begitu.

Kalau ngobrol yang suka bikin geli. Orang kaya beneran kalau ngobrol suka tahu diri. Bukan semua partner bisnisnya, jadi tidak perlulah ngomongin saham dan aset kesemua orang disemua tempat dan waktu. Ada masanya bersosialisasi dan masanya berbisnis. Orang kaya beneran biasanya tidak pelit, kalau kumpul diem-diem sudah bayarin semua.
Kalau baru kaya biasanya suka pamer, pamer baru beli tas mahal padahal masih kw juga, pamer perhiasan, pamer tiket pesawat. Kalau ketemu ngomongin tempat nongkrong yang katanya nge-hits, makanan yang lagi nge-hits, pokoknya semua yang hits-hits dia sudah nyobain, setiap waktu, setiap ada kesempatan, walau tidak ada yang bertanya, akan selalu berusaha show off, tapi sekali lagi, walaupun norak minta ampun, masih duit dia sendiri.
Yang sok kaya ini yang beneran tebel muka banget. Suka banget banggain harta orang lain. Pamer mobil pacarnya, pamer kerjaan pacarnya, pamer duit pacarnya. Yang tidak ada, di ada-adain dipaksa-paksain. Kasihan sih. Tapi merekanya aja tidak kasihan dengan diri mereka sendiri. Ya sudahlah

Saya sih punya temen, tajir melintir dari zaman baheula, orang belum punya mobil dianya udah bolak balik ganti. Jilbab belum sehappening sekarang dianya udah naik haji. Ya emang beda sih tabiatnya, dia nya sih biasa-biasa aja. Hidupnya biasa-biasa aja, padahal kaya nya banget-banget.
Saya juga punya kenalan yang baru ngerasain kaya. Noraknya minta ampun. Semua dipamerin, makan diresto dipamerin, beli baju ini itu dipamerin (duuh padahal dulu koleksi bajunya norak banget), sekali naik pesawat kudu buru-buru check-in place. Kalau cerita kayak dia doang yang punya duit, padahal begitu diajak cerita yang beneran high class dia nya tidak paham juga. Katanya kaya tapi pelitnya minta ampun. 😌😌 Ah sudahlah.

Bagaimanapun kondisi kita, ya hiduplah sewajarnya, sebatas kemampuan kita. Go have fun, tapi jangan sampai menyiksa diri juga. Bahagialah dengan apapun keadaan kita. Karena sebanyak apapun uang kita, kalau hanya mengejar pengakuan, tidak akan pernah ada habisnya.

Thursday, February 2, 2017

Pengusaha Sesungguhnya



Pernah lihat gambar diatas?

Saya lihat postingan gambar tersebut di Instagram seorang member mlm yang katanya halal. Saya benar-benar tergelitik. Karena caption yang ditulisnya,
"Ternyata perusahaan anda menerapkan sistem mlm juga"

Oh Dear ...
Di perusahaan, itu bukan sistem mlm, tapi struktur organisasi. Kamu pernah sekolah toh? Tahu kan sekolah itu ada Kepala Sekolah yang memimpin, ada wakil, bendahara, ada bagian kesiswaan, bagian administrasi, bagian tata usaha, bagian umum dan lain-lain, kemudian ada guru dan kita sebagai siswa-siswinya.
Atau dikeluarga, ada bapak sebagai kepala keluarga, ada ibu, ada anak-anak.
Atau di organisasi, ada ketua, ada sekretaris, bendahara, divisi ini itu, kemudian anggota.
Terus kalau begitu semuanya mlm dong.
Duuuh, makanya waktu sekolah belajar yang benar, biar gag keblinger.
Yang namanya struktur organisasi itu memang ada tingkatannya. Ada kewajiban dan tugasnya masing-masing. Dan satu orang tidak merekrut orang lain untuk bekerja seperti dia. Semua direkrut dari atas, dari bosnya. Dan gaji yang diterima pun sesuai dengan tugas dan kewajiban, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan sekali lagi, tidak ada kewajiban merekrut orang dibawahnya (mencari downline) seperti sistem mlm.

Di mlm itu, ada upline dan downline. Mau yang haram atau halal, ada atau tidak ada sertifikat MUI, jenjang mlm selalu sama. Ada satu upline yang mencari downline. Kemudian member mencari lagi anggota yang mau bergabung, kemudian anggota mencari anggota kemudian mencari anggota lagi dan lagi dan lagi dan lagi begitu terus sampai ladang gandum dibanjiri coklat.

Beda sekali, sistem mlm dengan struktur organisasi. 😰😰😰😰😰😰

Baiklah, lupakan postingan asal jeplak itu.

Satu dasawarsa ini gencar sekali kampanye untuk jadi pengusaha dikalangan anak muda, dan anak tua. Semua berlomba-lomba menjadi pengusaha. Berjualan kue, kerajinan, jilbab, property, design, apa saja, kondisi ini memperkenalkan kita pada sosok-sosok kreatif dengan ide-ide brilian dan berlian, tentu juga melahirkan generasi-generasi francise dan peniru, terakhir yang booming lagi adalah generasi mlm.
Semua mengaku-aku sebagai pengusaha.
Ya tidak apa-apa. Bagus malah.
Namun yang benar-benar berjiwa pengusaha bisa dihitung.

Orang boleh meniru konsep orang lain, tapi minimal ya jangan plek ketiplek lah, sampai titik koma dalam iklan pun di copy paste. Sampai gaya bicara, gaya pakaian, gaya jualan ditiru habis-habisan. Kecuali kita memang membuka cabang atau membeli francise produk tertentu yang tentu ada SOP yang harus dipatuhi.

Sifat dan sikap seperti ini bukanlah milik pengusaha sejati :
1. Mengambil gambar orang lain untuk promosi, termasuk ide, cara promosi, kata-kata, sikap, gesture, atau mengkopi produk orang lain kemudian mengakui sebagai milik sendiri, bahkan mengaku-aku sebagai pelopor produk tersebut.

2. Merendahkan produk orang lain atau orang yang memiliki produk untuk menaikkan mutu produk dagangannya.

3. Merendahkan pekerjaan orang lain dan menganggap pengusahalah orang paling mulia dimuka bumi ini.

Saya paling tidak suka yang ketiga. Banyak saya lihat, terutama di postingan agen agen mlm, mereka senang sekali menyebut diri pengusaha,
"kerja cuma modal handphone, duit mengalir terus", atau
"Kerja dari jam 8-17 tiap hari, itu kerja apa dikerjain", atau
"jangan mau jadi pegawai, gaji gak seberapa, bla bla bla"

Oh please, apakah pengusaha itu orang yang suka merendahkan pekerjaan orang lain? Tentu tidak. Pengusaha itu adalah pekerjaan penuh duri, bangunnya susah payah, pertahaninnya pakai perjuangan, nikmati hasilnya setelah berlelah-lelah jatuh bangun. Dan orang-orang kreatif yang ditempa sedemikian rupa pasti bukanlah mereka yang berjiwa songong yang baru bisa hasilin duit sejuta dua juta sudah sombongnya minta ampun. Duuuh gusti.
Kamu fikir kerja kantoran dosa? Kerja jadi pns itu aib? Kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, lima hari seminggu itu hina dina???
Mereka itu kerja, jihad cari nafkah buat keluarga, halal. Langkahnya pahala, gajinya jadi sedekah buat keluarganya, eh kamu seenak enak ndasmu merendahkan pekerjaan orang lain. Emang yakin usaha kamu bener. Coba cek lagi, bener gak curangin pelanggan, bener gak nyalip usaha lain, bener gak niru-niru tanpa izin produk orang lain, bener itu produk original kamu ???

Jadi pengusaha yaa bagus. Dalam islam juga ditekankan agar kita berniaga. Tapi pakai adablah, pakai etika, pakai tatanan yang sudah diatur.
Cari duit juga gak gitu-gitu amat kaliii. Cari member juga gak segitunya sampai harus menghinakan pekerjaan orang lain.

Yaa mulailah dari bawah. Kembangin konsep kamu sendiri. Bikin iklan dan promosi yang menarik. Jual kelebihan produk kamu bukan kekurangan orang lain. Dan sopan santunlah kepada semua orang. Belajar dari semua orang, dari pengusaha (yang bener-bener pengusaha) sampai pegawai kantoran, dari orang kaya sampai orang biasa-biasa aja. Semua kasih inspirasi kok dan jangan sombong kalau udah bisa hasilin duit sendiri. Karena yang kaya beneran biasanya malah anteng-anteng aja.


Tuesday, January 31, 2017

Baik-baik Sekolah, Besok Kita Tidak Tahu Bakal Jadi Apa

Saya barusan melihat caption instagram artis, yang isinya kurang lebih uneg-uneg soal IPK, intinya, IPK tinggi itu karena rajin kuliah, ngerjain tugas ini itu, nurut sama dosen, dan lain-lain dan lain-lain, ujung-ujungnya bakalnya jadi karyawan.

Naif sekali ya.

Seolah-olah yang IPK tinggi pasti jadi karyawan, dan yang IPK rendah pasti berbakat dibidang seni atau nantinya akan jadi pengusaha.

Saya sudah pernah sekolah, tinggi, sampai lantai 4. Empat tahun lamanya, di Perguruan Tinggi Swasta terkenal suka demo-demo, dulu. Saya bisa mengatakan ini, karena umur, pengalaman, dan sudah saya alami.
Saya merasa, (dan ini subjektif sekali) saya berbakat di bidang seni, saya adalah pribadi yang lebih dominan dengan kecerdasan otak kanan, tapi IPK saya Alhamdulillah tetap tinggi. Saya tidak suka jurusan kuliah saya. Saya terpaksa kuliah Komunikasi karena gagal di jurusan yang saya pilih. Namun apa saya lantas malas-malasan dan berkilah dengan pembelaan :

"Ngapain juga dapet IPK tinggi-tinggi, paling nanti jadi karyawan, mending ngembangin bakat usaha, bakat seni yang mengalir di jiwa raga ini"

Tidak.
Saya belajar. Saya tahu saya buta ilmu ini, jadi saya tidak boleh gagal. Saya membaca, mencari tahu, bertanya, berkomunikasi dengan dosen, senior yang pintar, dengan google, pokoknya bagaimana agar kuliah ini tidak sia-sia.
Dan IP semester 1 saya, 3,6. Yang paling tinggi di stambuk saya. Itu karena saya bersungguh-sungguh.

Karena, yang bersungguh-sungguh lah yang akan berhasil.

Dan tidak pernah terbersit dalam diri saya, saya akan jadi karyawan. Atau pengusaha, atau seniman, atau apa saja. Lagipula kalau jadi karyawan pun kenapa rupanya.
Sekolah itu mendidik kita, membentuk pola fikir, mengembangkan kecerdasan, minat, bakat, menambah pergaulan, dan memberi bekal untuk masa depan kita. Apapun kita dimasa depan, penting menyiapkan bekal yang baik sejak sekarang.
Sudah ada kesempatan sekolah baik-baik ya dimanfaatkan. Punya nilai tinggi juga tidak ada ruginya sama sekali. Itu artinya kita pintar, kita mudah bergaul, paling tidak dengan semua jenis dosen, kita akan lebih mudah dipromosikan ke perusahaan terkenal, atau dikenal oleh pemilik modal. Jadilah pintar yang kreatif. Atau cerdas kita menyebutnya.

Mungkin kita merasa, kita seniman, atau artis, jadi nilai tinggi tidak terlalu penting. Haloooo, banyak artis internasional yang bisa lulus dengan nilai cumlaude. Lagipula sampai kapan sih kita bertahan di dunia keartisan. Lagipula kamu pikir seniman bodoh apa, justru seniman itu cerdas, tidak punya pikiran picik semacam : IPK tinggi hanya untuk kerja jadi karyawan. Itu namanya MALAS.

Atau mungkin kita mau jadi pengusaha. Kamu pikir jadi pengusaha tidak pakai ilmu? Ilmu analisa, bagaimana melihat peluang, bagaimana menciptakan pasar, bagaimana mengantisipasi kegagalan, bagaimana mencari solusi untuk masalah yang timbul, bagaimana menghasilkan uang, dan bagaimana mewujudkan ide. Apa yang mau dijual. Kalau kita belajar saja malas, bagaimana mau bersaing didunia usaha. Kamu fikir jadi pengusaha langsung ongkang-ongkang kaki traveling kesana kemari?
Iya, kalau usahanya diwariskan dari nenek moyang.
Kalau mulai dari nol, tidak ada kata istirahat. Yang ada hanya usaha dan terus usaha. Gagal berkali-kali, merasakan semuanya dari bawah sampai bisa sukses. Dan tentu jika kita pernah belajar, kita punya referensi, punya ilmu, atau minimal punya koneksi jadi akan lebih mudah memulainya. Ada modalnya lah.

Dan kalau jadi karyawan. Kenapa rupanya jadi karyawan. Tidak dosa toh? Bukankah karier yang bagus adalah impian semua orang. Lagipula, jika pintar kita akan lebih mudah dapat promosi, naik jabatan, naik gaji, dan ketahuilah, pria dan wanita rupawan dengan pekerjaan mantap lebih cepat diterima jadi menantu. 😁

Saya bukan karyawan, belum pula jadi pengusaha sukses. Saya hanya pemikir dan penulis uneg-uneg.

Apapun itu, jika sudah ada kesempatan sekolah, belajar baik-baik. Banyak yang mau sekolah tapi terkendala biaya. Mungkin perasaan kita, kita ini pemikir otak kanan, tapi jika takdir menghantarkan kita jadi pegawai bank, mau bilang apa?
Paling tidak kita punya ilmu untuk diwariskan ke anak cucu. Bukankah kita tidak mau jadi oramgtua naif yang pamer ke anak dengan kalimat,

"Mama dulu nilainya jelek, tapi sukses, daripada temen mama, nilainya A terus tuh cuma kerja jadi pegawai"

Jangan, jangan ajarkan anak kita jadi orang bodoh yang sombong.

Kita tidak tahu masa depan akan jadi seperti apa, tapi kita tahu menyiapkan bekal terbaik adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Dan jadi apapun kita, penting sekali untuk tidak merendahkan pekerjaan orang lain, siapa sih kita?

Friday, July 17, 2015

Betapa Menyebalkan Janjian Dengan Orang Indonesia


Saya Indonesia. Saya bangga, untuk beberapa hal, namun sering kesal untuk beberapa hal lain. Mulai dari antri, main serobot, sampai masalah tidak tepat waktu.
Perkara janjian. Ampun deh, memang tidak semua orang Indonesia seperti itu, tapi kebanyakan.
Orang Indonesia cenderung meremehkan janji dan waktu.
Kalau janjian jam 4, datangnya baru jam 6, malah ada yang jam 8. Itu jamnya waktu Indonesia bagian Arab yaa ...
Sering pula memberi janji janji palsu,
'Iyaaa, pasti datang kok'
Tapi di menit menit terakhir dengan lempengnga bisa mengirim bbm tanpa rasa bersalah apalagi berdosa
'Aduh tiba tiba ada acara keluarga, tiba-tiba burung perkututnya mati, tiba-tiba encoknya kumat'
What the hell.
Saya benci. Benci setengah mati pada mereka yang tidak menghargai waktu dan janji. Padahal janji itu tergolong hutang. *with any term and conditions
Sementara waktu, waktu tak bisa diputar mundur. Bayangkan waktu yang terbuang sia sia hanya karena menunggu orang yang tidak tepat janji.
Tapi begitulah, seakan sudah menjadi budaya yang dimaklumi. Membenarkan yang biasa, bukannya membiasakan yang benar. Kalau ingkar janji tinggal bilang sorry, kalau telat tinggal senyum simpul, masalah beres. Iyaaa,,beres dengkulmu.
Kalau memang tidak bisa, jangan berjanji. Bahkan jika kira-kira tidak bisa pun jangan berjanji. Selalu gunakan In sha Allah dalam setiap perjanjian, namun bukan berarti menjadikan In sha Allah sebagai kalimat main-main untuk mengelak.
Kalau memang tidak bisa, katakan,
'Saya tidak bisa!'
Kalau memang terlambat, katakan
'Saya masih dirumah'
Halloo, biasakan menghargai orang lain, betapa tersiksanya jadi orang tepat waktu di Indonesia. Tidak semua, sekali lagi tidak semua. Tapi mayoritas.
Lihat janjian dengan orang asing. Mereka selalu on time. Tidak php, tidak menjanjikan sesuatu yang kira-kira tidak bisa dipenuhi. Janji kirim email jam 23.00, maka email akan terkirim diwaktu yang ditentukan.
Kapan kita bisa begini, apalagi kita sebagai muslim. Kita kok tidak malu yaa, jadi muslim yang tidak bisa dipercaya.
'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janjimu ....' (QS. Al Maidah : 1)

Thursday, July 16, 2015

Tanya, Berapa Maharnya?

Dari sekedar kumpul temu kangen dengan teman teman lama, obrolan menghangat, melebar ke berbagai topik. Sejak dahulu selalu seperti itu, berdiskusi panjang lebar untuk mencari titik temu, silang pendapat untuk saling berbagi ilmu.
Obrolan kali ini seputar pernikahan, maklum faktor umur yang tak lagi muda.

'Tanya berapa maharnya?'

Pungkas seorang teman, yang berniat mendekati adik salah seorang teman kami yang lain,
kami tertawa-tawa,

'Mungkin lebih tepatnya hantaran'
ujarku menimpali,

'Sepakat' , sambut teman yang lain, 'mahar dan hantaran dua hal yang berbeda'

Tapi si teman tersebut tak sepaham. Ia bersikeras bahwa mahar adalah jumlah uang yang harus disiapkan ketika melamar seorang wanita.
Sementara kami berpendapat, mahar adalah hadiah yang diminta calon istri kepada calon suaminya, tak harus uang, tapi ia bernilai, dan mahar adalah mutlak milik sang istri.
Adapun uang uang yang disiapkan dan diberikan ketika melamar, yang nantinya digunakan untuk keperluan pesta, adalah hantaran, yang  juga berupa hadiah hadiah seperti pakaian, sepatu, make up, kain kebaya, sampai ke tempat tidur, lemari dan perlengkapan-perlengkapan lain sesuai adat dan kesepakatan. Termasuk didalamnya uang, untuk keperluan walimahan.
Lalu obrolan semakin seru, karena kami tak jua bertemu disatu paham.

'Lantas kenapa,,ketika ijab qabul toh yang sering disebut sebagai mahar tetap seperangkat alat solat, padahal uang puluhan juta yang sudah diserahkan sebelumnya katanya mahar?' ,aku bertanya lagi

Tampak si teman gelagapan menjawabnya, tapi tetap berusaha mempertahankan argumennya. Pembicaraan berputar-putar.

'Bukankah sebaik-baik wanita itu, ialah yang mudah maharnya?' ,teman yang lain menyambung,

Kami sepakat.

'Tapi ada juga laki-laki yang tidak berani melamar perempuan, padahal ia tak meminta mahar yang sulit' ,aku berkata datar
'Bukan tidak berani, tapi belum siap secara vertikal' , jawab teman yang sedari awal sepemikiran denganku tadi,
'Karena setelah menikah, seluruh keluarganya akan menjadi tanggung jawabnya, bagaimana ia kelak menjawab pertanyaan Tuhan tentang istri dan anak-anaknya .... karena Reni, kesiapan horizontal itu mudah dicari, sekedar uang, adat, pesta, dan lainlain itu bisa mudah dicari, tapi menikah tanpa persiapan vertikal dengan Tuhan itu akan membuat pernikahan menjadi riskan'

Aku terpana, kata-kata begitu dalam itu keluar dari mulut seorang teman yang biasanya tidak pernah serius, yang biasanya sombong setengah mati, ahahha, mungkin efek kopi yang dipesannya, membuatnya bisa berfikir 'wise' untuk beberapa saat.


Kembali ke mahar,
Karena terbagi menjadi dua kubu yang tidak imbang, teman yang tetap berpendapat mahar adalah semua uang dan biaya biaya yang harus disiapkan untuk pernikahan, ia sendiri, kokoh dan bertahan dengan pendapatnya,
Sementar kami tetap sepaham bahwa mahar adalah hal yang berbeda dengan hantaran, 5:1 kalah jumlah, tapi kami berlima tetap kalah galak darinya yang hanya sendiri :D
Bicara tentang mahar,
Ia sebenarnya bukanlah sesuatu yang mempersulit pernikahan. Tak ada nominal minimal dalam mahar, sesuai keihklasan dan kemampuan calon suami serta keridhoan calon istrinya.
Bisa saja ia hanya berupa selembar kain, atau sebuah Al-Qur'an, atau sejumlah uang dan emas, atau apa saja yang diminta nya ...
Lihat Fatimah AzZahra, wanita mulia yang terjamin akhlaknya, nasabnya, kedudukannya dihadapan Allah, ketika menikah, apa yang menjadi maharnya? Hanya sebuah baju besi, itupun yang awalnya pemberian sang ayah pada calon menantunya tersebut.
Kenapa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam mengizinkan putri kesayangannya menikah dengan mahar yang 'hanya seperti itu'
Itu karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam tahu betul kualitas calon menantunya, juga keadaannya. Beliau tak ingin mempersulit Ali ra, untuk menikahi putrinya.
Lantas kita, dewasa ini, kenapa berani sekali menetapkan 'mahar' yang begitu tinggi sebagai syarat pernikahan. Menetapkan nominal sampai ratusan juta rupiah, hanya karena merasa sangat cantik, dari keturunan ningrat, bergelar kesarjanaan dan bekerja ditempat bonafit. Lantas, kita merasa mahal, tak sudi dipinang murah. Padahal tak ada istilah mahal dan murah dalam pernikahan.
Siapalah kita ini, yang solatnya masih diundur-undur, jilbab enggan terhulur, kelakuan masih ngalor ngidul, sudah merasa begitu 'mahal' nya sampai menetapkan nominal mahar. Seandainya ukurannya nominal uang, tentulah seluruh isi dunia tak akan cukup untuk meminang wanita sekelas Fatimah AzZahra ...
Lagipula jangan membelok-belokkan syarat pernikahan, yang sebenarnya sangat sederhana dan jelas hukumnya. Dan mahar, sekali lagi, mahar berbeda dengan hantaran.
Hantaran adalah budaya, yang mengakar begitu dalam di masyarakat Indonesia, yang saking kuatnya, seakan-akan ia adalah syariat.
'Kalau punya anak perempuan, yang pertama akan kutanya pada laki-laki yang meminangnya adalah, tahukah engkau syahadat, secara kaffah? Jika ia beragama, maka pasti aku nikahkan, karena jika tidak aku pasti berdosa sebagai bapaknya' ,teman tadi menambahkan
Malam menggantung, kopi-kopi telah tandas, kami beranjak pulang, saat berdadah-dadah menyampaikan salam, teman yang sedari tadi tetap bertahan pada pendirian, tiba-tiba berbalik,

'Jangan lupa, tanya berapa maharnya'
Kami berlalu dengan tawa yang masih berderai-derai.

Friday, January 2, 2015

welcome 2015

New year is leave the bad things, keep the good memories and start a new incredible journey ❤

Tahun berganti, tak terasa kita sudah memasuki tahun 2015. Ah, menua ... saat memulai hari pertama di bulan januari yang indah ini, yang terpikir pertama kali adalah : what will i do for a year?
So i spent a whole day just to think about that :D
Yang pertama tama adalah memikirkan, apa yang sudah saya lakukan selama 2014, selain jatuh cinta ..., yes i'v done so many awesome things,
Saya melakukan perjalanan jauh sendiri untuk pertama kali, saya mudik tahun ini, saya kehilangan dan menemukan, saya jatuh cinta tahun ini, untuk pertama kalinya, saya bisa memaafkan masa lalu ... masa di tahun tahun sebelum ini ...

Diawal tahun saya belajar tentang kesendirian dari nenek saya, ia yang sepi karena semua anak anaknya tinggal jauh darinya, ia yang sepi karena kakek sudah duluan berpulang. Darinya saya belajar, bagaimana menikmati kesendirian. saya belajar mensyukuri setiap hal kecil yang saya miliki, menghargai apa yang saya miliki, karena semua yang kita miliki, pada akhirnya akan meninggalkan kita, darinya saya menyadari, jika tak ingin sepi menua, saya harus menyayangi orang tua dan meperlakukan mereka dengan sangat baik agar kelak anak cucu saya juga menemani saya dihari hari tua saya.

Saya juga mengerti arti kehilangan. Saya benar benar menghargai kebersamaan ketika ia yang selama ini selalu ada tiba tiba menghilang. Baru saya menyadarinya, bahwa apa apa yang kita cintai sewaktu waktu bisa pergi, dan kita tidak pernah siap untuk itu ...

Saya bersyukur, banyak melihat tempat tempat indah tahun ini, saya melihat bagaimana ganasnya gunung kelud ketika meletus dan menyebabkan seluruh pernerbangan dipulau jawa mati total, pun melihat berbagai tempat indah yang dibentangkan Allah di bumiNya ini ... saya melihat pantai, gunung, bukit, danau, bertemu banyak orang baru ...  menyenangkan sekali

Tahun 2014 juga menjadi awal tahun saya bergabung dengan komunitas one day one juz, walau sempat berganti grup, namun alhamdulillah tetap istiqomah sampai saat ini, dan semoga begitu seterusnya, insha allah ...

Tahun 2014 menjadi awal saya memutuskan untuk berhijab secara kaffah, berat sekali rasanya .. biasanya saya menggunakan setelan celana dan atasan ditambah jilbab yang kadang transparan, atau masih memakai baju ketat dan jilbab yang tak terulur sampai ke dada ...
:( alhamdulillah bisa dimulai, walau perlahan, saya mulai membiasakan memakai gamis, memanjangkan jilbab dan tidak memakai jilbab yang tipis lagi, juga memakai kaos kaki. Saya juga menghapus semua poto poto narsis saya dimedia sosial dan berusaha agar tidak memposting poto wajah lagi dimedia sosial ...
Saya hanya ingin benar benar menjadi seorang muslimah ...

Saya jatuh cinta ...
pada janji yang mungkin orangnya sediri sudah lupa, janji usang yang membuat saya sanggup menunggu, pada janji yang kadang kadang membuat saya terlihat bodoh, pada lelaki yang membuat saya menunggu ... :( lelaki yang entah katakatanya serius atau tidak, entahlah ...

Kini tahun berganti ...
yang kini saya lakukan adalah, meninggalkan sifat sifat buruk yang masih menempel pada saya sampai tahun lalu,
tetap berusaha menjaga hal hal baik yang sudah saya mulai ditahun lalu,
Tahun ini ada banyak hal yang ingin saya lakukan, ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi, ada janji yang akan tetap saya tunggu ..

Baiklah, pertama tama : Ka'bah ...
Tempat yang ingin saya kunjungi tahun ini pertama kali adalah Mekkah Al Muqaromah, Madinah Al Munawarrah dan Baitullah ...
Setelah itu, Puncak Sikunir ..., Pantai Teluk Penyu, dan pantai pantai indah lain di pulau jawa ..

Saya akan pindah rumah, entah itu bersama kedua orang tua saya di Cilacap atau mungkin bersama seorang suami ke tempat baru yang tentu saja indah ..

Saya akan tetap berusaha istiqomah, di one day one juz, tetap istiqomah menutup aurat, memulai dakwah walau hanya dengan satu ayat ...

Saya akan menikah tahun ini, dan akan mencintai orang yang saya nikahi ... :)

Saya akan membuka usaha, mengunjungi rumah teman teman lama, memberi kado, tersenyum, tertawa, mencintai dan menjadi lebih sabar ...
menjadi orang yang selalu bersyukur ...

Insha Allah
Insha Allah
Insha Allah

Banyak sekali hal yang akan saya lakukan ditahun ini ... saya akan bertambah tua dibulan ini, heiii im going 27 ... and all i really wanted for my birthday is just you .. only you ... :) tapi sudahlah ...

So, this is the new year, new day, new experience, new live ... :)
Just leave the bad things, keep the good memories and start a new incredible journey .. with you ... ❤

Friday, July 4, 2014

Malu

Sebutlah saja ia Ikhwan, pemuda baik nan arif berwajah pas pasan yang saya kenal bertahun silam. Tingkah lakunya sopan, tutur katanya halus, prilakunya menawan, otaknya cemerlang dan saat ini bekerja di perusahaan bonafit di Indonesia. Lama sudah saya tak bersua, komunikasi hanya lewat media teks, entah itu sms, whatssap, line, we chat, bbm, email, facebook, dan path.
Setiap berbincang, timbullah satu kekaguman dalam diri saya, ah anak muda ini benar benar mengagumkan. Lama kelamaan perasaan kagum berubah menjadi simpati, semakin lama semakin menjurus kepada perasaan yang lebih. Apalagi ia juga memberi respon sangat positif, ia memberi pertanda 'he much very available', walau berulang kali ia tekankan, ia tak ingin pacaran, ia tak ingin menghabiskan waktu sia-sia hanya untuk cinta yang tak halal, dan saya sepakat.
Ada yang tidak beres dengan hati saya, berhari-hari saya tahan, untuk tidak memikirkannya. Setiap solat, tak lupa saya cantumkan doa, semoga Allah membina perasaan ini dan menjauhkannya dari nafsu. Saya bahkan tak berani menyebut namanya dalam doa (meskipun Allah pasti tahu siapa orangnya), karena saya merasa begitu tak pantas mengucapkannya, siapalah saya ini. Baik, pun tak baik amat. Solat juga kadang masih diulur-ulur. Masih banyak penyakit hati hinggap dalam diri ini, sementara ia, aduh tampilannya saja sudah menyejukkan hati, apalagi kata-katanya selalu baik, postingan-postingannya di media sosial juga selalu yang baik-baik saja, singkatnya, dia ini jenis teman yang selalu berusaha 'bring you closer to Allah',
Saya tak menampik, saya menyukainya. Tak sedikitpun saya ceritakan pada orang lain, bahkan pada ibu saya sendiri. Tak ada yang tahu, hanya Allah lah yang tahu. Meskipun tak disebut, selalu terbersit dalam hati, semoga Allah berkenan menjodohkan kami.
Tapi, hanya pada Allah kah saya bersandar? Saya kira begitu, tak pernah saya sadari, bahwa saya selalu ingin terlihat baik didepannya, terlihat soleha, terlihat 'pantas' disebut muslimah, itu bukan lagi karena Allah. Ah, hati pandai sekali ia berkelit. Yang terucap selalu karena Allah, padahal tidak selalu.
Sampai suatu hari, ketika sedang membaca trending topic di twitter, saya menemukan sebuah akun yang saya kenal betul wajah itu, saya telurusuri halaman akun sang ikhwan pujaan hati, dan alangkah kagetnya saya mendapati ribuan tweet terumbar disana.
Saya hanya terdiam, terpana, terbata, tak sanggup berkata-kata. Berseliweran disana, kata-kata manis, rayuan gombal, kata-kata cinta diobral bebas pada banyak gadis berbeda, teman kerja, artis sampai orang yang tidak dikenal, semakin jauh menelusuri, semakin riuh hati ini.
Ada sepotong kekecewaan, setangkup penyesalan dan sebuncah perasaan malu, sungguh saya malu. Bukan karena sang ikhwan pujaan ternyata pecinta wanita, namun karena hati telah keliru merasa. Beginilah rasanya, karena tak benar-benar berharap hanya pada Allah. Seperti tertampar bolak-balik, seperti Allah sedang menegur 'itu liat, yang kamu demenin saban hari, yang kamu tunggu-tunggu bbm nya sampai lalai ibadah, begitu itu kelakuannya'
Maluuuuuu sekali, kenapa hati berharap pada manusia, begini jadinya, ternyata ia tak seperti yang diharapkan.
Seandainya, ia tak mengumbar tak ingin pacaran, tak ingin khalwat, tak begini tak begitu, tentu tak akan sekecewa ini ...
Tapi siapalah kita ini, manusia yang selalu alpa. Mungkin sang ikhwan sedang khilaf. Semoga Allah meluruskan jalannya.
Seketika itu, hilanglah perasaan didalam hati. Perasaan yang baru sekian bulan terbina, tersusun rapi dalam doa yang tersirat, semuanya hilang, tak berbekas.
Seketika itu saya memohon ampun, karena telah berharap selain kepadaNya, sungguh saya malu, malu sekali pada Allah, karena perasaan yang keliru ini, karena hati yang tak sabar menanti ketetapan Allah, karena sudah berharap pada yang lain ...
Ah, Allah Maha Penyayang, biarlah setelah ini, saya tundukkan pandangan, dan berharap hanya pada Allah, tak perlu ada nama siapapun disebut .., biarlah hati ini, Engkau simpan ya Allah, sampai nanti ketika datang lelaki yang namanya telah Engkau tulis di Lauhul Mahfudz sebagai jodoh pilahanMu membawakannya lagi untuk saya ...
Atas izinmu, ya Rabb ...
Aamiin ya Rabbal Alamiin ...

Wednesday, July 2, 2014

Untuk Pemilu 2014

Salam 5 Jari !! (Rukun Islam bro)

Pemilu tahun ini adalah pemilu kedua saya memilih presiden. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, euforia massa kali ini terasa lebih semarak, bahkan dua even yang datang bersamaan dengan pemilu, yaitu Piala Dunia dan Bulan Ramadhan, tak jua memudarkan hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan ini. Ada dua calon pada pemilu 2014, Bapak Prabowo Subianto berpasangan dengan Bapak Hatta Rajasa, kemudian Bapak Joko Widodo berpasangan dengan Bapak Jusuf Kalla. Keempatnya bukan nama baru diranah politik, tiga dari nama tersebut bahkan sudah wara wiri di bidang pemerintahan.
Saya yang sudah menyadari betapa pentingnya suara saya, memutuskan tidak lagi golput. Untuk memutuskan calon yang akan saya pilih, tentulah saya harus berusaha mencari tahu latar belakang dan track record kedua calon.
Dahsyatnya pemberitaan kedua calon memang harus diakui, baik buruknya kedua calon diumbar-umbar dengan bebas. Barisan pendukung keduanya pun bisa dibilang 'gila-gilaan' dalam menyampaikan dukungan, saya harap fans-fans fanatik itu tidak anarkis apalagi gila jika calonnya tidak terpilih.
Makin semaraknya euforia kali ini karena ramainya para musisi yang ikut memberi dukungan, dan bukan cuma musisi yang terbelah, bahkan media pun ikut-ikut terbelah. Sangat disayangkan, media sekelas Metro TV dan TV One jadi harus jor-joran membela calonnya, keduanya sama saja, sudah tidak netral, jadi agar imbang jika saya menonton Metro TV selama 20 menit maka saya akan menonton TV One selama 20 menit juga, sisanya saya tetap menonton kartun.
Biarlah mereka berkampanye, karena kampanye juga bagian dari politik. Saya sendiri sudah memutuskan akan memilih salah satu calon, tak perlu saya tulis mengingat asas pemilu yang 'luber jurdil' dan karena memang tak wajib. Kepada bapak Prabowo saya menaruh simpati, kepada Bapak Jokowi pun saya menaruh simpati. Yang saya tidak simpati itu pada fans fanatik keduanya yang kalau berkomentar tak pernah mutu, hanya memancing perdebatan dan anti kritik. Sebenarnya jumlahnya sedikit tapi sangat vokal. Saya berfikir, jangan-jangan fans seperti itu akan meminta suaka untuk pindah ke Antartika jika calonnya tidak terpilih.
Kepada keduanya saya juga menaruh harapan, siapapun yang terpilih nanti, kiranya dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju, bermartabat, serta bebas hutang dan intimidasi negara lain. Prabowo yang terkenal karena kata-kata lantangnya jika berorasi dan Jokowi yang terenal karena blusukannya, ketahuilah bapak-bapak, jika sekedar teriak-teriak menyatukan massa, tukang obat pun bisa melakukannya, dan jika sekedar blusukan, tukang sampah pun setiap hari blusukan.
Saya yakin, bukan hanya itu yang dibutuhkan Indonesia. Rakyat butuh pemimpin yang tidak enak makan karena tahu 250juta lebih rakyatnya yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di akhirat mungkin belum semua makan enak seperti dia. Yang tak enak tidur di istana karena tahu jutaan rakyatnya masih terlantar dijalanan.
Yang tahu bahwa gajinya, fasilitas hidup yang diterimanya adalah buah kerja keras rakyatnya dalam bentuk pajak. Rakyat butuh Presiden yang selalu mengingat Allah dalam setiap tindakannya hingga ia tak berani menodai hak rakyat.
Bapak-bapak yang terhormat, jika nanti terpilih, ingatlah, ingatlah, ingatlah, bahwa setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban. Siapkah bapak mempertanggung jawabkan kepemimpinan bapak atas 33 provinsi di Indonesia yang penduduknya ada lebih dari 250 juta jiwa, siapkah bapak kelak ditanya jika ada satu saja rakyat yang merasa haknya tidak terpenuhi? Siapkah bapak jika kelak ditanya mengapa masih ada pejabat yang bisa wara wiri pakai mobil mewah sementara banyak rakyat yang cuma bisa makan nasi aking?
Bapak-bapak, sungguh kepemimpinan dan jabatan adalah ujian, berhati-hatilah atasnya.
Bapak-bapak mungkin bisa meniru Gajah Mada yang bersumpah tak akan hidup enak sebelum bisa menyatukan nusantara, atau mencontoh Al Fatih yang istiqomah dalam hubungannya kepada Allah hingga akhirnya bisa menaklukkan Konstantinopel, dan tentu saja bapak-bapak harus meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW, hingga tiap langkah yang bapak ambil benar-benar demi kepentingan rakyat.
Saya juga berharap, kelak jika bapak terpilih, bapak presiden dapat memilih menteri berdasarkan kualitas bukan sekedar kekerabatan.
Nah, saya Insha Allah akan mencoblos pada pemilu 9Juli nanti, semoga calon yang saya pilih menang, namun jika kalah pun tak mengapa. Karena keduanya pasti berniat memajukan Indonesia. Saya berdoa semoga bapak ketika terpilih, amanah dalam jabatan, dan semoga Allah merahmati bapak juga seluruh rakyat Indonesia.

Yang lebih penting, jangan lupa jika presiden kita saat ini masih bapak Susilo Bambang Yudhoyono, kepada beliau pun kita ucapkan terima kasih, karena telah bekerja keras selama 10 tahun memimpin Indonesia. Terakhir, terima kasih kepada KPU yang telah berbulan-bulan bekerja keras untuk penyelenggaraan pemilu  serta para bapak-bapak polisi yang turut membantu menciptakan pemilu damai. Semoga Allah merahmati seluruh pemimpin kita, calon pemimpin kita, ulama-ulama kita dan kita, seluruh rakyat Indonesia. Aamiin.
Ya Allah karuniakanlah kepada kami, pemimpin yang mencintai Engkau dan Engkau pun mencintainya, aamiin.
Jangan lupa 9 Juli, datang ke tps, jangan lupa baca Bismillah sebelum mencoblos, semoga pilihan kita adalah pilihan yang benar.

Salam 5 Jari!!! (Rukun Islam bro)

Monday, June 30, 2014

Sabar Ustad, Sabar ......

Sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1435H, maafkan lahir batin jikalau ada kesalahan kata-kata yang kiranya menyinggung.

Tadi, sembari menunggu waktu berbuka, bapak 'curhat' kepada kami, betapa kesal hatinya saat semalam (29/6) beliau taraweh dan mengikuti tausiyah di mushola kami tercinta. Apa pasal? Ternyata sang ustad (demi menjaga nama baik tak perlu saya tulis namanya), memberikan ceramah yang agak kelewatan, perihal mati listrik.
Memang pada Minggu, 29 Juni 2014, didaerah rumah kami terjadi pemadaman bergilir sekitar pukul enam sore, atau kira-kira 40 menit sebelum berbuka puasa.
Hal tersebut yang rupanya menggangu sang ustad, beliau mengeluh kenapa PLN seperti seenak jidatnya mematikan listrik dikala hampir berbuka.

(Masalah pedaman bergilir, saya telah lama heran, kapan waktu yang paling pas untuk listrik padam, padam dipagi hari orang mengeluh tak bisa bersiap kerja, padam siang hari, orang mengeluh tak bisa masak, padam sore hari orang juga mengeluh karena tidak bisa menonton siaran tv, padam malam hari pun orang tetap mengeluh karena gelap, panas, baterai gadget melemah dan lain-lain)

Yang membuat bapak sangat marah adalah sang ustad dengan penuh semangat memaki-maki pekerja PLN, ya bapak memang pegawai PLN.
Sang ustad, berkata, bahwa orang-orang PLN kafir karena memadamkan listrik dikala mau berbuka.
Astaghfirullah ...
Saya sendiri sangat terkejut. Bagaimana tidak, seorang ustad bisa dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, dimana letak ilmunya, imannya, tauhidnya, sabarnya, pendeknya, dimana letak ustadnya??
Ilmu agama saya memang tak sedalam ustad, tapi saya tahu bahwa kita tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain dengan sembarangan, apalagi hanya dengan prasangka pribadi.
Bayangkan jika yang kita katakan kafir ternyata seorang muslim yang taat, bukankah ucapan kafir itu akan dikembalikan kepada kita? Astaghfirullah ...
Mungkin kesabaran kita sedang diuji, diuji melalui pemadaman bergilir. Sang ustad pun harusnya mengerti, baru listrik yang padam saja mengeluhnya sudah luar biasa, sudah berani mengkafir-kafirkan orang lain, bagaimana jika mata ini yang padam? Hendak mengeluh bagaimana lagi kita ...
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Semoga Allah SWT, menjadikan kita semua termasuk kedalam golongan manusia yang senantiasa bersabar dan bersyukur, aamiin ...

Friday, November 29, 2013

Ada Apa Dengan Pintu Depan?

Seringkali saya tak habis fikir. Hampir sepuluh tahun tinggal dipemukiman padat penduduk ini, saya masih tidak bisa mengerti, kenapa orang-orang suka bertamu dari pintu belakang
Pintu depan rumah saya lebar, selain berhadapan langsung jaraknya juga tidak jauh dari pagar. Tapi kebanyakan tetangga, kerabat, sales bahkan pengemis lebih suka berjalan jauh menuju pintu dapur di belakang kurang, dengan alasan kami, sang empunya rumah pasti sedang ada dibelakang rumah. What the hell.
Padahal dari ruang keluarga kami bisa melihat jelas kalau-kalau ada yang bertamu lewat pintu depan. Justru tamu yang teriak-teriak dipintu belakang sering membuat blunder karena disangka anak-anak atau tetangga yang rumahnya terletak dibalik tembok belakang rumah kami.
Pak RT juga begitu, sejak belum jadi ketua Rukun Tetangga sampai sekarang, setiap berkunjung kerumah kami selalu dari pintu belakang, aaaaaaah dasar pimpinan yang tak bisa memberi contoh baik.
Ada juga seorang ibu yang berkunjung dikala magrib juga dari pintu belakng, orangtua teman adik saya yang juga diam-diam bertamu dari pintu belakang, padahal itu sudah malam! Ada lagi pengemis yang muncul selalu dari pintu belakang bahkan tak segan berusaha membuka pintu kalau kami tidak juga membuka pintu.
Pertanyaannya, saudara-saudara tidak bisakah kita bertamu dengan sopan, mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam, bukannya ngeloyor sok akrab kepintu belakang.
Tapi apa boleh buat, kebanyakan penduduk sini memang terbiasa bertamu dengan cara demikian, banyak yang bahkan memotong jalan melewati pekarangan rumah orang lain tanpa perlu izin apalagi merasa bersalah. Apalagi kalau sekadar bertamu dari pintu belakang, ah sudah biasa.

Thursday, June 6, 2013

Ayo, Jangan Ditunda



Seringkali ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu. dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
 
Dan beberapa hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang kampung.
Minggu malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan. Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking, terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih bingung dengan masalah pembayaran via atm).

Saya memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan langsung mengajak saya ke atm.
Kami berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar, ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran, kami beranjak pulang.

Hujan belum reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah, saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi waktu sujud dan duduk kaki saya perih.

Saya merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya, tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti. Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.

Saat tulisan ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara  kakek saya yang sakit sudah meninggal . Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.

Wednesday, May 29, 2013

Masa Depan, Milik Siapa?

Saya tinggal dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang masih tinggi, jarak antara tetangga hanya sebatas pagar. Dan kepedulian berseliweran disemua tempat, baik ataupun buruk. Termasuk kepedulian tetangga saya, tentang status saya.
Tadi pagi saya membeli mi instan, si empunya warung, yang baik hati bertanya pada saya,
'reni jadi gak kerja?'
saya tersenyum sambil menggeleng
'kenapa, gak boleh kerja ya?'
saya menggeleng 'gak bu, memang gag ngelamar kerja' kataku sambil berusaha mengingat-ingat dimana letak ijazahku
'jadi gimana masa depannya coba? sudah kuliah mahal-mahal tapi gak kerja'

saya terdiam, bingung harus menjawab apa, kalau hanya masalah kuliah tinggi-tinggi -sampai lantai 4, tapi sekarang tidak bekerja saya masih bisa berargumen, tapi kalau soal masa depan.
Masa depan milik Tuhan.

Ada orang yang menjadi pengangguran karena keadaan, namun saya dengan sengaja memilih menjadi indonesian idle dengan alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti kebanyakan orang.
Kuliah penting, bekerja penting, hidup juga penting. Tak perlulah saya berfalsafah panjang lebar tentang itu.
Kalau saya pribadi, terserahlah orang mau kuliah atau tidak, mau bekerja jadi apa yang penting halal, atau mau melakukan apa saja.
Tak perlulah kita risaukan masa depan kita apalagi masa depan orang, karena ia pasti datang. Jadi apapun itu, ia akan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi hidup kita. Maka, jadilah orang baik.

Saya teringat sebuah lagu lawas, yang saya lupa penciptanya, liriknya sangat bagus...

When i was just a little girl
I asked my mother what will i be
Will i be pretty, will i be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be

Wednesday, May 15, 2013

Menikah, Ah Mahal Nian



berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Begitulah kira-kira kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepada saya ketika dia berniat melamar saya untuk jadi istrinya. Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak bisa dijawab dengan jawaban yang juga sederhana. Karena budaya pernikahan di Indonesia juga ternyata tidak sederhana.
Saya sering, berulang kali menjadi ‘pesuruh’ dalam sebuah pesta pernikahan. Mulai dari menjadi pengiring pengantin, pembawa bale bagi mempelai perempuan, penjaga buku tamu sampai yang paling melelahkan tentu saja, penjaga hidangan pesta.
Dan tidak ada yang sederhana dalam pesta pernikahan.

Saya berulang kali menekankan, tentang prinsip pernikahan yang saya anut, bahwa pernikahan itu sederhana, ada mempelai pria dan wanita –dan cinta, ada wali nikah, saksi dan mas kawin. Dan sebaik-baik perempuan adalah yang paling mudah mas kawinnya. Maka ketika saya menikah nanti, inshaAllah semua juga akan sesederhana itu, tidak perlu lah pesta bermegah-megah, cukup syukuran semata, dengan anak-anak yatim piatu, sanak saudara dan kaum kerabat.

Tampaknya tak sesederhana itu.


Ambil contoh, teman saya yang akan segera menikah menjadikan saya sparing patner-nya untuk mengurus tetek bengek proses menuju pernikahannya. Mulai dari lamaran sampai nanti pestanya. Dia cerewet sekali, minta ampun. Karena calon suaminya bekerja di luar kota, maka masalah hantaran diserahkan sepenuhnya kepada teman saya. Maka saya berbesar hati menemaninya berbelanja hantaran yang minta ampun capeknya. Mulai dari kain kebaya, perlengkapan solat, bed cover,  tas, sandal, perlengkapan mandi, make-up sampai linggerie. Itu belum terhitung saat dia mengajak saya melihat-lihat lemari pakaian, tempat tidur, meja rias bahkan kitchen set di Home Centra. Kemudian buah-buahan dan kue juga. Semakin kompleks karena semuanya tematic, serba ungu-emas (maklum, dia penggemar warna ungu), walau paket hantaran itu akhirnya berubah menjadi warna warni –hijau, ungu, pink, emas dan krem.
Saya bertanya, ‘apakah harus, ia memberikan barang-barang seperti ini kepadamu?’
Dan jawabannya ringan saja, ini sekedar tanda pengikat, buah tangan, tanda keseriusannya untuk melamar, lagipula sudah adatnya begitu, kata teman saya sambil membolak-balik katalog perhiasan merk terkenal.
Baiklah, calon suami teman saya memang orang berada, ringan saja ia mengucurkan dana untuk membeli semua hantaran itu yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.

Ketika lamaran berlangsung pihak pria juga akan menyerahkan sejumlah uang untuk pihak wanita, yang nominalnya bisa mencapai puluhan juta. Kemudian dibicarakan bagaimana pesta nanti akan berlangsung. Dengan adat apa, diselenggarakan dimana, berapa orang yang akan diundang, dan lain-lain yang mengikutinya.
Pesta itu sendiri, akan berlangsung sangat meriah, tenda warna-warni bergelombang meriah bukan main. Lalu ada pelaminan yang dihias rupa-rupa bunga –kadang ada air mancurnya, baru-baru ini malah ada air terjunnya, kemudian perias pengantin yang mukanya bertekuk-tekuk macam tisu makan itu akan memakaikan macam-macam pakaian, adat apa bilang saja, minang, jawa, batak, aceh, palembang, semua dia punya, make up, bereslah, yang jelas ketika melihat hasil dempulannya, saya haqqul yaqin air wudhu tak akan tembus kewajah.

Itu baru wardrobe. Belum undangan, cinderamata, seragam anggota keluarga, foto pra wedding, foto pernikahannya, kemudian katering, pengiring pengantin, kursi, meja, dan yang tak boleh ketinggalan, hiburan dari yang kekota-kotaan dengan home band plus saxofone nya sampai hiburan rakyat –organ tunggal, yang biduannya bisa meliuk-liuk lebih dahsyat dari ulat bulu.  Dan semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Uang ketika hantaran itulah yang kemudian digunakan untuk menutupi biaya pesta pernikahan, kalau orang tua mempelai berasal dari golongan priyai, atau pengusaha terkenal atau minimal bekerja di kantor pemerintah yang bonafit, maka pesta pernikahan anak adalah ajang untuk membuktikan eksistensi diri. Tapi tak apalah semua dilakukan demi buah hati yang kasmaran, demi menjadikan mereka raja dan ratu sehari.

Saya angkat tangan. Bergidik, kalau, kalau calon suami saya misalnya bekerja sebagai karyawan yang gajinya, anggaplah tiga juta rupiah sebulan, dan biaya pernikahan, anggaplah 50 juta rupiah, perlu berapa bulan dia menabung sampai bisa menyelenggarakan pesta berbudget puluhan juta itu. Bayangkan, puluhan juta rupiah habis dalam sehari, sementara dibalik tembok rumah kita yang kokoh mungkin ada tetangga kita yang kesulitan membayar uang sekolah anaknya. Di balik gegap gempita dentuman lagu mungkin  ada tetangga kita yang baru bisa makan setelah banting tulang berhari-hari –itupun cuma dengan tempe goreng.
Bayangkan, jika puluhan juta itu disumbangkan saja ke anak-anak yatim, mereka akan bersuka cita mendoakan sang pengantin agar langgeng dunia akhirat, karena jujur saja terkadang saya tidak sempat mendoakan pengantin yang menggelar hajat itu, salaman pun hanya sekilas, yah ucapan selamat yang basi, apalagi kalau saya tidak begitu kenal pengantinnya, malah terkadang tidak sempat bertemu pengantinnya karena terlalu lama dirias. Atau jika uang itu digunakan untuk syukuran sederhana dan sisanya disimpan saja sebagai modal usaha, untuk menyewa rumah, atau tabungan pendidikan bagi calon anak kelak.

Semua karena adat, kebiasaan, budaya yang mengakar di masyarakat bak ditempel dengan lem setan, susah dilepas dan dihilangkan. Adat upah-upah, melempar-lempar kembang, berputar-putar dan dinyanyi-nyanyikan sekelompok ibu-ibu nasyid itu tak kena dalam islam. Tak perlu berbantah-bantah, jelas dalam pelajaran munakahat apa-apa saja syarat sah pernikahan. Pengabaran pernikahan tak perlu dengan pesta pora berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu sifatnya setan. Tak perlu memaksakan diri demi sebuah pesta, demi menjadi raja dan ratu sehari. Saya kenal seorang kerabat yang demi menggelar pesta mewah sampai harus berhutang sana-sini, ada juga yang sampai menjual mobil, rumah bahkan tanah perkebunan.

Tak perlu hantaran, lemari kayu jati, tempat tidur berukir-ukir kalau nantinya tinggal pun masih menumpang di rumah mertua. Tak perlu pesta besar-besaran yang menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga, kalau bahkan keriuhannya hanya dinikmati sehari –bahkan kadang tak bisa dinikmati.
Ah budaya ...

Maka ketika ditanya, ‘berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Saya menjawab sekenanya ‘berilah sebanyak jumlah asma Allah, sanggup kah?’
‘Banyak sekali, bisa ditawar’
Saya tergelak, ini bukan jual beli. Saya bukan dagangan. Kita tidak sedang berbisnis.
Pesta pernikahan, menjadi raja dan ratu sehari, ah konyol sekali. Saya tidak mau sehari. Saya mau selamanya jadi ratu dalam rumah tangga saya, bersama raja yang saya pilih menjadi imam saya.

Anggaplah semua kata-kata saya sangatlah naif. Saya hanya memimpikan satu masa, dimana adat tidak lagi menghalangi keyakinan seseorang untuk berbuat yang benar.

Tuesday, May 7, 2013

Ikat uangnya sebelum ditabung ...

Seperti biasa, saya menemani ibu saya berbelanja sayur mayur. Kali ini saya cukup arif untuk tidak main-main dengan tauge ataupun sayur jenis apapun lainnya.
Tapi tampaknya kali ini saya sudah memicu perdebatan antara ibu-ibu yang suka sekali berdiskusi ini. Ceritanya saya minta dibelikan celengan ayam untuk menggantikan celengan beruang saya yg sudah penuh (selain di bank, saya juga masih menabung di celengan tradisional, ah epic sekali).
Ibu membelikan saya sebuah celengan ayam warna kuning, yang kemudian saya peluk erat.
Tahayul dimulai.
'Jangan nabung dicelengan kayak gini, nanti bisa kosong' kata seorang ibu yang memang terkenal nyinyir.
Saya tersenyum.
'Ia, nanti uangnya diambil'
Saya tetap tersenyum sambil memeluk sicelengan.
Ibu lain menimpali, 'ia memang celengan ky gitu gag aman'
yang lain menambahkan 'uangnya diiket dulu sebelum ditabung'
Ibu nyinyir itu setuju,
'Ia, nanti uangnya diiket karet dulu baru ditabung, biar gag ilang'
Saya tetap tersenyum manis, tak menanggapi, tidak membantah tapi tak pula menyetujui.
Kelihatannya sikap saya membuat ibu nyinyir itu kesal, karena saya bandel seperti tak percaya, padahal memang tidak.
Ibu sudah selesai belanja, saya menggandeng tangannya, sebelah tangan saya memegang celengan ayam warna kuning. Saya terkikik.
Tentu saja celengannya akan kosong, kalau tidak pernah diisi.
Kalau uang tak dikareti bisa hilang padahal ia ada dalam celengan, apa bedanya dengan uang yang diberi karet. Kalau hantu blau bisa mengambil uang dalam celengan, apa susahnya buat ia sekalian melepas karet pengikat uangnya?
Saya tak percaya tahayul, tapi saya percaya setan ada dimuka bumi ini, dan memberantasnya bukan dengan karet gelang atau tahayul-tahayul semacamnya yang berkembang dimasyarakat.
Sungguh, saya tak meremehkan setan. Saya hanya percaya, Tuhan ada untuk melindungi kita dari godaan setan dan tahayul yang terkutuk.