Friday, November 29, 2013

Ada Apa Dengan Pintu Depan?

Seringkali saya tak habis fikir. Hampir sepuluh tahun tinggal dipemukiman padat penduduk ini, saya masih tidak bisa mengerti, kenapa orang-orang suka bertamu dari pintu belakang
Pintu depan rumah saya lebar, selain berhadapan langsung jaraknya juga tidak jauh dari pagar. Tapi kebanyakan tetangga, kerabat, sales bahkan pengemis lebih suka berjalan jauh menuju pintu dapur di belakang kurang, dengan alasan kami, sang empunya rumah pasti sedang ada dibelakang rumah. What the hell.
Padahal dari ruang keluarga kami bisa melihat jelas kalau-kalau ada yang bertamu lewat pintu depan. Justru tamu yang teriak-teriak dipintu belakang sering membuat blunder karena disangka anak-anak atau tetangga yang rumahnya terletak dibalik tembok belakang rumah kami.
Pak RT juga begitu, sejak belum jadi ketua Rukun Tetangga sampai sekarang, setiap berkunjung kerumah kami selalu dari pintu belakang, aaaaaaah dasar pimpinan yang tak bisa memberi contoh baik.
Ada juga seorang ibu yang berkunjung dikala magrib juga dari pintu belakng, orangtua teman adik saya yang juga diam-diam bertamu dari pintu belakang, padahal itu sudah malam! Ada lagi pengemis yang muncul selalu dari pintu belakang bahkan tak segan berusaha membuka pintu kalau kami tidak juga membuka pintu.
Pertanyaannya, saudara-saudara tidak bisakah kita bertamu dengan sopan, mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam, bukannya ngeloyor sok akrab kepintu belakang.
Tapi apa boleh buat, kebanyakan penduduk sini memang terbiasa bertamu dengan cara demikian, banyak yang bahkan memotong jalan melewati pekarangan rumah orang lain tanpa perlu izin apalagi merasa bersalah. Apalagi kalau sekadar bertamu dari pintu belakang, ah sudah biasa.

Thursday, June 6, 2013

Ayo, Jangan Ditunda



Seringkali ibu saya marah, setiap kali saya bermalasan ketika azan sudah berkumandang dan saya tidak langsung beranjak untuk solat. Memang lebih baik solat diawal waktu. dan isya adalah waktu solat yang paling sering saya undur pengerjaannya, dengan alasan, saya lebih suka langsung tidur ketika selesai solat, sementara saya baru beranjak tidur biasanya pada pukul satu pagi.
 
Dan beberapa hari silam saya kena batunya. Minggu lalu keluarga kami mendapat kabar, bahwa kakek saya yang tinggal di suatu kota terpencil nun jauh di sudut Jawa Tengah sana sakit keras. Bapak saya, yang merupakan satu-satunya anak yang tinggal di suatu kota nun jauh di sudut atas Pulau Sumatera, memutuskan untuk pulang kampung.
Minggu malam, ketika masih mengantar temannya yang baru datang dari Jakarta, bapak menelepon saya untuk memesan tiket pesawat secara online. Tiketpun dipesan, dan pembayaran harus dilakukan sampai pukul 00.30 pagi atau pembelian dibatalkan. Saat itu masih pukul 7 malam, dan karena bapak tidak punya fitur sms banking, terpaksa pembayaran dilakukan dengan cara transfer via atm. Saya menunggu bapak pulang kerumah agar bisa pergi ke atm bersama (karena orangtua saya masih bingung dengan masalah pembayaran via atm).

Saya memutuskan untuk mandi dan sudah berniat untuk solat isya sekalian. Tapi entah kenapa, saya tidak jadi solat dan berfikir, nanti saja setelah pulang dari atm baru solat. Sampai pukul setengah sepuluh malam baru bapak sampai rumah dan langsung mengajak saya ke atm.
Kami berboncengan dengan motor karena jarak ke atm tidak terlalu jauh. Dalam perjalanan tiba-tiba turun hujan deras, disertai angin kencang dan kilat yang menyambar-nyambar, ah dramatis sekali. Karena sudah malam dan terburu-buru kami tetap melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mantel. Saat itu entah kenapa terbersit dalam fikiran saya, seandainya saya mengalami kecelakaan, dan mati pada saat itu juga, saya belum menunaikan ibadah solat wajib saya. Seketika itu saya menyesal, kenapa saya menunda-nunda solat. Memikirkannya, saya berdzikir memuja-muja asma Allah dan memohon ampun serta perlindungan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dalam perjalanan. Setelah selesai melakukan pembayaran, kami beranjak pulang.

Hujan belum reda, kelihatannya malah semakin deras. Saya tahu, bapak sangat buru-buru mungkin karena cemas, khawatir dan sedih memikirkan kakek yang memang sudah sepuh dan sedang sakit keras. Begitulah, memang sudah kehendak Allah, dalam perjalanan pulang kami mengalami kecelakaan, motor yang kami tumpangi jatuh karena oleng disalip pengendara motor lain. Mungkin karena malam dan penerangan jalan yang tidak memadai, hujan begitu derasnya dan banjir yang sudah menggenangi jalan ditambah memang takdir kami untuk jatuh dari motor.
Saya jatuh berbantal genangan air, dengan kaki tertimpa motor. Nyeri sekali rasanya. Saya meringis, sedih sekali, hampir menangis karena malu, ditegur begitu sama Allah.
Sampai dirumah, saya langsung mengganti baju dan melihat ‘bekas’ kecelakaan. Mata kaki saya yang luka, ditambah lebam dibagian betis dan tangan. Saya langsung solat, tapi waktu sujud dan duduk kaki saya perih.

Saya merenung –masih hujan waktu itu, kelihatannya sepele, tapi saya seperti tersadarkan, solat memang utamanya dilaksanakan diawal waktu, banyak dalilnya, tapi saya sering mengulur-ngulur pengerjaannya karena berfikir masih ada nanti. Sering kita lupa, bagaimana kalau sudah tidak ada lagi nanti. Bukankah umur itu juga rahasia Allah. Seandainya saya saat itu mengalami kecelakaan hebat dan mati, sungguh saya termasuk orang yang merugi karena mati dalam keadaan lalai dari kewajiban. Itu sebabnya ibu selalu marah setiap kali saya menunda-nunda solat, bermalas-malas ketika azan telah berkumandang, sibuk dengan laptop atau handphone, internetan atau baca buku dan alasan-alasan lain sampai lewat tengah malam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda solat.

Saat tulisan ini saya buat, lebam di kaki saya masih membiru sementara  kakek saya yang sakit sudah meninggal . Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kakek dan kita semua. Aamiin.

Wednesday, May 29, 2013

Masa Depan, Milik Siapa?

Saya tinggal dalam masyarakat dengan tingkat solidaritas yang masih tinggi, jarak antara tetangga hanya sebatas pagar. Dan kepedulian berseliweran disemua tempat, baik ataupun buruk. Termasuk kepedulian tetangga saya, tentang status saya.
Tadi pagi saya membeli mi instan, si empunya warung, yang baik hati bertanya pada saya,
'reni jadi gak kerja?'
saya tersenyum sambil menggeleng
'kenapa, gak boleh kerja ya?'
saya menggeleng 'gak bu, memang gag ngelamar kerja' kataku sambil berusaha mengingat-ingat dimana letak ijazahku
'jadi gimana masa depannya coba? sudah kuliah mahal-mahal tapi gak kerja'

saya terdiam, bingung harus menjawab apa, kalau hanya masalah kuliah tinggi-tinggi -sampai lantai 4, tapi sekarang tidak bekerja saya masih bisa berargumen, tapi kalau soal masa depan.
Masa depan milik Tuhan.

Ada orang yang menjadi pengangguran karena keadaan, namun saya dengan sengaja memilih menjadi indonesian idle dengan alasan yang mungkin tidak bisa dimengerti kebanyakan orang.
Kuliah penting, bekerja penting, hidup juga penting. Tak perlulah saya berfalsafah panjang lebar tentang itu.
Kalau saya pribadi, terserahlah orang mau kuliah atau tidak, mau bekerja jadi apa yang penting halal, atau mau melakukan apa saja.
Tak perlulah kita risaukan masa depan kita apalagi masa depan orang, karena ia pasti datang. Jadi apapun itu, ia akan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi hidup kita. Maka, jadilah orang baik.

Saya teringat sebuah lagu lawas, yang saya lupa penciptanya, liriknya sangat bagus...

When i was just a little girl
I asked my mother what will i be
Will i be pretty, will i be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be

Wednesday, May 15, 2013

Menikah, Ah Mahal Nian



berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Begitulah kira-kira kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepada saya ketika dia berniat melamar saya untuk jadi istrinya. Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak bisa dijawab dengan jawaban yang juga sederhana. Karena budaya pernikahan di Indonesia juga ternyata tidak sederhana.
Saya sering, berulang kali menjadi ‘pesuruh’ dalam sebuah pesta pernikahan. Mulai dari menjadi pengiring pengantin, pembawa bale bagi mempelai perempuan, penjaga buku tamu sampai yang paling melelahkan tentu saja, penjaga hidangan pesta.
Dan tidak ada yang sederhana dalam pesta pernikahan.

Saya berulang kali menekankan, tentang prinsip pernikahan yang saya anut, bahwa pernikahan itu sederhana, ada mempelai pria dan wanita –dan cinta, ada wali nikah, saksi dan mas kawin. Dan sebaik-baik perempuan adalah yang paling mudah mas kawinnya. Maka ketika saya menikah nanti, inshaAllah semua juga akan sesederhana itu, tidak perlu lah pesta bermegah-megah, cukup syukuran semata, dengan anak-anak yatim piatu, sanak saudara dan kaum kerabat.

Tampaknya tak sesederhana itu.


Ambil contoh, teman saya yang akan segera menikah menjadikan saya sparing patner-nya untuk mengurus tetek bengek proses menuju pernikahannya. Mulai dari lamaran sampai nanti pestanya. Dia cerewet sekali, minta ampun. Karena calon suaminya bekerja di luar kota, maka masalah hantaran diserahkan sepenuhnya kepada teman saya. Maka saya berbesar hati menemaninya berbelanja hantaran yang minta ampun capeknya. Mulai dari kain kebaya, perlengkapan solat, bed cover,  tas, sandal, perlengkapan mandi, make-up sampai linggerie. Itu belum terhitung saat dia mengajak saya melihat-lihat lemari pakaian, tempat tidur, meja rias bahkan kitchen set di Home Centra. Kemudian buah-buahan dan kue juga. Semakin kompleks karena semuanya tematic, serba ungu-emas (maklum, dia penggemar warna ungu), walau paket hantaran itu akhirnya berubah menjadi warna warni –hijau, ungu, pink, emas dan krem.
Saya bertanya, ‘apakah harus, ia memberikan barang-barang seperti ini kepadamu?’
Dan jawabannya ringan saja, ini sekedar tanda pengikat, buah tangan, tanda keseriusannya untuk melamar, lagipula sudah adatnya begitu, kata teman saya sambil membolak-balik katalog perhiasan merk terkenal.
Baiklah, calon suami teman saya memang orang berada, ringan saja ia mengucurkan dana untuk membeli semua hantaran itu yang nominalnya mencapai jutaan rupiah.

Ketika lamaran berlangsung pihak pria juga akan menyerahkan sejumlah uang untuk pihak wanita, yang nominalnya bisa mencapai puluhan juta. Kemudian dibicarakan bagaimana pesta nanti akan berlangsung. Dengan adat apa, diselenggarakan dimana, berapa orang yang akan diundang, dan lain-lain yang mengikutinya.
Pesta itu sendiri, akan berlangsung sangat meriah, tenda warna-warni bergelombang meriah bukan main. Lalu ada pelaminan yang dihias rupa-rupa bunga –kadang ada air mancurnya, baru-baru ini malah ada air terjunnya, kemudian perias pengantin yang mukanya bertekuk-tekuk macam tisu makan itu akan memakaikan macam-macam pakaian, adat apa bilang saja, minang, jawa, batak, aceh, palembang, semua dia punya, make up, bereslah, yang jelas ketika melihat hasil dempulannya, saya haqqul yaqin air wudhu tak akan tembus kewajah.

Itu baru wardrobe. Belum undangan, cinderamata, seragam anggota keluarga, foto pra wedding, foto pernikahannya, kemudian katering, pengiring pengantin, kursi, meja, dan yang tak boleh ketinggalan, hiburan dari yang kekota-kotaan dengan home band plus saxofone nya sampai hiburan rakyat –organ tunggal, yang biduannya bisa meliuk-liuk lebih dahsyat dari ulat bulu.  Dan semuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Uang ketika hantaran itulah yang kemudian digunakan untuk menutupi biaya pesta pernikahan, kalau orang tua mempelai berasal dari golongan priyai, atau pengusaha terkenal atau minimal bekerja di kantor pemerintah yang bonafit, maka pesta pernikahan anak adalah ajang untuk membuktikan eksistensi diri. Tapi tak apalah semua dilakukan demi buah hati yang kasmaran, demi menjadikan mereka raja dan ratu sehari.

Saya angkat tangan. Bergidik, kalau, kalau calon suami saya misalnya bekerja sebagai karyawan yang gajinya, anggaplah tiga juta rupiah sebulan, dan biaya pernikahan, anggaplah 50 juta rupiah, perlu berapa bulan dia menabung sampai bisa menyelenggarakan pesta berbudget puluhan juta itu. Bayangkan, puluhan juta rupiah habis dalam sehari, sementara dibalik tembok rumah kita yang kokoh mungkin ada tetangga kita yang kesulitan membayar uang sekolah anaknya. Di balik gegap gempita dentuman lagu mungkin  ada tetangga kita yang baru bisa makan setelah banting tulang berhari-hari –itupun cuma dengan tempe goreng.
Bayangkan, jika puluhan juta itu disumbangkan saja ke anak-anak yatim, mereka akan bersuka cita mendoakan sang pengantin agar langgeng dunia akhirat, karena jujur saja terkadang saya tidak sempat mendoakan pengantin yang menggelar hajat itu, salaman pun hanya sekilas, yah ucapan selamat yang basi, apalagi kalau saya tidak begitu kenal pengantinnya, malah terkadang tidak sempat bertemu pengantinnya karena terlalu lama dirias. Atau jika uang itu digunakan untuk syukuran sederhana dan sisanya disimpan saja sebagai modal usaha, untuk menyewa rumah, atau tabungan pendidikan bagi calon anak kelak.

Semua karena adat, kebiasaan, budaya yang mengakar di masyarakat bak ditempel dengan lem setan, susah dilepas dan dihilangkan. Adat upah-upah, melempar-lempar kembang, berputar-putar dan dinyanyi-nyanyikan sekelompok ibu-ibu nasyid itu tak kena dalam islam. Tak perlu berbantah-bantah, jelas dalam pelajaran munakahat apa-apa saja syarat sah pernikahan. Pengabaran pernikahan tak perlu dengan pesta pora berlebih-lebihan, karena yang berlebih-lebihan itu sifatnya setan. Tak perlu memaksakan diri demi sebuah pesta, demi menjadi raja dan ratu sehari. Saya kenal seorang kerabat yang demi menggelar pesta mewah sampai harus berhutang sana-sini, ada juga yang sampai menjual mobil, rumah bahkan tanah perkebunan.

Tak perlu hantaran, lemari kayu jati, tempat tidur berukir-ukir kalau nantinya tinggal pun masih menumpang di rumah mertua. Tak perlu pesta besar-besaran yang menghabiskan banyak biaya, waktu dan tenaga, kalau bahkan keriuhannya hanya dinikmati sehari –bahkan kadang tak bisa dinikmati.
Ah budaya ...

Maka ketika ditanya, ‘berapa yang harus saya berikan ketika meminangmu nanti?’
Saya menjawab sekenanya ‘berilah sebanyak jumlah asma Allah, sanggup kah?’
‘Banyak sekali, bisa ditawar’
Saya tergelak, ini bukan jual beli. Saya bukan dagangan. Kita tidak sedang berbisnis.
Pesta pernikahan, menjadi raja dan ratu sehari, ah konyol sekali. Saya tidak mau sehari. Saya mau selamanya jadi ratu dalam rumah tangga saya, bersama raja yang saya pilih menjadi imam saya.

Anggaplah semua kata-kata saya sangatlah naif. Saya hanya memimpikan satu masa, dimana adat tidak lagi menghalangi keyakinan seseorang untuk berbuat yang benar.

Tuesday, May 7, 2013

Ikat uangnya sebelum ditabung ...

Seperti biasa, saya menemani ibu saya berbelanja sayur mayur. Kali ini saya cukup arif untuk tidak main-main dengan tauge ataupun sayur jenis apapun lainnya.
Tapi tampaknya kali ini saya sudah memicu perdebatan antara ibu-ibu yang suka sekali berdiskusi ini. Ceritanya saya minta dibelikan celengan ayam untuk menggantikan celengan beruang saya yg sudah penuh (selain di bank, saya juga masih menabung di celengan tradisional, ah epic sekali).
Ibu membelikan saya sebuah celengan ayam warna kuning, yang kemudian saya peluk erat.
Tahayul dimulai.
'Jangan nabung dicelengan kayak gini, nanti bisa kosong' kata seorang ibu yang memang terkenal nyinyir.
Saya tersenyum.
'Ia, nanti uangnya diambil'
Saya tetap tersenyum sambil memeluk sicelengan.
Ibu lain menimpali, 'ia memang celengan ky gitu gag aman'
yang lain menambahkan 'uangnya diiket dulu sebelum ditabung'
Ibu nyinyir itu setuju,
'Ia, nanti uangnya diiket karet dulu baru ditabung, biar gag ilang'
Saya tetap tersenyum manis, tak menanggapi, tidak membantah tapi tak pula menyetujui.
Kelihatannya sikap saya membuat ibu nyinyir itu kesal, karena saya bandel seperti tak percaya, padahal memang tidak.
Ibu sudah selesai belanja, saya menggandeng tangannya, sebelah tangan saya memegang celengan ayam warna kuning. Saya terkikik.
Tentu saja celengannya akan kosong, kalau tidak pernah diisi.
Kalau uang tak dikareti bisa hilang padahal ia ada dalam celengan, apa bedanya dengan uang yang diberi karet. Kalau hantu blau bisa mengambil uang dalam celengan, apa susahnya buat ia sekalian melepas karet pengikat uangnya?
Saya tak percaya tahayul, tapi saya percaya setan ada dimuka bumi ini, dan memberantasnya bukan dengan karet gelang atau tahayul-tahayul semacamnya yang berkembang dimasyarakat.
Sungguh, saya tak meremehkan setan. Saya hanya percaya, Tuhan ada untuk melindungi kita dari godaan setan dan tahayul yang terkutuk.

Saturday, May 4, 2013

Bagaimana Cara Mengeja Skripsi (?)



1. Mengeja Skripsi

Buat kalian yang katanya sarjana, coba lakukan ini. Bagaimana caranya mengeja kata ‘skripsi’ ?
S e se, k r i, kri, p, krip, s i si : skripsi.
Horee, susah kan. Begitulah, mulai dari mengejanya saja sudah njelimet begitu, apalagi membuatnya. Itu sebabnya banyak calon sarjana yang hampir gila, kehilangan berat badan, semangat bahkan pacar (waaaw) gara-gara tugas akhir yang menyebalkan ini. Apalagi kalau belum apa-apa sudah dihadang dosen pembimbing semacam mak lampir, semester akhir di kampus akan berubah menjadi gua hantu, gelap, suram dan banyak memedinya.
Baiklah kita ulang lagi, tanyakan sekalian pada dosen-dosen itu, yang katanya  Master, Doktor atau Profesor, bagaimana caranya mengeja skripsi?
Mungkin itu sebabnya, skripsi menjadi hantu bagi mahasiswa yang lemah iman dan tidak kuat mentalnya, mulai dari pengucapannya saja ‘skripsi’ sudah begitu ribet, bayangkan kalau yang berbicara mahasiswa cadel, maka lidahnya akan kepelintir mengucapkan ‘sekelipsi’ dihadapan dosen killer, mau bagaimana, berusaha mati-matian sampai wajah membiru pun skripsi akan tetap menjadi ‘sekelipsi’ , salah-salah bisa terucap ‘epilepsi’
Bagaimana bisa membuatnya, kalau definisnya saja sebagian mahasiswa tidak mengerti. Skripsi hanya sebatas tugas akhir yang wajib dibuat untuk bisa segera sidang meja hijau. Tak perduli itu skripsi diperoleh dari mana, mau nempah kek, copy paste kek, mau nunggu keajaiban Tuhan tiba-tiba jatuhin skripsi dari langit kek, apa mau susah-susah berjuang nulis sendiri, yang penting setumpuk kertas, penuh teori, hipotesa-hipotesa, rumus-rumus dan analisa-analisa sampai dihadapan dosen, siap diuji kebenarannya (halah, ini yang menyebalkan, kadang banyak dosen yang tiba-tiba merasa jadi ‘Tuhan’ karena bisa menentukan nasib anak-anak bebek dekil -bernama mahasiswa ini, yang sudah bertahun-tahun bercokol dikampus -sok-sok jadi aktivis atau karena memang bego- pantas menyandang gelar sarjana atau tidak)

Begitulah skripsi, yang bukan saja membuat lidah kepelintir, tapi juga sekaligus otak, hati dan kantong. Bertahun-tahun berkutat dengan kata ini membuat saya ingin sekali lagi membuat skripsi dengan judul baru
“pengaruh tenggang pembuatan skripsi terhadap penurunan kesehatan mental mahasiswa” :p

Sunday, April 28, 2013

Sebenernya saya tidak mau cerita ...

Suatu hari saya menemani ibu saya belanja sayur di kedai dekat rumah. Tidak ramai, hanya ada seorang pembeli yang saya kenal tinggal didekat rumah saya, dan seorang pembeli lain yg sudah cukup sepuh dan cukup dihormati di kampung kami. Ketika ibu sedang sibuk memilih sayur dan saya sibuk memain2kan tauge didepan saya, datang seorang ibu muda, biasa saja. Tetangga saya itu, langsung menyapanya hangat, bertanya kenapa lama tidak kelihatan, benarkah dia pindah rumah, dengar2 suaminya.....  dan kemudian terjadilah curcol ditempat tersebut.

Sang ibu muda dengan wajah memelas bercerita bahwa ia merasa teraniaya, saya yang berada tepat disebelahnya tentu saja mendengar semua curhatannya. Bahwa ia 'diusir' dari rumah sebelumnya yang ia tempati, karena ia harus 'berbagi' dengan adiknya. Kemudian mengalirlah cerita cerita sedih lain, bahwa ia begini begitu dan lain lain, sebenarnya saya jengah, saya tak suka mendengar ibu ibu bergosip, karena semua kalimatnya biasanya bersifat subjektif.

Kamudian sampailah ia pada cerita bahwa adik iparnya begitu jahat, keluarlah kalimat seperti ini,

'Sebenarnya saya tidak mau bilang...., yah dia kan saudara saya juga, tapi..... '

dan kemudian kalimat demi kalimat meluncur mulus dari mulutnya menceritakan 'balada sang adik ipar' sambil sesekali diselingi kalimat
'Sebenarnya saya tidak mau bilang sih... '
Tetangga saya ikut membuat panas dengan memberi informasi bahwa si adik ipar (yg ternyata dia kenal juga) memang bertabiat buruk, sang sepuh hanya manggut2 dan membenarkan perbuatan jahat itu tidak baik, sementara sang ibu muda diatas angin dibelai memedi, tetap bercerita dengan raut sedih sambil berujar
'Ia kan sebenarnya saya tidak mau bilang, tidak mau cerita cerita.... '

Ibu siap berbelanja, tauge sudah tidak saya main mainkan lagi, saya menggandeng tangan ibu, sambil berjalan pulang saya berujar
'Kalau gag mau cerita, yah ngapain diceritain...'
kemudian kami tertawa, tentunya dalam hati.
Ah, sebenarnya saya tidak mau cerita....

Harga Diri, Menghargai, Penghargaan

Semalam saya belajar banyak tentang menghargai, atau belajar menghargai orang lain. Berawal dari permintaan kakak yg meminta saya mengambil berkas ke kantor pusat kerjaannya di Medan, saya menyanggupi dan membuat janji dg org yg bersangkutan di kantor tsb via kakak saya, akan datang pukul setengah sebelas.
Keesokan harinya, atau tepatnya semalam (27/04/13) saya datang bersama adik tepat waktu, puku .10:30 kami sampai di pelataran parkir kantor tsb, saya menelepon org yg bersangkutan, sebut saja koplak.
'Pagi bg koplak, (saya memperkenalkan diri) saya sudah sampai di parkiran'
'Oh sudah diparkiran ya, gimana yya, saya lagi ad urusan penting ini, tunggu sampai jam 12 ya, gag papa kan, nti jam 12 datang lg'
saya terdiam, terpana, terbata.
Kemudian percakapan selesai, tentu saja saya kesal kemudian menelepon kk saya dan protes
Dia menyarankan saya menunggu di restoran fastfood di dekat situ.
Saya dan adik saya kemudian menunggu sambil makan siang di restoran fastfood tsb. Pukul 11.30 saya mengirim sms kepada saudara koplak,
'Maaf bg koplak, saya masih ad urusan penting lg abis ini, saya tunggu jam 12 pas, tp direstoran fastfood saja, soalnya saya nunggu disini'
Taklama saya ditelepon oleh kk saya yang marah karna kami mengirim sms kepada saudara koplak, menurut kk saya, saudara koplak tersinggung dan menyuruh kami pulang saja.
Saya tentu tidak terima, kurang ajar betul saudara koplak itu, jadi buat apa dia membuat kami menunggu satu jam. Terus terang saya tidak suka org terlambat, menunggu lima menit saja saya enggan, apalagi sampai satu jam.
Kemudian adik saya iseng berkata, coba sms lagi, maka kami kembali mengirim sms
'begitu saja marah bg, kami menunggu satu jam saja tidak marah, baiklah kami pulang'
kemudian kk saya kembali menelepon dan marah, menurutnya sikap kami bisa membuat berkasnya ditahan dan tidak diberikan.
Kemudian kk saya mengirim saya sms,
'Aku tw dia gag tepat janji, tapi birokrasi itu beda reni, gag bisa idealis ky gitu. Lagipula kw kan gag kenaL sama dy,  kenapa ky gitu ngomongnya. Ak tw dy salah karna terlambat, tp kalian juga gag bisa berlaku ky gitu. Ini nasihat buat kalian, pikirkan akibatnya sebelum bicara, mungkin gag ad akibatnya buat kalian, tp ad buat ak, yawda mw diapain lg, ini bukan soal perlu atau gag perlu, bukan soal siapa dia, tapi soal etika'

1. Apabila saudara koplak memang tidak bisa datang pada hari sabtu dengan alasan libur (perlu diingat bahwa yang libur hari sabtu bukan dia saja) dia tidak perlu mengiyakan janji untuk pengambilan berkas pada hari sabtu.

2. Saya baru dapat nomor hp saudara koplak pada hari sabtu pukul 10.00 pagi, sejauh ini janji dibuat via kk saya, maka saya pikir semua sudah beres, kami datang tepat waktu dan saudara koplak dengan alasan urusan penting mengulur waktu sampai satu setengah jam kemudian dan kami menyanggupi.

3. Saya memang masih punya janji lain sehabis itu, dan saya takut saudara koplak akan datang terlambat lagi, karna itulah saya mengirim sms agar dia datang tepat waktu (tidak ada etika yg salah disini). Kenapa saya menyuruh datang ke restoran fastfood, karena restoran itu satusatunya tempat yang paling strategis untuk menunggu, letaknya tidak sampai 500 meter dr kantor tsb.

4. Saudara koplak benar benar tidak menghargai saya, karena dy bukannya menyampaikan kepada saya, tapi malah repot2 menghubungi kk saya hanya untuk menyuruh kami pulang. Jelas jelas yg menunggu dia itu saya bukan kk saya.

5. birokrasi bukan alasan untuk tidak menghargai orang lain, sekalipun anda presiden anda harus menepati janji yang sudah anda buat, apalagi ands bukan bukan presiden.

6. Terus terang saya sakit hati. Apakah salah ketika saya mengingatkan seseorang agar datang tepat waktu, kenapa org yg tidak tepat janji, bahkan sudah meremehkan janji tetap dibela dan dianggap benar dg alasan birokrasi. Birokrasi sampah!

7. Masalah berkas yang dikhawatirkan tidak diberikan. Berkas adalah hak mutlak kalian, dan kalian membayar. Hanya org bodoh yg tidak memperoleh berkas yg memang mutlak hak nya.

Saya tersenyum, ketika adik saya yg juga jadi korban dalam masalah ini, mengirim pesan singkat kepada kk saya, yg biasa dipanggilnya mbak

'Ini pelajaran untuk mbak, ini bukan masalah etika, tapi harga diri, harga diri mbak, harga diri kami, harga diri dia juga, mau sampai kapan dia bersikap ky gitu? Mau sampai kapan dia gag bisa dewasa? Ini bukan masalah berkas mbak, gag mungkin ditahannya berkas itu, paok x kalau berkasnya sampai gag dikasi. Ini masalah attitude dia, jgn mentang mentang yg dicari dy bisa kekanak kanakan ky gitu, harusnya mbak sadar, dunia ini keras, kalau 'enggih' aja sama orang kita yang dipijak pijak'

Kami memang tidak mengerti soal birokrasi, apalagi birokrasi macam sampah yang kalian anut itu.

Thursday, April 18, 2013

Manisnya kejujuran

Beberapa waktu lalu saya menemani bapak undangan ke daerah Kisaran, dalam perjalanan pulang ke Medan, tentu saja kami melewati rute Pasar Bengkel yang terkenal akan dodolnya.
Sekian banyak toko berjejer rapi menawarkan rupa-rupa makanan manis nan legit berwarna hitam pekat itu. Ditambah cemilan cemilan lain dan aneka minuman ringan. Semarak dan menggoda..
Banyak toko besar kami lewati, tapi mobil tak kunjung berhenti untuk membeli buah tangan. Sampai hampir akhir batas deretan toko, kami baru menepi, disebuah toko sederhana, sepi dan begitu tenang. Dodol Tekad, tertera di plang nama depan toko. Penjualnya seorang nenek tua yang terlihat bersahaja menanti pembeli datang.
Terlintas suudzon, sedikit kesal dan heran, kenapa tidak berhenti di toko lain saja yg lebih 'hidup', yg lebih bervariasi dagangannya, dan setengah berbisik saya bertanya pada bapak
'Pak, kok beli disini sih, dikit tuh jualan'a' ujar saya misuh misuh. Bapak cuek saja.
Tak dinyana, saat saya sedang mematung bingung hendak membeli apa, sang nenek berkata pelan
'Ini dodol lama, sudah dua hari, kalau mw beli kesebelah saja'
saya melongo, sumpah tak habis pikir. Di era persaingan yg ketat ini, dengan jumlah kompetitor bukan main banyaknya, sang nenek dengan legowo, tenang dan mantap, mengaku bahwa dodol yg ia jual sudah tidak fresh lagi, dan bahkan menyarankan agar kami pindah kesebelah dan membeli ditempat saingannya saja (yg belum tentu menyediakan dodol baru juga)
Saya terdiam, bapak jelas tidak mendengar titah sang nenek, saya pun tak mengadu, hanya menelan bulat bulat pengakuan jujur sang nenek, pun tak beranjak ke toko sebelah sesuai sarannya. Alih alih tangan saya malah memilih milih aneka penganan -dan dodol of course, begitu banyaknya (untuk ukuran keluarga kami yg hanya berempat) sambil tersenyum manis pada sang nenek.

Cerita berlanjut. Kilaf membeli aneka oleh oleh memang menyebalkan, karena sampai dirumah kami tak berniat untuk menghabiskannya. Selang berapa hari, saya teringat ada dodol yg belum dimakan, ada rasa was was, takut takut dodol sudah berjamur, namun setelah dilihat, ternyata dodol masih dalam keadaan toyib tidak kurang suatu apapun dan tidak bertambah satu viruspun. Bersih, tetap hitam mengkilat dan sama sekali tidak mengeras. Saya coba sedikit, hem maniis.
Jadilah kami sekeluarga ngemil dodol, saat itu saya baru berujar apa yang terjadi antara saya, si nenek dan dodol manis ini berapa waktu yg lalu, bapak tidak kaget, dy berkata
'Itulah penjual yg jujur, mengakui cacat dagangannya, tapi masih enak juga kan dodolnya'
Dari sanalah mengalir cerita, bahwa si nenek termasuk generasi awal yg berjualan di Pasar Bengkel, dahulu usahanya yg paling maju, dodolnya terkenal enak dan legit. Saat zaman semakin maju dan saingan semakin banyak perlahan usaha dodol harus berbagi pelanggan dengan toko lain, apalagi toko toko lain menawarkan rupa rupa makanan lain yg menggoda, tempat yg lebih luas, bersih dan menarik.
Sejak sang suami pergi menghadap Sang Khalik terlebih dahulu, usaha ini kehilangan gairahnya.
Sang nenek diusia senja, sudah tidak lagi ngoyo memikirkan materi, hanya kebiasaan mungkin yang membuatnya bertahan ditambah sekelumit kenangan manis saat masih berdua membuat dodol yang membuatnya tetap setia menunggu pembeli. Karena itu ia bisa legowo mengakui kualitas dodolnya dan ikhlas bila pembeli toh akhirnya tak jadi berbisnis dengannya,
Tapi saya tahu pasti, bahwa cinta dan kejujurannya yang membuat dodol itu terasa legit dan manisnya menempel sangat lekat dalam ingatan saya.

Sunday, March 10, 2013

Lelakiku

Lelakiku, calon imamku
tampan karena sikap bukan fisik
menarik karena akhlak bukan dandanan
pintar karena amal bukan sekedar gelar
kaya karena ilmu bukan sekedar harta

Lelakiku, calon imamku
yang akan meluruskan safku ketika aku mulai bertingkah
yang ridha aku berjalan disampingnya sebagai nikmat dari Tuhan
yang mengajakku bangun disepertiga malam agar berduaan dengan Tuhan
yang akan mengajar alif baa taa pada anakanakku kelak

Lelakiku, calon imamku,
yang lebih suka melihat aku berhijab ketimbang berdandan ala masa kini,
yang lebih suka makan bersama anakanak yatim ketimbang makan berdua dirumah makan mewah
yang lebih suka ketoko buku daripada jalanjalan keplaza
yang tidak mengubah aku jadi orang lain
yang tetap tersenyum ketika aku marah
yang sabar mengajarku kehidupan
yang menjadikan aku ratu dalam rumah tangga
yang mencintaiku setiap hari hanya karena Tuhan
yang melamarku dengan baikbaik
yang menikahiku karena ingin menyempurnakan agamanya
karena ketaatannya pada Tuhan
Lelakiku, calon imamku
yang membacakan surah Ar-Rahman sebagai mahar pernikahan
sedang apa?
inshaallah aku sedang bersiapsiap, agar pantas untukmu ketika nanti tiba saatnya
kamu datang ...

Friday, March 8, 2013

Ruang V

aku asam
kamu pahit
jadi kita sama sama rumit

aku roti tawar
kamu kopi hitam
jadi kita sama sama hambar

aku ujung pantai
kamu puncak gunung
jelas terbentang antara kita : ruang

Tuesday, February 26, 2013

Ruang III

ulang tahunmu lewat sepuluh hari
sengaja aku abaikan agar ada jeda
karena kita seperti partikel dalam air
saling terkait tapi tak terlihat
senyum manismu berlalu sepuluh bulan
sengaja aku lupakan agar ada nafas
karena kita seperti mata
berdampingan tapi tak saling bertemu
janji renyahmu memudar dalam sepuluh tahun
tidak sengaja terbakar, apinya menjalar sampai ke ulu hatiku
ia membinasakan apa yang tidak ingin aku lupakan jadi abu dan puing puing kecil

pura-puralah lupa
saat kita menyilangkan hati
dan menyelipkan kata dalam ruang
seperti anak kecil berlari-lari di hutan

bayanganmu sepuluh menit lalu
sengaja aku simpan dalam bejana
karena kita seperti ruang yang dipisahkan antara

Sunday, February 24, 2013

Ruang IX

anak kecil yang kau lihat dulu
dengan satu lesung pipi dan rambut lurus berponi
itu aku
waktu itu aku empat belas dan kau entah berapa

anak kecil yang kau goda dengan sajak sajak
penuh teatrikal dan aku malu malu
mati matian menahan tawa
waktu itu aku baru lulus smp dan kau hampir lulus kuliah

aku anak kecil yang punya satu lesung pipi itu,
sekarang aku sudah besar
dan kau sudah terbang entah kemana
benar, aku anak kecil yang waktu itu
dan mungkin kau sudah lupa
bukankah sebelas tahun ruang yang terlalu lama untuk berjarak?

(reni, 230213)

Lamaran yang terlambat

Ada seorang teman yang lebih dulu berpulang ke Rahmatullah, kematiannya adalah berita dukacita paling dalam bagi orang yang menyayanginya, karena teman tersebut adalah seorang gadis manis yang baik pekertinya. Rahma namanya. Gadis manis berjilbab ini sangat disayang keluarga dan teman-temannya. Rahma tak hanya pandai, ia juga rajin dan cekatan serta ramah pada siapa saja.

Suatu ketika datanglah sebuah lamaran padanya dari seorang manajer hotel ternama di kota kami. Sang manajer yang dulunya senior kami dikampus telah lama memendam rasa pada Rahma, kini saat merasa sudah mapan, dia berkenan melamar Rahma untuk dijadikan istri. Rahma menerima pinangan tersebut karna sang manajer datang dengan itikad dan cara yang baik. Maka tanggal pernikahan pun ditetapkan, karena masih terikat kontrak dengan hotel maka pernikahan baru bisa dilaksanakan setahun kemudian. Selama menunggu tersebut ternyata banyak terjadi ketidakcocokan antara mereka, sehingga empat bulan paska lamaran sang manajer secara sepihak membatalkan rencana pernikahan tersebut.

Satu bulan kemudian, sang manajer datang bersilaturahmi bersama sepupu dan seorang perempuan cantik yg dikenalkan sebagai pacar barunya. Rahma yang hatinya sangat terluka tetap menyambut baik kedatangan mantan calon suaminya itu. Dikenalkanlah ia dengan Haris, sepupu sang manajer yang bekerja sebagai penyiar radio swasta. Paska perkenalan terjalin hubungan baik antara Rahma dan Haris. Haris diam-diam menyukai Rahma, dia berempati pada gadis manis yang hampir dinikahi sepupunya itu.

Rahma sendiri, sejak pembatalan sepihak oleh sang manajer memendam trauma dalam hatinya, kesedihannya semakin mendekatkannya pada Allah Swt, sujud-sujud malamnya memberinya inspirasi untuk menguji laki-laki lain yang berniat melamarnya. Rahma memberi syarat pada siapapun yang hendak melamarnya harus hapal surat Ar-Rahman, baru Rahma bersedia dinikahi. Banyak laki-laki yang awalnya menyukainya perlahan mundur. Kecuali Haris, dengan memberanikan diri, Haris menyatakan keinginannya melamar Rahma.

Haris bukanlah pemuda kaya, tampan dan tidak pula alim. Solatnya saja masih bolong-bolong, jangankan surat Ar-Rahman, membaca Al-Qur'an saja ia jarang. Haris merasa seperti pungguk merindukan bulan. Pribadi Rahma yang membuatnya bertekad merubah diri, perlahan mulai ia tinggalkan kebiasan buruknya seperti merokok, dugem serta membiasakan diri solat sebisa mungkin diawal waktu. Dia juga mulai membaca Al-Qur'an, awalnya sangat berat bagi Haris untuk menjalaninya. Sang manajer yang tahu Haris berubah karena Rahma merasa cemburu, ada perasaan tak rela sepupunya menyukai Rahma. Karena perasaan itu sang manajer datang dan sekali lagi melamar Rahma. Rahma yang halus perasaannya tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka. Karena bimbang akhirnya ditetapkan siapa yang dalam tiga bulam lebih dulu bisa menghapal surat Ar-Rahman maka diterima lamarannya, selama tiga bulan mereka tidak diperkenankan bertemu atau menghubungi Rahma.

Selama proses menghapal Haris merasakan perubahan dalam hidupnya, sekarang ia benar-benar meninggalkan kebiasaan jeleknya. Dulu ia solat dengan terpaksa, namun kini Haris malah menemukan kenikmatan tersendiri dalam tiap ibadahnya. Maka bukan hanya yang wajib, kini yang sunnah pun mulai diamalkan Haris. Dia juga mulai berpuasa sunah dan rutin mengikuti pengajian. Ketika bisa menghapal surat Ar-Rahman ia tak langsung menemui Rahma, kini ketertarikannya bukan lagi sekedar soal lamaran atau cintanya pada Rahma, melainkan proses pencarian jati diri. Haris juga membaca arti dan mencoba memahami tafsir surat Ar-Rahman dari ulama. Baginya tak ada artinya kalau sekedar menghapal, dia ingin tahu apa makna surat tersebut. Kecintaannya mulai bergeser dari masalah dunia ke akhirat, kepada cinta hakiki yaitu Allah Swt.

Waktu tiga bulan berlalu, namun tak cukup bagi Haris untuk mempelajari semua. Haris kini serius mendalami Al-Qur'an, meskipun tidak menghapal seluruh isi Al-Qur'an tapi dia rutin membacanya setiap hari serta mempelajari tafsirnya.

Selang enam bulan Haris baru datang menemui Rahma, ia pasrah pabila Rahma telah memilih orang lain, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih sekaligus melihat Rahma yang telah membawa perubahan besar dalam hidupnya. Sampai dirumah Rahma yang menyambutnya seorang laki-laki paruh baya, ayah Rahma.
"Assalamualaikum, maaf pak, saya Haris teman Rahma, bisa saya bertemu Rahma"
Laki-laki itu memandang Haris lama kemudian menghela nafas "Waalaikumsalam, kamu nak Haris yang dulu juga berniat melamar Rahma?" Ia sekali lagi menghela nafas "Kemana saja kamu, Rahma sudah lama menunggu kamu"
Haris terkesiap, darahnya berdesir, dia mencintai wanita itu, tapi disuruh menjauh untuk mencari bekal agama dan Allah menetapkan hati wanita itu untuk menunggunya. Betapa indah rencana Tuhan.
"Maaf pak, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya" Haris bertutur tentang pencarian jati dirinya yang membuat ayah Rahma larut dalam kesedihan "Maaf pak, bisa saya bertemu Rahma?"
Laki-laki itu tersenyum, "Rahma telah lama menunggu kamu, belum ada yang bisa memenuhi syarat yang diajukan Rahma, termasuk sepupumu itu, tapi Rahma percaya nak Haris bisa" laki-laki itu diam sebentar "kamu ambilah wudu kemudian kita akan lihat apakah nak Haris telah memenuhi syarat yang Rahma ajukan"
Haris berwudu, kemudian duduk dihadapan laki-laki itu,  perlahan mulai melantunkan ayat-ayat indah dari surat Ar-Rahman lancar tanpa halangan sedikitpun. Takdir Allah berkehendak seperti itu.
Laki-laki itu menangis tanpa airmata, sesaat setelah Haris menyelesaikan hapalannya, ia berkata lirih
"Alhamdulillah, laki-laki seperti ini yang pantas mendampingi Rahma, seandainya kamu datang lebih cepat nak. Bapak minta maaf, bapak tidak tahu harus bilang apa, kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, Rahma yang selama ini menunggu kamu telah lebih dulu berpulang kepangkuan Illahi. Sebulan lalu ia jatuh dari tangga dan meninggal setelah dirawat dua hari di rumah sakit. Ba'da ashar lepas membaca surat Ar-Rahman, dia kembali dengan tenang ke pangkuan Sang Khalik, membawa serta kerinduannya padamu... "
Haris terpana
"Saat itu kami tidak tahu harus mencari nak Haris kemana, saat itu bapak berfikir kamu sudah menyerah dan tidak akan mungkin kembali lagi, bapak sangat marah, kecewa, sedih. Tapi saat ini melihat kamu datang bahkan dalam keadaan lebih baik dan mampu melampaui syarat yang diberikan putri bapak, rasanya bapak sangat bahagia"
Laki-laki itu menyerahkan Al-Quran yang dipegangnya, "Rahma sudah tidak ada, kamu harus tetap melanjutkan hidup, ambilah Al-Quran kepunyaan Rahma ini sebagai kenang-kenangan, tetaplah hidup dijalan ini, bapak bangga padamu"

Kita tidak tahu rahasia umur, hidup dan mati adalah rencana Tuhan. Karena hidup berbatas, lakukan lah yang terbaik sampai batas itu tiba. Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, maka carilah bekal yang banyak selagi kita hidup. Hidup adalah nikmat pemberian Tuhan, maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan kau dustakan?